Rabu, 03 Desember 2014

Homo Homini Lupus

Bismillahhir rahmanir rahim:
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Manusia itu serigala bagi sesama manusianya ‘Homo Homini Lupus’ kalimat berbahasa latin yang berarti kekejaman yang dapat dilakukan manusia bagi sesamanya.
Sebagai perlawanan dari istilah itu munculah istilah ‘Homo Homini Socius’ yang berarti manusia adalah teman bagi sesama manusianya, atau manusia adalah sesuatu yang sakral bagi sesamanya.
Kita manusia tak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain yang ada di habitat tempat hidup. Saling keterikatan, selalu hidup bersama dan berdampingan dengan manusia lainnya dari sejak lahir. Saling terhubung dengan manusia lainnya dan saling membutuhkan antara manusia satu dengan yang lainnya .
Etika perlu kita miliki dalam berinteraksi antara yang satu dengan lainnya. Berbekal perilaku yang tertanam saat dilahirkan, dari perilaku tersebut nantinya akan berkembang selaras dengan pertumbuhannya.
Sewaktu-waktu kita manusia juga dapat berubah menjadi buas seperti serigala jika dalam diri terdapat rasa tidak puas, iri, benci dengan manusia lainnya dikarenakan manusia tersebut malas dan tidak mau berusaha untuk sesuatu yang ia inginkan. Dalam hal ini manusia melakukan perbuatan keji, brutal bernafsu binatang tak lain karena ambisi dan hawa nafsu yang tidak dilandasi dengan iman dan taqwa sebagai pegangan hidup yang benar, sehingga kita dapat melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan dalam bermasyarakat.
Perbuatan manusia dapat melebihi kebuasan binatang, karena dipengaruhi syaitan, kebencian kedengkian, dendam kesumat, membabi buta, brutal, rakus melebihi serigala buas.
Padahal kita orang hanya menyamai, mirip gerakan binatang dalam keseharian saja gerakannya dilarang oleh Allah, apalagi gerakan sholat mirip seperti atau menyamai binatang sangatlah dilarang apalagi berbuat kejam dan bengis melebihi binatang.
Kejadiannya saling sikut-menyikut, saling injak-menginjak, saling tendang-menendang, saling fitnah-memfitnah, saling melukai bahkan mencekik, membunuh, memperkosa, merampas, merampok, mengambil hak orang lain, menganiaya adalah bukan hal yang lumrah, sungguh tidaklah terpuji.
Ketika punya niat tidak baik saja sudah terlarang, baru punya keinginan untuk ingin memiliki hak orang lain sudah berdosa, apalagi kita beranjak berbuat merampas maupun merampoknya.
Asal-muasalnya berawal dari emosi tak terkendali, mudah tersulut emosi kita, mudah marah yang seharusnya marah itu dapat dimanfaatkan menjadi marah yang bermanfaat serta terkendali, bukan amarah yang dilandasi hawa nafsu tapi ada itikad baik untuk merubah suatu kesalahan yang ada. Sebaiknya amarah adalah marah yang tidak memperuncing masalah. Mulainya dari mengekang hawa nafsu, kendali diri, tidak tamak tidak rakus tidak loba' tidak dzolim.
Perbanyak dzikir, tingkatkan ibadah, perbanyak ibadah sunnah, perbanyak amal dan shodakoh, suka menolong dan penuh kasih sayang.
Pijakan yang dapat kita acu dalam menapaki kehidupan ini tak lain dari ayat Az-Zukhruf 32 berikut ini.
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. QS: Az-Zukhruf: 32.
Perlu kiranya kita untuk ‘Tawadlu’ yaitu kerendahan hati itu tidaklah menambah seseorang kecuali kemuliaan dan ketinggian, karena rendah hatilah kamu sekalian, Allah SWT pasti akan memuliakanmu. (Hadist Muhtaar Ahaadits.73).
Fenomena yang kita hadapi itu bila terjadi kemunduruan ahlak, terjadi degradasi moral; kehilangan pijakan batas yang ‘haq’ dan ‘batil’ kian tipis saja. Adanya keraguan untuk ber-amar ma’ruf nahi mungkar alias sering berprasangka buruk terhadap siapa saja, bahkan terhadap teman hidup sekalipun dalam bahtera rumah tangga. Sering terjadi terhadap teman kencan atau yang semula kekasih hati atau tunangan sekalipun, sering terjadi perbuatan keji dan kejam yang tentu diikuti syaitan yang terkutuk sangat besar mempengaruhinya.
Munculnya kesenjangan yang menjadi sajian setiap hari, antara apa yang kita harapkan dengan apa yang benar-benar terjadi. Antara apa yang kita tuntut dengan apa yang kita sumbangkan. Antara apa yang kita janjikan dengan apa yang kita berikan. Antara apa yang kita gembar-gemborkan dengan apa yang kita amalkan.
Kebersamaan, Tawadlu’ rendah hati, persatuan, kasih sayang dan keluhuran budi merupakan perbuatan yang dapat mencegahnya. Manfaatkan kelebihan masing-masing, adanya tindakan saling mengisi kesalingtergantungan yang sinergis merupakan tantangan yang perlu kita kembangan dalam era persaingan ini.
Kita perlu optimis, yakin dapat bersatu kita teguh, bahu membahu, bersama-sama bekerja dan berkarya untuk keluar dari krisis. Marilah kita simak lebih lanjut ayat Al-'Ashr berikut ini.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”,
Ayat ini memiliki dua tau’kid (penguat) yaitu; inna (yang artinya sesungguhnya) dan la taukid (dalam la-fi yang artinya benar-benar atau sungguh).
Al-insana, artinya manusia (itu), di sini ada al ma’rifah (al) yang memiliki fungsi sebagai al lijinsi (menyeluruhkan, mengglobalkan). Jadi al-insana artinya: seluruh/semua manusia.
Sesungguhnya seluruh manusia 'tanpa terkecuali' itu benar-benar dalam kerugian.
Bagaimana kita akan berusaha untuk membebaskan diri kita dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat Al-'Ashr, dengan lebih beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran dengan kewajiban berdakwah dan saling menasehati agar bersabar?
Allah akan memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keimanan, amal shalih, kegiatan saling menasehati agar menegakkan kebenaran kewajiban 'berdakwah' dan saling menasehati agar bersabar, sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia dan di akhirat kelak.
“Wa ‘alaihis salam wa rahmatullah wa barakaatuh"




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar