Jumat, 14 November 2014

Manungsa iku kedunungan sifat apes’, manusia itu memiliki sifat lemah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kita manusia mempunyai kecenderungan ‘antroposentris-egosentris’.
Hati-hati terhadap anggapan yang tidak benar ini.
Kecenderungan ‘antroposentris’ merupakan kecenderungan yang berdasarkan anggapan manusia menduduki posisi sentral dalam alam semesta.
Kecenderungan ‘egosentris’ adalah kecenderungan yang berdasarkan anggapan bahwa diri sendiri menduduki posisi sentral dalam masyarakat dan alam semesta.
Padahal hidup, rejeki dan mati manusia secara mutlak ditentukan oleh Sang Maha Pencipta Allah SWT, sehingga Allah yang berada sentral, dan bukanlah kita manusia sebagai mahluk yang lemah, tidak berdaya dan penuh kekhilafan serta kesalahan.
‘Manungsa iku kedunungan sifat apes’, manusia itu memiliki sifat lemah.
Agar manusia yang memiliki sifat lemah itu mau menyerahkan diri kepada Yang Maha Esa, supaya dirinya mendapat kekuatan lahir dan bathin dari Allah SWT.
Agar kita manusia dapat diberi kemudahan dalam memaafkan orang lain yang sudah berbuat kesalahan dan dosa tetapi telah pula mengakui serta menyesali dosa dan kesalahan yang diperbuatnya itu.
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. QS:41 Fushshilat: 34.
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. QS: 41 Fushshilat: 35
Sebagai makhluk yang sangat lemah, baik fisik maupun psikologis maka menusia diberi kesempatan untuk memperbaiki kelemahannya tersebut.
Akal adalah kelebihan yang bisa digunakan manusia untuk menanggulangi kelemahannya dalam hal fisik. Meskipun secara fisik lemah, tetapi dengan akalnya manusia bisa menjadi makhluk yang paling kuat.
Sebagai mahluk yang memiliki sifat lemah lembut & cerdas, hanya saja manusia dapat dipengaruhi nafsu yang tidak baik yang telah mengotorinya, Kecerdasan yang dikelolanya secara strategis dapat menjadikan manusia menjadi sosok yang kukuh kuat.
Pemaaf adalah orang yang tidak mengambil haknya untuk menyakiti, mencaci maki, memusuhi orang lain yang telah menzhaliminya, meskipun ia sanggup melakukannya.
Orang yang bermurah hati seperti itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT pahala (kebaikan dunia dan akhirat). "

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”. QS:42 Asy-Syuura: 40
"Allah tidak menambah seorang hamba karena mau memberi maaf melainkan kemuliaan; dan tidaklah seseorang yang bersikap rendah hati di hadapan Allah melainkan akan diangkat oleh Allah derajatnya." (HR.. Abu Daud).
Memberi maaf juga termasuk sifat orang bertaqwa (QS.. Ali Imran:133), dan sekaligus merupakan manifestasi dari sikap meneladani sifat Allah yang Maha Penerima taubat, Pemaaf, dan Pengampun.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”, QS: 3 Ali Imran: 133.

Belajar memaafkan kesalahan orang lain sejatinya merupakan manifestasi dari seni menikmati hidup bahagia. Alangkah menderita dan tersiksanya, jika seseorang terus-menerus menyimpan rasa dendam kepada orang lain.
Alangkah sengsaranya jika hati diberati rasa emosi dan amarah yang tidak berkesudahan. Belajar memaafkan jauh lebih mulia daripada menunggu orang lain meminta maaf kepada kita. Karena itu, hidup ini akan lebih indah jika ungkapan tiada maaf bagimu diubah menjadi aku sudah maafkan semuanya.
Mengingat kebaikan orang lain dan mengubur kebaikan yang pernah kita lakukan.
Dengan begitu kita tidak akan sempat melihat keburukannya.
Kebaikannya akan menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang.
Secara psikologis orang yang memaafkan lebih beruntung dari orang yang dimaafkan.
Hati yang penuh maaf akan menjadi bersih dan bersinar, karena di dalam dadanya tidak ada tersimpan kebencian dan kekotoran jiwa serta penyakit hati, yang seringkali menimbulkan penyakit lainnya.
Kebenaran hanya milik Tuhan semata.
Justru yang terbaik bagi manusia menurut islam adalah memberi penerangan, mengajak kepada kebaikan dan memotivasi orang lain untuk kembali ke jalan yang benar.
Sedangkan keputusan untuk mengikuti ajakan kebaikan adalah hak pribadi masing–masing orang.
Sebagaimana diajarankan ‘laa ikrohafiddin’, tidak ada paksaan dalam agama.
Keimanan, keyakinan dan keteguhan hati dalam memegang prinsip kehidupan hanya Allah SWT atas manusia bukan diri kita.
wallahua’lam bishawab.
Subhanallah , wal Hamdulillah, wa Laailaahaillallahu Allahu Akbar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar