Rabu, 01 Oktober 2014

Hari Batik Nasional, kita maknai batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity

Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Assalamu'alaikum Wr Wb,
Batik kekayaan Adiluhung Bangsa Indonesia diakui negara lain, siapa takut?
Momentum Hari Batik Sedunia, kita maknai batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). 2 Oktober 2014,
UNESCO Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, yang secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia.
Apabila kita merasa takut kehilangan sosok budaya batik tulis, batik gedog,
seharusnya kita berlomba melakukan tindakan untuk saling memperkuat dan mempertahankan khasanah dan ragam budaya yang telah kita miliki. Kenapa musti takut?, sesungguhnya yang menakutimu akan kehilangan budaya adiluhung batik itu syetan yang menyelimuti dirimu yang tidak mau terbuka dengan persaingan dagang secara terbuka global mendunia.
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. QS:3 Ali Imran: 175.
Perlunya alih generasi pengrajin batik tulis, batik gedog pada generasi penerus bangsa semakin digalakkan dan ditumbuh-kembangkan agar kembali kukuh, kuat bercokol sebagai akar kekuatan budaya bangsa yang besar dan adiluhung. Bukankah kita justru bangga, bila hasil karya budaya batik tulis, batik gedog kita diperagakan di negara lain yang sebenarnya merupakan promosi kekayaan budaya asli Indonesia?
Bukankah ragam budaya di Indonesia yang melatar-belakangi sejarahnya masih mampu menangkap dengan baik pandangan pesimis tentang keampuhan budaya yang beraneka-ragam di tanah air? Persoalannya memang terkait erat dengan upaya pelestarian kerajinan batik tulis masing-masing daerah yang tetap mengacu pada makna simbolisme. Kekayaan peninggalan budaya batik tulis, batik gedog sebagai daya pikat untuk menarik banyak wisata dan pembeli. Seni budaya batik tulis yang bernilai tinggi sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi yang dapat didasarkan pada pariwisata.
Budaya kita terkenal “kuat” serta “tahan uji” dan tidak mudah terombang-ambing dipengaruhi oleh siapapun? Bukankah budaya kita merupakan budaya yang besar, adiluhung, ‘apengawak segoro’ berbadan samudra yang tidak mudah tergoyahkan oleh pengaruh budaya lain? Budaya batik tulis, batik gedog sebagai budaya bangsa yang adiluhung, perlu dilestarikan dan diwariskan pada generasi muda. Apabila keahlian membatik diturunkan sejak anak usia dini, artinya kecintaan seni batik dapat mengakar pada kehidupan masyarakat. Kebisaan mencintai seni batik tertanam, apalagi anak mengetahui proses dan arti motif batik yang keseharian digeluti karena terlibat dalam pebuatan atau mempergunakannya sebagai pakaian dan hiasan. Kuatnya warisan budaya batik tulis yang telah mengakar, namun tetap diliputi keindahan dan kecintaan pada seni batik milik bangsa yang tak ’kan mudah lapuk oleh hujan, dan tak ‘kan lekang oleh jaman.
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. QS:7 Al-A'raf : 26.
Kain batik yang indah dapat menutup aurat dan disandang untuk keanggunan serta kewibawaan, apalagi terukir indah dengan motif batik klasik yang pada mulanya selalu diciptakan dengan makna simbolisme, meskipun telah dimodifikasi dengan selera modern. Oleh sebab itu batik bukan semata-mata sebagai perwujudan “seni” untuk “seni”, atau sebagai pencurahan rasa “indah” saja. Tetapi hasil karya batik tulis, sesungguhnya dapat memberikan kesan lain yang lebih mendalam, yaitu kesan keindahan yang mendekatkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa dan Peri Kemanusiaan agar orang lebih Taqwa karena memakai pakaian Taqwa yang memberi kesejahteraan karena dengan ekonomi syari'ahnya omzetnya meningkat, memberi ketenteraman, kewibawaan dan kemuliaan serta memberi tanda status sosial bagi si pemakai. Nilai tinggi yang dikejar selaras dengan nilai mutlak apabila mengacu pendapat Baker SJ, (1984) bahwa, hanya nilai mutlak menjamin benarnya nilai-nilainya yang dikejar manusia. Nilai yang dikejar memang ada berwujud batik tulis klasik yang merupakan hasil karya bernilai tinggi dari wujud kerjasama dan toleransi dalam kebudayaan antara seni batik dan tradisi daerah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar