Rabu, 29 Oktober 2014

Perbuatan riya namun bukan termasuk riya

Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Assalamu'alaikum Wr Wb,

Melakukan ibadah bukan untuk tujuan beribadah itu sendiri, melainkan tujuan duniakah atau selain Allah?
Mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah, atau mencari tempat di hati manusiakah?
Termasuk Riyakah perbuatan ibadah kita?
Apabila hati kita dan hanya berharap ridha Allah dengan menceritakan, menyebarkan kebaikan, dan kelak orang lain akan mengikutinya atau akan mencintai kebaikan yang ada didalamnya maka hal ini dibolehkan, bahkan dianjurkan selama jiwa kita bersih dari berbagai penyakitnya karena menjadikan orang mencintai kebaikan adalah suatu kebaikan.
Perbuatan riya namun bukan termasuk riya?.
Berikut hadist dari Abu Dzarradhiyallahu 'anhu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya, "Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia?: Beliau menjawab, "Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin " (H.R. Muslim 2642).
Riya berasal dari kata ru’yah (penglihatan), riya adalah ingin diperhatikan atau dilihat orang lain karena menginginkan kedudukan dan posisi di hati manusia dengan memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.
Dasar perbuatan riya adalah untuk mencari keridhaan Allah, penghargaan, pujian, kedudukan atau posisi di hati manusia semata dalam suatu amal kebaikan atau ibadah yang dilakukannya.
Apabila kita dalam beribadah menginginkan selain Allah. Kita ‘kan senang orang lain tahu atau melihat apa yang diperbuatnya, dengan promosi, ajakan yang berlebihan. Kita tidak menunjukkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan ini termasuk jenis nifaq. Selayaknya kita beribadah dengan tujuan dan keinginannya ikhlas karena Allah, namun ketika manusia melihat ibadahnya maka ia bertambah giat dalam beribadah serta membaguskan ibadahnya. Ini termasuk perbuatan syirik tersembunyi.
Niat ibadah yang disebarluaskan, apalagi membuat orang lain iri, dengki, menderita karena ulahnya. Padahal, pada awalnya ketika ibadah dilakukan sendirian dapat ikhlas karena Allah dan sampai selesai keadaannya masih demikian, namun pada akhir ibadahnya kelihatan kalau ingin dipuji oleh manusia dan ia merasa bangga dengan pujian manusia tersebut serta ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
Subbhanallah, hindari dan jauhkan kami dari niat, sikap, kelakuan, perbuatan riya ini ya Rabb. Syarat paling utama suatu amalan diterima di sisi Allah adalah ikhlas, bukan terpaksa atau dipaksa, bukan karena ikut-ikutan karena penilaian atau tidak berpatisipasi atas ajakannya. Tanpanya, tanpa keikhlasan amalan seseorang akan sia-sia belaka.
Inilah riya, karena yang kita lakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya.
Termasuk ke dalam riya' yaitu sum'ah, yakni melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan, sehingga pujian dan ketenaran-pun datang. Riya dan semua derivatnya merupakan perbuatan dosa dan merupakan sifat orang munafik.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy berkata, ”Rasulullah SAW pernah menemui kami dan kami sedang berbincang tentang Al Masih Dajjal. Maka beliau Rasulullah SAW bersabda, ”Maukah kalian aku beritahu tentang apa yang aku takutkan terhadap kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?’ kami menjawab, ’Tentu wahai Rasiulullah.’ Rasulullah SAW berkata, ’Syrik yang tersembunyi, yaitu orang yang melakukan sholat kemudian membaguskan sholatnya tatkala dilihat oleh orang lain,” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi). Pahala akan sia-sia dan tidak bernilai, karena beribadah mengharap pujian dari manusia, telah ditegaskan dalam firman Allah berikut ini.
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya,” QS.107 Al ma’un:4-6.
Syarat paling utama suatu amalan diterima di sisi Allah adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seseorang akan sia-sia belaka.
Riya ada dua jenis. Jenis yang pertama hukumnya syirik akbar. Hal ini terjadi jika seseorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia, dan tidak sedikit pun mengharap wajah Allah. Dia bermaksud bisa bebas hidup bersama kaum muslimin, menjaga darah dan hartanya. Inilah riya' yang dimiliki oleh orang-orang munafik.
Allah berfirman tentang keadaan kita apabila terjebak tidak tahu melakukan riya,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. QS:4 An-Nisaa: 142.
Ke dua, riya terkadang menimpa orang yang beriman. Sikap riya ini terkadang muncul dalam sebagian amal. Seseorang beramal karena Allah dan juga diniatkan untuk selain Allah. Riya' jenis seperti ini merupakan perbuatan syirik asghar (Mustafiid).
Hukum asal riya adalah syirik asghar (syirik kecil). Namun, riya bisa berubah hukumnya menjadi syirik akbar (syirik besar) dalam tiga keadaan berikut :
1. Jika seseorang riya kepada manusia dalam pokok keimanan. Misalnya seseorang yang menampakkan dirinya di hadapan manusia bahwa dia seorang mukmin demi menjaga harta dan darahnya.
2. Jika riya dan sum'ah mendominasi dalam seluruh jenis amalan seseorang.
3. Jika seseorang dalam amalannya lebih dominan menginginkan tujuan dunia, dan tidak mengharapkan wajah Allah. (Al Mufiid, 2007).
Agar kita terhindar dari perbuatan riya, solusinya kita biasakan mengetahui jenis amalan yang diperuntukkan untuk dunia dan mengetahui berbagai jenis riya serta faktor pendorong perbuatan riya. Berusaha mengetahui keagungan Allah Azza wa Jalla. Berusaha mengetahui apa yang telah Allah persiapkan untuk akhir kehidupan. Lebih takut dari beramal untuk kepentingan dunia,
إن شاء الله 'Išyāʾ Allāh" 'Jika Allah mengijinkan' atau 'Kehendak Allah'.
Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita melalui sabdanya, 'Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.' Lalu ada orang yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?' Rasulullah berkata, 'Ucapkanlah Allahumma inni a'udzubika an usyrika bika wa ana a'lam wa astaghfiruka lima laa a'lam ('Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui)."
Sufyan ats Tsauri rahimahullah mengatakan, " Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik" (Dinukil). Hanya kepada Allah kita memohon taufik. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar