Selasa, 23 Desember 2014

“Lila Lamun Ketaman, Kelangan Ora Gegetun”

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Lebih baik siap kecewa dari pada kecewa beneran.
Kita tidak perlu merasa takut menghadapi segala macam percobaan hidup, betapapun berat penderitaannya.
Kita orang tidak perlu merasa takut kehilangan bila suatu waktu kita harus kehilangan barang milik yang kita sayangi.
Sahdan, dalam menapaki perjalan hidup ini kita orang niscaya tidak mungkin dapat ingkar dari kenyataan, bahwa sekali waktu akan menghadapi percobaan dan mengalami kehilangan.
Kita manusia yang hidup di dunia ini tak akan pernah luput dari cobaan. Dengan cobaan itu dapat diketahui sampai sejauh mana kualitas iman kita kepada Allah SWT.
Kiranya kita tak perlu berkecil hati jika suatu saat kita mendapat cobaan dari Allah SWT.
Putus asa dan terjebak dalam duka yang tak berkesudahan bukanlah sifat seorang muslim. Seorang muslim hendaknya senantiasa optimis dan berpikiran positif. Berbaik sangka kepada yang telah memberikan cobaan, yaitu Allah SWT merupakan jalan terbaik yang patut kita pelajari dan ambil hikmahnya.
Untuk itulah, mari kita belajar untuk lebih siap kecewa, dari pada kecewa beneran, agar di dalam menghadapi kenyataan semacam musibah, kita harus bersikap rela atau ikhlas, tanpa penyesalan, lebih-lebih penyesalan yang menjurus ke arah patah semangat atau putus pengharapan.
Cobaan hidup ini memang terkadang terasa sangat berat, sehingga banyak sekali kita manusia yang merasa sangat menderita manakala mendapatkan cobaan dari Allah SWT.
Bersikap rela meski menghadapi percobaan atau penederitaan, rela meski dilukai hatinya atau dihina, dan tidak menyesal kehilangan semua barang milik yang disayangi, serta tidak segan-segan mengikhlaskan jasa baiknya kepada orang lain.
Pangkal dari masalah kita sebenarnya bukan masalah itu sendiri, tetapi bagaimana cara kita dapat menyikapi dan menerima dengan rela serta ikhlas cobaan yang Allah ujikan pada kita orang. “Lila Lamun Ketaman, Kelangan Ora Gegetun”
‘Ketaman’ dalam arti menderita atau menghadapi percobaan. Dapat pula berarti mengalami akibat buruk dari perbuatan orang lain, seperti difitnah atau dilukai hati ini sampai sakitnya di hati ini. Kita orang harus siap kecewa, harus dapat menerima semua dengan rela dan ikhlas.
‘Kelangan’ dalam arti kehilangan barang milik, atau kesayangan. Dapat pula diartikan kehilangan rasa, bahkan jasa baik seseorang kepada orang lain. Kita harus menerimanya dengan rela dan ikhlas pula karena telah siap dengan kekecewaan.
Menerima akibat buruk dari perbuatan orang lain, menerima ejekan, cemoohan, fitnah, bialaman perlu kita dapat bersikap rela dan ikhlas, tidak mudah terpancing emosi, tidak terpancing marah atau terdorong nafsu untuk membalas dendam. Inilah dia yang dimaksud ungkapan ‘Lila Lamun Ketaman’.
Kita orang sering merasa merana, menderita bukan karena kenyataan yang terjadi tetapi sesungguhnya karena tidak bisa menerima kenyataan tersebut.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi´ar-syi´ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. QS:22. Al-Hajj, 32.
Agungkan syi’ar Allah SWT dengan ketaqwaan, ringankan kita untuk mengamalkan perbuatan baik atau jasa demi kesejahteraan hidup orang lain. Tidak menghitung-hitung jasa baik kita kepada orang lain, dan bilamana perlu tidak menuntut imbalan dari jasa kita kepada orang lain. Upayakan kita tidakm pernah merasa rugi apabila kita berbuta baik untuk orang lain.
Inilah dia, yang dimaksud dengan uangkapan ‘Kelangan Ora Gegetun’.
Dengan sikap dan perilaku yang demikian, tentu terjaga kerukunan, tenggang rasa, gotong-royong, dan tolong-menolong.
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. QS:4. An-Nisaa, 79.
Terkadang kita lalai dalam mengevaluasi diri kita setelah tertimpa masalah/musibah. Kita cenderung mengedepankan emosi serta mencari-cari kesalahan orang lain. Kita harus ingat bahwa sebagai manusia, kita tidak pernah luput dari dosa. Cara untuk menghilangkan/megurangi dosa tersebut tentu dengan bertaubat.
Cobaan hidup yang kita jalani sebagai pengingat jikalau hidup kita hanya sebentar saja, meskipun kita jauh merantau di negeri orang. Dengan cobaan itulah, Allah SWT senantiasa mengingatkan manusia bahwa mereka itu adalah makhluk yang lemah, tiada daya dan upaya kecuali atas izin dan kehendak Allah SWT. Tidak ada yang patut kita banggakan atau disombongkan.
Rasulullah SAW telah bersabda “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari 6053)
Hadits ini jelas sekali mengingatkan umat Islam bahwa hidup ini hanyalah ibarat sebuah perjalanan, yang suatu saat pasti akan berakhir atau mencapai tempat tujuannya, yaitu kampung akhirat.
Dengan adanya cobaan, maka umat muslim akan senantiasa diingatkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kuat dan tidak ada pula yang abadi. Semua akan kembali kepada Allah SWT.
Dalam menghadapi berbagai masalah kita orang perlu selalu ingat jikalau tidak ada satupun masalah yang tidak ada solusinya. Salah satu jalan utama untuk mendapatkan jawaban dari masalah kita adalah dengan bertaubat.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un انا لله وانا اليه راجعون adalah potongan dari ayat Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156. Isi penuh ayat tersebut adalah:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun". QS:2.Al-Baqarah,156.
Bacalah "istirja" atau "tarji". Istirja' apabila kita orang sedang tertimpa musibah dan biasanya diucapkan apabila menerima kabar duka cita seseorang. Kita yakini bahwa Allah adalah Esa yang memberikan dan Dia jugalah yang mengambil, Dia menguji umat manusia. Oleh karenanya, kita serahkan diri kepada Allah SWT dan bersyukur kepada Allah atas segala yang kita terima. Dalam menghadapi cobaan kita orang perlu untuk lebih bersabar dan menyebut ungkapan ini saat menerima cobaan atau musibah.
Pada hakekatnya kita orang perlu sering untuk instropeksi terhadap kesalahan diri kita sendiri dan janganlah dibiasakan melihat atau mencari kesalahan orang lain.
Tidak mudah memang, dapat berlaku rela mengorbankan kepentingan pribadi demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat, rela mengorbankan kepentingan suku bangsa atau golongannya demi kerukunan dan kesatuan hidup berbangsa dan bernegara, belajar mencapai kesempurnaan hidup.
Diriwayatkan dari ‘Ali bin Al Husain, dari kakeknya Rasulullah SAW, ia bersabda,
ما من مسلم يصاب بمصيبة فيتذكرها وإن تقادم عهدها فيحدث لها استرجاعا إلا أعطاه الله من الأجر مثل يوم أصيب بها
“Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un) melainkan Allah akan memberinya pahala semisal hari ia tertimpa musibah” (Hadits riwayat oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Kitab Al Bidayah wan Nihayah, 8:221 oleh Ibnu Katsir).
Cobaan hidup yang menimpa kita orang merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT kepada umat-Nya. Dan itulah salah satu wujud indahnya berada di dalam naungan keimanan dan ketaqwaan.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR. At Tirmidzi 2398, Ibnu Majah 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah, 143).
Wallahu a’lam bish-Shawab.
“Wa ‘alaihis salam wa rahmatullah wa barakaatuh”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar