Minggu, 17 Agustus 2014

DEMOKRASI TERPIMPIN lebih menonjolkan keterpimpinan sang pemimpin.

Assalamu'alaikum wr wb,
Hanya dengan lingkungan hidup yang optimal, manusia dapat berkembang dengan baik, dan hanya dengan manusia yang baik lingkungan akan berkembang ke arah yang optimal!
Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.(Hadis riwayat Abu Hurairah ra.)
Do'a anak negeri untuk menjalin persaudaraan dan persatuan, hindari tren mengikuti model dan gaya hidup syaithan, karena Allah telah menjelaskan di ayat-Nya bahwa syaithan itu hanya memerintahkan untuk berbuat fahsya’ dan kemungkaran. Maka jika orang itu berakal tidak mungkin mengikutinya, tidak mungkin seseorang itu rela dan ridha untuk berbuat fahsya’ dan kemungkaran.
Dalam praktek DEMOKRASI TERPIMPIN lebih menonjolkan keterpimpinan sang pemimpin. Sesungguhnya, jenis demokrasi terpimpin yang tidak kita inginkan. Demokrasi ini tak mungkin dapat menggerakkan pembangunan berkelanjutan! Karena demokrasi terpimpin lebih menonjolkan keterpimpinan sang pemimpin.
KETAHUILAH BAHWA, Syaithan adalah musuh bagi kita semua, sebagaimana firman Allah ta’ala : ” Sesungguhnya syaithan itu musuh bagi kalian “ (Fathir : 6).
Allah ta’ala berfirman ”Maka jadikanlah dia (syaithan) sebagai musuh bagi kalian” Dan tidak mungkin orang yang berakal malah mengikuti musuhnya. Jika syaithan itu hanya memerintahkan kepada fahsya’ dan kemungkaran maka dia menjadi musuh bagi kita.
Sikap dan tindakan bersama sebaiknya menjaga, antara demokrasi dan pembangunan berkelanjutan terjadi umpan-balik sinergis yang saling mendorong dan memperkuat. Dan bukannya mengikuti jejak langkah syaithan. jauhilah syaithan, semakin dekatlah dengan sang Khalik.
Maka tidak masuk akal, bahkan bukan merupakan konsekuensi keimanan jika manusia mengikuti jejak langkah syaithan. Karena Allah ta’ala telah menjelaskan bahwa langkah-langkah syaithan memerintahkan untuk berbuat fahsya’ yaitu dosa-dosa besar dan mungkar yaitu semua perbuatan maksiat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar