Senin, 27 Oktober 2014

Mangasah mingising budi, ambasuh malaning bumi

Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Assalamu'alaikum Wr Wb,
Tawaran untuk ber-empati pada diri, mengenalkan pada suatu keadaan dengan merefleksikan pada diri sendiri akan menjadikan kita peka perasaan dan hati. ‘Empati’ sesuai dengan mengasah ketajaman hati dan pikiran. Sebuah filosofis Jawa “Mangasah mingising budi, ambasuh malaning bumi” (mengasah ketajaman hati, membersihkan keangkaramurkaan di bumi).
Bagaimana budaya dan lingkungan dapat kita integrasikan dengan ajaran agama? Hubungan ketiganya untuk memperkuat pemahaman tentang hubungan budaya, agama dan lingkungan dengan aktifitas keseharian masyarakat. Kekuatan mendasar terletak pada pegangan agama, hubungannya dengan kelestarian lingkungan yang diintegrasikan dengan hasil olah cipta, rasa dan karsa yang berupa budaya 'culture'.
Kita, manusia mahluk yang mulia diamanahkan melakukan kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar terhadap sesama. Mengajak mengerjakan kebaikan dan Mencegah perbuatan mungkar, agar kita tidak merugi waktu dalam menapaki kehidupan dengan kemantapan iman.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. QS: 103 Al-'Ashr: 3
Kini, bermunculan tekad menggali nilai kearifan lokal sebagai langkah strategis dalam upaya membangun karakter bangsa. Budaya yang digali dari kearifan lokal bukanlah penghambat kemajuan dalam era global, namun justru menjadi filter budaya dan kekuatan transformasional yang luar biasa dalam meraih kejayaan bangsa.
Tersirat dalam komitmen ber-empati, sebagai ajakan untuk menjaga, memelihara, atau menyelamatkan dunia beserta lingkungannya dan di lain pihak diperlukan kekuatan yang besar untuk bersatu kita teguh bercerai kita runtuh menuju Indonesia kertaraharja.
Kawal, dukung dan awasi para pemimpin kita agar tetap memihak rakyatnya. Ajak berjihad, pekikkan perjuangan dalam memerangi kemiskinan dan kebodohan. Ketahuilah bahwa 'jihad' paling utama, menyampaikan kebenaran di depan penguasa yang zalim dan kejam meski dia menanggung resiko hukuman yang amat berat, daripada mengorbankan rakyat jelata.
Terungkaplah, "Jihad paling afdhol ialah menyampaikan perkataan yang adil di hadapan penguasa yang zalim dan kejam". (HR. Aththusi dan Ashhabussunan).
Apabila kita melihat kemungkaran, hendaknya kita merubah dengan tangan kita, jika tidak mampu dengan lisan ucapan atau tulisan. Jika tidak mampu juga dengan hati, diam dan membenci dalam hati. Namun itu adalah selemah-lemahnya iman. Dengan hati ini artinya membenci dalam hati. Jika mampu dia akan merubahnya dengan lisan atau- pun tangan.
“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah. (HR. Muslim)
Untuk itu, mengamankan atau menyelamatkan ‘habitat’ lingkungan tempat tinggal kita dengan membuat dunia semakin rahayu dan lestari, telah terkandung dalam Sastra Gending melalui konsep “Hamemayu hayuning bawana” dengan pembersihan terhadap penyakit dunia atau “Hamemasuh memalaning bumi” serta terus mengasah ketajaman budi atau “Hangengasah mingising budi”.
Apabila niat baik telah kita jalankan misinya, seandainya seseorang mendapat hidayah melalui kita, maka itu pertanda sangat baik bagi kita. “Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam. (HR. Bukhari dan Muslim)
Terapkan niat kita bersama dalam babakan Indonesia baru menuju bangsa yang maju, bangsa yang memiliki karakter kuat. Nilai-nilai karakter yang digali dari khasanah budaya selaras dengan karakteristik masyarakat setempat (kearifan lokal) dan bukan “mencontoh” nilai-nilai bangsa lain yang belum tentu sesuai dengan karakteristik dan kepribadian kita.
Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga bisa mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi kemungkaran serta mengajarkannya kepada orang lain. Amien 3X

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar