Rabu, 29 Oktober 2014

Ngundhuh wohing panggawe

Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Assalamu'alaikum Wr Wb,
Seseorang yang berbuat tidak baik, kemudian mendapat akibat buruk dari perbuatannya itu?
Bisakah kita berbuat adil, berbuat dengan sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran?
Orang disebut adil apabila sesuai dengan standar hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku.
Barang siapa dapat “Ngundhuh wohing panggawe" dapat sebagai 'rem' bagi semua orang yang mempunyai kecenderungan berkelakuan buruk.
Sebagian besar kita akan takut berkelakuan tidak baik, karena merasa takut kelakuannya yang buruk itu dapat berakibat buruk bagi dirinya.
Dalam Al Quran, kata ‘adl disebut juga dengan qisth (QS: 49 Al Hujurat:9).
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. QS:49 Al-Hujuraat: 9
Bagaimana kita bisa berlaku adil?
Kita usahakan untuk selalu bersikap imparsial, suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran.
Sebaiknya bukan berpihak karena pertemanan, persamaan suku, bangsa maupun agama. Keberpihakan karena faktor tersebut bukan berdasarkan pada kebenaran dalam Al Quran yang disebut sebagai keberpihakan yang mengikuti hawa nafsu dan itu dilarang keras, tercermin dalam surat An Nisa berikut ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. QS:4 An-Nisaa: 135.
Dengan sangat jelas Allah menegaskan bahwa kebencian terhadap suatu golongan, atau individu, janganlah menjadi pendorong untuk bertindak tidak adil seperti tersirat dalam Al Maidah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
QS:5 Al-Maidah: 8.
Mengapa kita menganggap sikap adil itu penting?
Salah satu tujuan utamanya adalah membentuk masyarakat yang
menyelamatkan; yang membawah rahmat pada seluruh alam–rahmatan lil alamin tersirat dalam Anbiya. Ayat ini memiliki sejumlah konsekuensi.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. QS: 21 Al-Anbiyaa: 107
Sebaiknya kita sedapat mungkin bersikap adil dan jujur pada diri sendiri, kerabat dekat, keluarga, anak dan istri, tetangga. Kejujuran, keadilan menjadi penting, terutama terkait dengan masalah hukum seperti yang telah tersirat dalam QS An Nisa’ 4:135.
Sebegitu pentingnya bersikap adil, karena dalam melakukan penilaian, kesaksian dan keputusan hukum prakteknya berdasar pada kebenaran walaupun kepada diri sendiri, saat di mana berperilaku adil terasa berat dan sulit dirasa!.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar