Jumat, 20 Mei 2011

Fitrah Manusia Makhluk Mulia

Fitrah Manusia Makhluk Mulia
Oleh: Doso Winarno

Fitrah manusia sebenarnya sebagai makhluk mulia, sempurna dan baik. “Fitrah manusia itu seharusnya dijaga dengan perilaku yang baik pula,” katanya. Hanya dalam kenyataannya, manusia selalu saja dalam kegelisahan karena persoalan hidup yang melilitnya. Fitrah sebagai manusia sempurna, tidak terjaga karena perilaku yang tidak terpuji.

Manusia senantiasa dililit permasalahan dengan jiwa yang selalu berontak. “Sikap berontak manakala tuntutan manusia tidak terpenuhi,” Manusia itu sendiri, selalu tergoda dengan kedudukan, kekuasaan dan ambisi jabatan. 


Fitrah manusia sering tidak terjaga karena ambisi dan nafsu bersifat duniawi semata.

“Sesuatu yang tidak dilandasi ibadah dan keiklasan, seringkali terjebak pada kepentingan sesaat,”
Salah satu ciri orang yang dirindukan untuk masuk surga adalah mereka yang mau memaafkan orang lain padahal ada kesempatan untuk balas dendam. Hal ini sangat bertentangan dengan sifat manusia yang selalu mendendam terhadap sebuah kesalahan dan sulit untuk memaafkan meskipun dalam rentan waktu yang cukup lama.

Ramadan momen yang tepat untuk latihan karena apa yang dilakukan oleh manusia dalam 30 hari ini akan menentukan kebiasaan mendatang. Kalau di bulan Ramadan banyak beristigfar dan memohon ampun pada Allah SWT bulan-bulan selanjutnya akan mudah minta maaf dan memaafkan orang lain. Salah satu sahabat Rasulullah SAW yang termasuk salah satu penghuni surga memiliki kebiasaan untuk menghapus dendam orang lain sebelum tidur serta memaafkan kesalahan orang lain sebelum orang yang bersangkutan minta maaf.


Kewajiban yang telah ditetapkan waktunya, semisal shalat dan puasa, jika memang dipenuhi syaratnya dapat saja diqadha’ pada waktu lain. Akan tetapi, dalam perspektif tasawuf, qadha’ tidak mungkin dilakukan di waktu yang lain. Sebab, di waktu lain, kita telah mempunyai kewajiban yang berbeda. Dengan ungkapa lain, setiap detik Allah swt telah mewajibkan amal perbuatan yang baru, yaitu kewajiban syari’at dan tugas qalbiyah bathiniah yang wajib dilakukan setiap saat. Intinya, di sepanjang waktu bergulir telah diisi denga tugas dan kewajibannya sendiri-sendiri. Oleh karena itu orang, seorang salik harus menunaikan segala kewajiban pada waktunya. Sebab pada waktu yang akan datang, tidak ada lagi kesempatan mengqadhanya (ibnu ’Ajibah, Iqazhul Himam, hal 282-283; An-Nafazi dan Asy-Syaqawi, Jil II, hal 37).
”Bagian hidupmu yang terlewat tidak dapa tergantikan, dan apa pun yang kamu petik darinya tidak ternilai harganya”

Waktu merupakan suatu kesempatan sekaligus usia seseorang. Artinya, usia bertindak sebagai kesempatan yang dimiliki seseorang untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Modal seseorang adalah usianya. Lewatnya usia berarti lewatnya kesempatan sekaligus penyusutan modal, dan apapun yang telah lewat tidak akan hadir kembali. Oleh karena itu, siapapun yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk melakukan amal kebajikan dinilai sangat beruntung. Sebaliknya, siapapun yang melewatkan usia tanpa guna dianggap sangat merugi. Waktu adalah surga, tapi waktu juga neraka. (Ibnu ’Ajibah, Iqazhul Himam, hal 283-284; An-Nafazi dan Asy-Syaqawi, Jil II, hal 37-38).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar