Senin, 26 Januari 2015

Melok nanging ojo nyolok.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Biarlah kelihatan, tetapi tidaklah sampai keterlaluan, tidaklah berlebihan.
‘Melok nanging ojo nyolok’
Melok nanging ojo nyolok; Maksudnya, boleh saja perilaku selalu tampil beda, tapi jangan terlalu mencolok.
Melok (tampak) adalah wajar, sedangkan nyolok (terlalu tampak), sudah berlebihan.
Hal ini mengandung nilai positif, bahwa orang hidup dalam kewajaran atau kesederhanaan.
Hidup tidak bersikap menonjolkan kelebihan kita, kelebihan dalam bidang kekayaan, bidang kepandaian, bidang wewenang dan kekuasaan.
Sikap yang menonjolkan kelebihan diri itu dapat menimbulkan rasa ‘ewa’ (kurang senang) dari orang lain.
Bercerminlah kita orang, agar tidak menonjolkan kelebihan diri, untuk itu lebih baik kita simak Firman Allah dalam Al-Qur'an tentang adanya sifat kita manusia yang ‘LEMAH’.
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. QS:An-Nisaa 28.
Agar, kita orang sebaiknya tidaklah berlaku suka membusungkan dada, besar kepala, congkak, bongah, menyombongkan diri ketika merasa berprestasi, dititipi kecantikan, kegantengan, kejayaan, kekayaan, karena sok pamer, kesombongan akan mendatangkan masalah dan merugikan diri sendiri, dijauhi tetangga, teman, saudara 'sanak kadang'.
Bolehlah kita senang, bolehlah kita bangga, tetapi kesenangan atau kebanggaan itu tidak perlu dipamer-pamerkan, karena akan mendatangkan rasa tidak senang pada orang lain, yang jangan-jangan kemudian dapat mendatangkan masalah.
Orang yang bersikap menonjolkan kelebihannya, oleh masyarakat di sekitarnya lalu dikatakan ‘ngewak-ewakake’ (membuat ewa). Aja Ngewak-ewakake (jangan bersikap atau bertingkah laku merugikan orang lain).
Padahal yang terjadi kita orang sebagai manusia itu .....masihkah suka berlebih-lebihan? Maksudnya, agar kita manusia tidak melampaui batas dalam menapaki kehidupan di dunia ini..
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. QS:Yunus12.
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, QS:Al-'Alaq 6.
Gaya hidup berlebihan, berlimpah harta kekayaan, tahta dan wanita, akan menjadikan kita orang lupa diri, lupa daratan lupa anak, lupa cucu, lupa tetangga, lupa teman "linak-litu-linggo-lico".
Sebaiknya kita orang tidaklah merasa tidak senang terhadap kelebihan orang lain. AJA EWA MARANG KALUWIHANING LIYAN
Aja : jangan, Ewa : merasa, Kaluwuhaning : kelebihan, Liyan: orang lain.
Sebaiknya kita orang tidaklah merasa tersaingi atau bersikap tidak senang terhadap kelebihan orang lain. Dengki terhadap kelebihan orang lain menjurus pada sikap sirik. Sikap ini bisa menciptakan suasana permusuhan dan dapat merugikan diri sendiri.
Kita orang sebaiknya bercermin pada diri kita sendiri atau introspeksi pada kemampuan yang ada pada kita sendiri. Seseorang di antara kita orang tidak perlu merasa cemburu atau bersikap dengki terhadap kelebihan orang lain. Sikap yang demikian adalah sikap buruk dan tak terpuji.
Hidup bermasyarakat dan kekurangannya masing-masing. Karena itulah kelebihan orang lain harus diakui sebagai karunia Alloh.
Untuk kita ketahui dan kita syukuri kehidupan ini, dikarenakan kita manusia itu SUKA MENGKUFURI NIKMAT.
وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا ۚ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ
Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). QS:Az-Zukhruf 15.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, QS:Al-'Aadiyaat 6.
Kita orang sebaiknya berpegang pada prinsip hidup bahwa manusia ini pada dasarnya adalah lemah.
Di balik kelemahan itu ada kelebihan yang berbeda satu sama lain.
Sebagai makhluk sosial, satu sama lain saling mengisi yang lebih memberikan kepada yang lemah dan yang lemah mendukung agar kelebihan orang lain itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kita bersama.
Gotong royong diisi dengan saling bantu membantu dan bahu membahu sehingga yang lemah tidak tertindas dan yang kuat bersikap bijak.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar