Jumat, 10 Oktober 2014

Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”

Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Assalamu'alaikum Wr Wb,
I’tikat baik dapat mengalahkan segala-galanya, perlu diyakinkan!
“Keluhuran budi itu merupakan bekal hidup yang sangat tinggi nilainya”.
Siapapun ingsun, apabila dapat memiliki keluhuran budi, tentu memiliki kewibawaan yang tinggi, bagaikan menguasai ilmu yang tinggi.
Inti ajakannya, mendorong kita agar senantiasa beritikat baik dan berbudi luhur. Sikap demikian itu sangat tinggi nilainya, baik di dalam hidup bermasyarakat, bernegara, dan di dalam berorganisasi.
Ajakan berbuat baik ini apabila dipegang teguh secara konsekwen dan konsisten tersirat dalam ungkapan “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”.
Maknanya, bahwa segala sesuatu, bahkan maksud yang tidak baik, akan dapat dikalahkan oleh perbuatan baik. Kemarahan yang meluap, kerakusan, ketamakan, keinginan berkuasa dan menangnya sendiri akan dapat dikalahkan oleh orang-orang yang shaleh yang bersikap halus, hormat, rendah hati dan berbudi luhur.
ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻣِﻨَّﺎ ٱﻟﺼَّٰﻠِﺤُﻮﻥَ ﻭَﻣِﻨَّﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَٰﻟِﻚَ ۖ ﻛُﻨَّﺎ ﻃَﺮَآﺋِﻖَ ﻗِﺪَﺩًا
“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda”. QS: 72 Al-Jinn:11.
Bukankah lebih baik apabila kita tak pernah berfikir, bahwa hidup itu adalah persaingan? Bukankah sebaiknya kita selalu berpijak pada “benering bener” atau kebenaran sejati? Munculnya perbedaan pendapat itu wajar, tapi tidak saling fitnah, menyalahkan dan saling menjatuhkan. Anggapan diri paling benar itu belum tentu 'bener' dan juga bukan sekedar mencari benarnya sendiri. Akan tetapi sekaligus mencari 'pener', yakni tepat benar dalam tatanan praksis. Oleh kerena yang "bener" itu belum tentu diterima bila tidak 'pener' dan hal ini .terungkap dalam istilah "Bener Ning ora Pener"
Kita hindari merendahkan orang lain, lebih baik kita isi kehidupan dengan sikap
kesatria, kehidupan yang jauh dari keserakahan, takabur, tamak, rakus, loba dan ambisius. Kita hindari merintangi orang lain untuk mengemban amanahnya, namun sebaliknya kita dituntut aktif membantu orang lain untuk memperoleh keinginannya. Terutama mengatasi dan mencari solusi penyebab kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia kini justru lebih besar dibanding kerusakan akibat bencana alam.
Mengingat kerusakan yang dilakukan bisa terjadi secara terus menerus dan cenderung meningkat. Kerusakan ini umumnya disebabkan oleh aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Padahal pencapaian cita-cita hanya memuaskan fisik semata, namun mengalahkan ’dengki, iri hati, takabur, tamak, serakah, rakus, dan ambisius’. bukan kemenangan sejati. Kemenangan semacam itu adalah kemenangan tanpa mengalahkan orang lain.
وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ
“Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman”. QS:2 Al-Baqarah: 88

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar