Rabu, 28 Januari 2015

Adigang, Adigung, Adiguna

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kita sebagai manusia, sebaiknya tidaklah mengandalkan dan menyombongkan kelebihan yang kita miliki.
Mengunggul-unggulkan atau menyombongkan keelokan badan atau wajah, kecantikan, kebagusan, ketampanan, menyombongkan besarnya tubuh atau garis keturunan, menyombongkan ilmu atau pengetahuannya, dan menyombongkan kelihaian bicara atau merdunya suara.
Adigang: Kekuatan; Adigung: Kekuasaan; Adiguna: Kepandaian.
“Adigang, Adigung, Adiguna”. ngendelake kakuwatane, kaluhurane lan kapinterane.
Dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut kurang lebih berarti: mengandalkan kekuatan, jabatan, dan kepandaian.
Lebih baik besifat dan berlaku tidak sombong dan angkuh, karena di atas langit masih ada langit dan di bawah tanah masih ada tanah. Laku hidup kita telah dituntun dengan seksama denga firman-Nya dan maha benar firman Allah SWT.
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. QS:17 Al-Israa': 37.
Apabila sifat dan kelakuan kita dapat menjadikan amal saleh yang kita rintis menjadi rusak dikarenakan rasa bangga pada diri sendiri, merasa cukup dengan itu dan bersikap sombong.
Penyakit yang berbahaya yang dapat merembes masuk untuk menjadikan jiwa manusia ternodai ini dapat menghancurkan amal saleh kita. Bahayanya dapat masuk ke ranah syiri’ khafi (samar) kepada Allah SWT.
إِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. QS: Al-Baqarah: 206.
Apa yang kita lakukan sepertinya baik, niatnya baik dan sepertinya amalan secara syariat di Jalan Allah, tapi karena manusia yang masih butuh pengakuan dan tanpa sadar ria’ serta keangkuhan yang dimunculkan, terjadilah tindakannya menjadi congkak, pongah yang tak kelihatan akan tetapi Allah Maha Mengetahui.
لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. QS: An-Nahl 23.
Penggambaran ‘kepongahan’ multidimensi seseorang, pengusaha, penguasa, pemimpin informal maupun formal, termasuk pejabat negara dan pemerintah. Adigang berarti membanggakan kekuatan, adigung: membanggakan kebesaran atau keagungan (termasuk kebesaran harta benda atau kekayaannya) dan adiguna membanggakan kepandaian.
Keangkuhan yang muncul, tanpa kita sadari ternyata dapat menyinggung, menyakiti, membuat orang lain tidak suka karena tersakiti, karena kemiskinannya yang tak tampak, karena orang lain tak mampu secara fisik dan finasial, tak dapat mengimbangi kemampuannya.
Sepertinya kita orang telah dikunci mati hati kita oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu dengan segala kepongahan.
Meskipun demikian, apakah hati kita tanpa mata tak melihat dan mati kaku terkunci oleh nafsu aluamah, mutmainah, sufiah dan fatonah seperti telah difirmankan. QS. Muhammad: 16.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّىٰ إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ
"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "Apakah yang dikatakannya tadi?" Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka".
Manusia yang berprinsip adigang, adigung, adiguna pada umumnya akan menggunakan segala kelebihan yang dimilikinya untuk mencapai cita-citanya. Terlepas dari sifat baik dan buruk perilaku yang dikerjakan oleh manusia tersebut, prinsip adigang, adigung, dan adiguna mewakili karakter cerdas, pekerja keras, bijaksana, dan pantang menyerah.
Kecongkakan, keangkuhan, kepongahan, kesombongan, apabila kita merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia, pandai, mampu atau kaya padahal belum seberapa dihadapan-Nya.
Keserakahan, ketamakan, nafsu ambisius kita, didorong hawa nafsu sangatlah mudah dipengaruhi oleh syaitan yang menyesatkan.
"dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”. QS. Shad 26.
Dalam bahasa Sunda ‘adigung-adiguna’ berarti takabur sekali, sangat sombong. (Kamus Lengkap Sunda-Indonesia, Indonesia-Sunda, Sunda-Sunda, Drs. Budi Rahayu Tamsyah, CV Pustaka Setia, Bandung, 2003).
Meskipun kita telah bekerja dengan lelah dan bersungguh-sungguh untuk melaksanakan amal saleh, kemudian penyakit sombong datang padanya, maka saat itu pula menghancurkan amal salehnya. Kita sudah diperingatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya. “Adapun amal-amal yang membinasakan adalah berprilaku kikir, mengikuti hawa nafsu dan membanggakan diri”. (HR Thabrani).
Sunan Pakubuwana IV menuangkan ungkapan kuna tersebut dalam tembang Gambuh dua pupuh (bait) untuk membandingkan ketiga sifat dengan perilaku binatang dan dampaknya,
Wonten pocapanipun,
adiguna adigang adigung,
pan adigang kidang adigung pan esti
adiguna ula iku,
telu pisan mati sampyuh.
Si kidang ambegipun,
ngendelken kebat lumpatipun,
pan si gajah ngendelken geng ainggil
si ula ngendelken iku,
mandine wisa yen nyakot.
Mengacu Serat Wulangreh karya Sri Sunan Pakubuwana IV, pada Pupuh gambuh bait ke 4-10. Pada bait ke 4 di bawah, disebutkan bahwa Sifat Adigang diwakili oleh "Kijang", Adigung oleh Gajah (esthi) dan Adiguna oleh ular.
Adigang bagai kijang (rusa) yang membanggakan lompatannya. Adigung bak gajah yang berhobi pamer tinggi dan besar tubuhnya. Sedang adiguna seperti sifat ular yang bangga atas keampuhan bisanya yang mematikan. Raja Surakarta abad XIX itu mengungkapkan, ketiga sifat itu mengakibatkan kehancuran (sampyuh). Tentunya juga bagi pelakunya.
Bait ke 4 terjemahannya sebagai berikut: Adalah sebuah kisah; Adiguna adigang adigung; Kijang adalah adigang dan gajah adalah adigung; Adiguna adalah ular; Ketiganya mati bersama (sampyuh) Copy and WIN : hhttp://bit.ly/copynwin
Jadi perilaku adigang, adigung, adiguna, merugikan bagi pelaku dan mendatangkan penderitaan bagi yang menjadi objek perilakunya. Paling tidak perilaku ini menjadikan suasana kehidupan orang lain atau masyarakat sekitarnya menjadi kurang nyaman.
Kita sebagai orang lebih baik berlaku tidak sombong dengan mengandalkan kekuatan, kekuasaan dan kepandaian. Karena hanya akan “ngunduh wohing panggawe”.
Hal ini dapat dilihat pada bait ke 11 yang terjemahannya kurang lebih: Ketiganya tidak pantas; Kalau ditiru malah jadi salah; Tanda-tandanya orang muda kurang bisa menjaga rahasia (wong anom kurang wewadi); Senang kalau banyak orang memuji-muji (bungah akeh wong anggunggung); akhirnya terjerumus (kajalomprong).
Salahkah seseorang membanggakan kelebihannya? Tentu saja tidak selama tindakannya tidak menyebabkan pihak lain terganggu, dirugikan bahkan menderita, melecehkan hukum dan norma-norma yang berlaku. Apabila si pelaku tidak mau sadar, tanpa memperhatikan situasi dan paradigma yang berlaku kini di sini, tetap memperagakan ketiga sifat itu, bisa saja berurusan dengan hukum.
Untuk itu, memilih calon pimpinan tidaklah diserahkan kepada yang tidak mau, maupun mereka yang ambisi, karena yang berambisi umumnya memiliki motivasi lain, seperti aji mumpung. Sifat aji mumpung bertentangan dengan dharma seorang pemimpin. Ia harus rendah hati, bijak, adil dan ber budi bawa leksana.
Hal itu diungkapkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Witaradya, bahwa seorang raja yang besar, watak narendra gung binathara, mbaudhendha hanyakrawati, kutipan berikut: Dene utamaning nata, berbudi bawa laksana, lire ber budi mangkana, lila legawa ing driya, hanggung hanggeganjar saben dina, lire kang bawa laksana, hanetepi ing pangandika.
Agar kita orang bertakwa kepada Allah. Jalankanlah setiap perintah dan jauhilah segala larangan Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya dengan takwa kepada-Nya Anda dapat menggapai sukses sejati, di dunia hingga ahirat.
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا131) [النساء: 131
“Dan hanya milik Allah-lah segala yang di langit dan di segala yang di bumi. Sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang telah diberi al Kitab sebelum kalian, dan juga kepadamu agar bertakwa kepada Allah. dan jikalau kalian kufur (ingkar) maka sesungguhnya segala yang di langit dan di bumi hanyalah milik Allah. dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” QS; An Nisa 131.
Kita sbagai orang apabila berlaku sombong, tidak ‘kan pernah merasa bila menyinggung, menyakiti, mendzolimi orang lain karena cara pandang dirinya yang merasa ‘superior‘ dengan kepuasan dan kebanggaan atas kemampuan dan prestasi yang belum seberapa dibanding kebesaran-Nya. Ia tidak melihat dirinya dari sisi kekurangan. Ketika manusia telah merasa puas dengan dirinya sendiri, maka jiwanya akan dituntun untuk mengikuti apa saja yang ia sukai.
Wahai Muhammad apa pendapatmu tentang orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah menyesatkan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah memateri (mengelas/mengunci mati) pendengaran mereka, hati mereka dan memasang tabir (tutup) di depan penglihatan mereka. Karena itu siapakah yang dapat memberikan petunjuk kepada mereka selain Allah? Mengapa orang-orang kafir itu tidak mau berpikir?
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? QS:Al-Jaatsiyah 23.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar