Kamis, 30 Oktober 2014

Rupak Segarane

Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Assalamu'alaikum Wr Wb,

“Rupak Segarane”
Dua buah kata yang mengandung pengertian kontradiksi.
‘Rupak’ yang berarti sempit, dan
‘Segara’ yang berarti kumpulan air yang sangat luas, seluas samudera.
‘Rupak Segarane’ berarti laut yang menjadi sempit, hingga tidak mampu lagi menampung air dari sungai-sungai yang mengalir ke samudera.
Bila air sungai itu tidak dapat ditampung oleh laut, maka akan terjadi luapan air yang melanda daerah sekelilingnya.
Maksud dari ungkapan ‘rupak segarane’ ialah orang yang tidak mampu lagi memberi maaf kepada orang lain, karena berkali-kali kebijaksanaan atau kebaikannya disalah-gunakan atau dilanggar.
Sebaiknya manusia dalam menapaki kehidupannya, saat orang lain berbuat salah dan dosa yang terarah kepada kita, kita diajari untuk memaafkan. Saat kita berbuat salah dan dosa kepada orang lain, kita diajak untuk meminta maaf.
Kita hidup didaulat untuk memliki ‘kesabaran’ dan kemudahan ‘memberi maaf’, terutama atas dasar memahami kekurangan orang lain dan memahami persoalan orang lain.
Bagaimana semestinya kita menyikapi perilaku orang lain yang mengganggu kita? Jawaban pertama adalah kesabaran. Allâh ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِنَ اْلخَوْفِ وَاْلجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ
”Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kehilangan harta dan jiwa. Namun, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang yang apabila ditimpa musibah mengucapkan ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). QS;2 al-Baqarah: 155.
Terhadap kesalahan yang tidak disengaja (kulpa), atau hanya mimpi buruk yang disampaikan seyogyanya tidak segan-segan memberi maaf, bahkan terhadap kesalahan yang disengaja (alpa).
Memaafkan tidak hanya di bibir, tapi sampai di hati. Allâh ‘Azza wa Jalla melalui al-Qur’ân memberikan resep agar pemaafan tuntas, yakni memohonkan ampunan bagi mereka serta bermusyawarah.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ اْلمَتَوَكِّلِيْنَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allâh-lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. QS:3 Ali ‘Imron: 159.
Memberi maaf berarti juga memberi keluasan dan peluang untuk tidak berbuat lagi. Sikap yang demikian disebut ‘jembar segarane’, artinya ‘lautnya luas’, kebalikan dari ‘rupak segarane’.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selalu menyarankan agar mimpi buruk itu tidak diceritakan kepada orang lain, atau dilupakan. Maafkanlah daku.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penanya,
لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ
“Jangan kau ceritakan kepada orang lain kelakuan setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”.
Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan dalam salah satu khutbahnya,
لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ
“Jangan sekali-kali kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan diri kalian di alam mimpi” (HR Muslim 2268).
Dalam riwayat lain, beliau menjamin ketika seseorang melupakan mimpi itu, dan memohon perlindungan dari setan, maka mimpi itu tidak akan berdampak buruk baginya. Beliau bersabda,
وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ، وَلْيَتْفِلْ ثَلاَثًا، وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ
Apabila kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri 3 kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemudian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” (HR. Bukhari 7044, Muslim 2261, dan yang lainnya)
Bisa jadi mimpi buruk itu terwujud ketika seseorang berusaha menafsirkannya
Ketika menjelaskan hadis tentang mimpi buruk di atas, An-Nawawi mengatakan,
وأما قوله صلى الله عليه وسلم في الرؤيا المكروهة ولا يحدث بها أحدا فسببه أنه ربما فسرها تفسيرا مكروها على ظاهر صورتها وكان ذلك محتملا فوقعت كذلك بتقدير الله تعالى فإن الرؤيا على رجل طائر ومعناه أنها اذا كانت محتملة وجهين ففسرت بأحدهما وقعت على قرب تلك الصفة
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang mimpi buruk, agar tidak diceritakan orang lain, sebabnya adalah: terkadang ada orang menafsirkan mimpi itu dengan tafsir yang buruk sebagaimana yang digambarkan dalam mimpi itu, meskipun masih ada banyak kemungkinkan, kemudian tafsir buruk itu terjadi dengan taqdir Allah ta’ala. Karena mimpi yang dialami seseorang ibarat sesuatu yang terbang. Artinya, ketika mimpi itu memiliki dua kemungkinan makna, kemudian ditafsirkan pada salah satu maknanya, maka maka akan terjadi sesuai yang mendekati sifat tersebut. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 15/18).
Ternyata tidak ditemukan satu ayat pun yang seolah menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf.
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, QS:24 An-Nuur: 22
Pesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Barangsiapa enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar