Senin, 17 November 2014

Sapa Wani Ngumbar Nesu, Bakal Rugi Karepe Dewe

Bismillahhir rahmanir rahim:
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hakikatnya, setiap orang mempunyai kadar kecerdasan dan kecenderungan ‘emosi’ yang berbeda satu sama lain.

Kita orang sering mengalami berbagai pengalaman yang menimbulkan berbagai 'emosi'. Keluarannya, berupa ungkapan kesedihan, kemarahan, kecemasan, keraguan, keputusasaan dan sebagainya yang seringkali muncul pada diri seseorang, bergaris-lurus dengan pengalaman atau realitas kehidupan yang ia hadapi.

Nafsu marah dilemparkan setan ke dalam hati kita manusia sehingga ia mudah emosi, dadanya membara, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, matanya melotot, tangannya gemetaran penuh emosional dan terkadang ungkapan dan tindakannya tidak masuk akal.

Dalam hadits disebutkan larangan untuk suka marah. Hobi marah ternyata tergolong orang yang banyak merugi, dijauhkan dari rejeki karena marah mengikuti emosi dan hawa nafsu, pengaruhnya membawa kerugian besar yang seharusnya dapat dipergunakan untuk berkarya, bertasyakur dan lebih bersyukur atas segala nikmat-Nya.

Akan tapi yang dipetik dari kemarahan meluapnya 'emosi kemarahan' yang menerus akan menjadi tidak produktif serta melelahkan sebab energi beserta pikiran yang terkuras dengan percuma tak berguna.

Di sinilah dia di pusaran hawa nafsu amarah penuh selimut setan yang terkutuk mencari celah dan peluang untuk mempengaruhi pikiran dan akal budi manusia menjadi emosi yang tidak nalar dan tidak masuk akal.


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” (HR al-Bukhâri).

Jariyah bin Qudamah rahimahullah sahabat dalam hadits ini yang meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia dapat menghafalnya serta mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu berulang-ulang, sedang Nabi tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejahatan, dan menahan diri darinya adalah pokok segala kebaikan.

Sekalipun sifat marah itu perlu ada pada diri seseorang, sebaiknya diarahkan kepada perkara yang pada tempatnya. Pengelolaan kemarahan perlu dikawal dengan akal yang sehat, bijaksana dan batasannya yang telah ditetapkan oleh syarak.

Inilah dia sikap pemarah yang dapat mengendalikan diri, yang adil lagi terpuji, mudah memberi maaf pada yang dimarahi dan bahkan mudah meminta maaf, ia merupakan ciri dari umat Nabi Muhammad SAW yaitu umat yang bersikap penuh kesederhanaan dalam semua perkara.
‘Sapa Wani Ngumbar Nesu, Bakal Rugi Karepe Dewe’, barang siapa berani berbuat marah, akan merugi dirinya sendiri.

Kita manusia tidak perlu melakukan tuntutan kenapa kita marah apabila marah terjadi?
Akan tetapi usahakan kita untuk tidak mengerjakan dan tidak melakukan apa yang diperintahnya.
Sebab, apabila amarah telah menguasai manusia, maka amarah itu yang memerintah dan yang melarangnya.

Makna ini tercermin dalam firman Allah Ta’ala.

وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الْأَلْوَاحَ ۖ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ

Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. QS:7 Al-A'raf:154.

Apabila manusia tidak mengerjakan apa yang diperintahkan amarahnya dan dirinya berusaha untuk itu, maka kejelekan amarah dapat tercegah darinya, bahkan bisa jadi amarahnya menjadi tenang dan cepat hilang sehingga seolah-olah ia tidak marah. Makna ini terdapat isyarat dalam Al-Qur`ân dengan firman-Nya Azza wa Jalla.

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. QS:42 Asy-Syuura:37.

Memberi dan bukan meminta maaf apabila dilakukan ternyata lebih baik menurut Allah yang mengatur kehidupan ini, meskipun dalam kondisi emosional. Apalagi permohonan maaf telah dilakukan, namun apa gunanya apabila pintu maaf tidak diberikan?
Bagaimana agar dapat menahan marah dan tidak membiasakan marah, telah jelas tersirat dalam firman-Nya Ta’ala.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. QS: 3 Ali Imran:134.

Sebaiknya apabila kita orang sedang marah untuk melakukan berbagai sebab yang dapat menahan dan meredakan amarahnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah dengan sabda: “Sungguh, aku mengetahui satu kalimat, jika ia mengucapkannya niscaya hilanglah darinya apa yang ada padanya (amarah). Seandainya ia mengucapkan,

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

(Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)". Para sahabat berkata, "Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Rasulullah?" Laki-laki itu menjawab, "Aku bukan orang gila". (HR al-Bukhâri; Fat-hul Bâri).

Allah Ta’ala memerintahkan kita apabila kita diganggu setan hendaknya kita berlindung kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Apabila setan datang mengodamu secara langsung atau mimpi buruk yang disampaikan, maka sesegera mungkin kita dapat berlindung kepada Allah, karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui tersirat jelas dalam firman-Nya.

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah” QS:7 Al-A'raf:200.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.

Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai. (Dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr)

wallahua’lam bishawab.

Subhanallah , wal Hamdulillah, wa Laailaahaillallahu Allahu Akbar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar