Kamis, 02 Oktober 2014

Laku menuju pemunculannya menjadi ‘wiji dadi'

Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Assalamu'alaikum Wr Wb,
Kita hidup ibarat sebagai wayang dalam suatu “lakon”, maka kita sudah harus menerapkan ‘laku’ menuju pemunculannya menjadi ‘wiji dadi’ yang mengharapkan kelahirannya kita manusia menuju sempurna sebagai Insan Kamil. Laku yang harus dilaksanakan dalam kehidupan diusahakan untuk selalu bertindak baik berlandaskan ibadah dan do’a untuk menghadapi kehidupan di akherat kelak yang lebih lama ‘langgeng’ setelah kematian menjemput kita
.
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
“dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. QS:2 Al-Baqarah: 4
Setiap pagelaran wayang menghadirkan kisah atau lakon yang berbeda.
Lelakon, penggalan-penggalan cerita dalam Dunia Wayang, penggambaran artistik dalam format wayang kulit atas kejadian-kejadian yang menjadi penyusun cerita secara keseluruhan.
Dalam lakon “wayang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah pertunjukan wayang dengan ragam lakon yang terdiri dari lakon pakem, lakon carangan, lakon gubahan dan lakon karangan.
Dialogis antara kenyataan lahiriah yang diterima dan kenyataan batiniah yang diharapkan terjadi, adalah sebuah ‘kasunyatan’ kenyataan dalam mengarungi kehidupan. Proses dialogis terjadi ketika dinyatakan ‘digelar, digulung’ hasilnya berada pada kata ‘manah’ atau ‘menggalih’.
Petuah mengenai nilai moral, spiritual dan sosial sehingga masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran tatwa, yadnya, etika. Oleh masyarakat kita dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan sehari-hari.
Hidup dapat terombang-ambing karena tidak punya pegangan yang kuat, tidak punya landasan keimanan yang kukuh kokoh kuat, sehingga mudah terpengaruh silaunya duniawi dan sangat mudah menjadi sasaran bujuk rayu syetan maupun iblis agar lebih terjerumus lagi menjadi teman siksaannya di neraka jahanam.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
"Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong". QS:2 Al-Baqara: 86
Kita harus berani menerima kenyataan hidup atau ‘nglakoni’, kemudian
bertanggung-jawab dengan cara ‘ngulah rasa’ yakni setelah dewasa dan ‘mrabawa’, yakni membawakan diri dengan yakin atau siap ketika harus menerima kenyataan saat lelaku.
Siapakah orang yang mau membawa dirinya menuju kepada kehancuran? Mereka adalah orang-orang melakukan maksiat yang berdosa, yang melanggar dan durhaka. Penyebab kehancuran sesungguhnya adalah banyak menghabiskan waktu untuk perbuatan dosa, menghabiskan waktu untuk selain ketaatan kepada Allah, menghabiskan harta pada hal-hal yang tidak disukai Allah. Allah berfirman setelah menyebutkan para Nabi:
وَلَا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar”. QS:16 An-Nahl: 94
Apakah kita mau mengamalkan perbuatan baik untuk kepentingan hidup bersama? Berbuat baik untuk orang lain bukan untuk mencari pujian, bukan mengharapkan sanjungan, melainkan kita jalankan dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih. Membina dan menggalang kerukunan, bersedia menolong orang lain yang memerlukan pertolongan, merupakan perbuatan ‘golek dalan padhang’ yaitu mengamalkan kebaikan untuk sesama hidup. Bukan sebaliknya, kita mencari jalan yang gelap ‘golek dalan petheng’ karena keinginan menghiasi kehidupan dunia dengan keberanian berlebih berlaku dzolim dengan sesama melakukan kejahatan, bersifat 'loba' bahkan lebih loba lagi, bertindak korupsi selagi kekuasan bisa digenggam tanpa mengingat siksa dan tidak ada yang ‘kan menolong. Mengejar kesenangan dunia dengan tahta, harta, dan wanita sehingga melupakan kehidupan akherat.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong”. QS:2 Al-Baqarah: 86
Lebih baik kita tempuh jalan dalam menapaki kehidupan ini seperti teori gabus (steorofoam) ‘Urip iku ngeli ning ora keli’, hanyut tapi tidak terhanyutkan, maknanya hidup harus memiliki patokan sebagai prinsip. Orang yang ‘ngeli ning ora keli’ merupakan orang yang mampu berada dalam keberadaannya secara bertanggung jawab. Ia mampu ‘nut jaman kelakone’ secara bertanggung jawab.
Proses menuju laku dewasa merupakan proses ‘wanti-wanti’ atau ‘wantu-wantu’ sejak dari kecil hingga dewasa yang selalu harus diingatkan berulang-ulang dengan ritual ibadah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar