Senin, 27 Oktober 2014

Becik ketitik, ala ketara

Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Assalamu'alaikum Wr Wb,
Setiap bibit yang ditabur pasti akan tumbuh?
Berasal dari bibit yang baik akan tumbuh tumbuhan yang baik.
Orang yang baik watak dan tabiatnya akan ketahuan kebaikannya, dan orang yang buruk perangai serta kelakuannya akan kentara keburukannya. Ungkapannya “Becik ketitik, ala ketara”.
Ungkapan ini ternyata mengajak kita agar senantiasa bersikap dan bertindak baik, sebab baik atau buruk kelakuan seseorang, akhirnya akan ketahuan. Setiap perbuatan buruk, bagaimanapun usahanya menutupinya, pada akhirnya akan ketahuan pula. Sebaliknya perbuatan baik, meski tidak disebarluaskan, pada akhirnya akan diketahui oleh umum.
Apabila memang tidak berbuat salah, siapa takut? Kebenaran akan membuktikan, baik buruk seseorang akan ketahuan juga. Kesalahan yang tidak dimaafkan ibarat besi yang berkarat dan semakin ‘karaten’. Unsur besi yang ada semakin habis terkena korosi, ulah hidrogen dan oksigen yang semula memang dibutuhkan dalam kehidupan. Disemprot, dipoles tetap korosi di bagian dalam besinya yang terkesan kukuh kokoh dan kuat padahal sudah keropos !
Inginkah negeri ini keropos di dalam, kelihatan gagah dari luar?
Wajar bila terjadi perbedaan pandangan, pendapat dapat berlainan sehingga timbul keadaan pertikaitan atau perdebatan awam berkepanjangan yang lazim disebut dengan 'Kontroversi', dan biasanya mengenai perkara pendapat atau sudut pandangan berkonflik. 'Kebenaran' yang akan membuktikan kontroversi yang tiada ujung pangkalnya.
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. QS:2 Al-Baqarah: 147.
Dalam menapaki kehidupan kita jumpai kalau tidak ada realita yang sebenarnya, yang ada hanyalah persepsi dan opini.
Untuk menghilangkan keraguan, agar jelas maka kontroversi itu perlu dikelola bukannya diredam dengan kekuasaan, sehingga menimbulkan kekecewaan dan memperkuat oposisi. Jika kekuasaan peredaman cukup kuat, peredaman dapat tercapai, kontroversi seolah tak ada lagi. Tetapi kontroversi itu sebenarnya belumlah selesai.
Pengelolaan kontroversi mensyaratkan adanya kesediaan para pihak untuk berembug, sehinggga dapat memberi informasi kepada pihak tentang kelebihan dan kekurangannya yang menjadi pokok masalahnya.
Tuhan senatiasa mengetahui setiap gerak-gerik dan tindak-tanduk bahkan isi hati setiap mahluk. Maka dari itu, tak akan ada gunanya orang menyembunyikan segala sesuatu. Kalau memang tidak bersalah, siapa takut? Takutlah pada yang membuat kehidupan ini, karena setiap perbuatan tentu akan diketahui-Nya.
فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS:2 Al-Baqarah: 209.
Mengelola kontroversi karena perbedaan persepsi ataupun perbedaan sudut pandang tidaklah mudah. Pengelolaan kontroversi dipersulit, apabila ada pihak yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Kesempatan ini yang sering dipergunakan pengaruh nafsu syaitan dengan memancing di air yang keruh.
Mengelola kontroversi itu perlu kesabaran, tenaga dan waktu, agar tidak terjadi kontroversi berkepanjangan yang melelahkan dan menambah biaya yang tidak sedikit.
Mengelola kontroversi hanya dapat berlangsung dengan sehat apabila ada demokrasi. Demokrasilah tulang punggung pembangunan berkelanjutan (Otto S,2008).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar