Senin, 12 Januari 2015

Ora Narima Ing Pandum

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Apakah kita orang termasuk manusia yang tidak mau menerima kenyataan sebagaimana wajarnya?
Apakah kita orang termasuk manusia yang tidak mau mensyukuri nasib yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT?
Sukanya menggerutu, menyesali nasib.
Menuntut mendapatkan sesuatu di luar kemampuan kita sendiri.
Ketidakwajaran dalam menempuh menapaki kehidupan ini dapat mendorong kita orang akan bersikap dan berbuat yang bukan-bukan yang kurang baik.
Hendaknya kita orang tidak berbuta di luar batas kemampuan, karena niscaya akan menimbulkan akibat buruk dan negatif.
Al-Quran telah menceritakan aqidah dan keyakinan kita tentang Allah. Diantaranya, Allah SWT berfirman,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". (QS. Yunus: 31)
Pada dasarnya kita manusia tidak memiliki apa-apa, kita manusia dilahirkan ke dunia tanpa seutas benang-pun yang menutupi tubuh kita ini, melalui perantaraan orang tua kita-lah Allah lalu memberikan pakaian, memberi makanan, dan memberikannya penghidupan.
Pada saat kita manusia, beranjak dewasa dan mampu mencari penghidupan secara mandiri, sedikit demi sedikit Allah SWT memberi dari bagiannya.
Dalam masalah rezeki, Allah tidak memandang siapa yang diberi.
Diberikan kepada semua manusia yang berusaha mau berupaya dan bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halal.
Semua yang kita miliki itu adalah milik Allah, dan Allah menitipkan sebagian harta yang berada di genggaman kita tersebut untuk kemaslahatan orang lain.
Kita perlu cara yang ahsan untuk menjemputnya dan kita perlukan cara yang bijaksana untuk menyalurkan kepada orang lain, maka niscya Allah akan melipatgandakan harta yang sudah kita infaqkan tersebut hingga tujuh ratus kali lipat bahkan lebih.
Kemudian di surat al-Mukminun 84 s.d. 89 secara berturut-turut di banyak ayat, Allah menceritakan aqidah mereka,
قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ( ) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" ( ) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah". Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?"
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ( ) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" ( ) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah". Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?"
قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ( ) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ
Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" ( ) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah". Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" QS:Al-Mu'minuun:88-89.
Untuk itu, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk congkak, bongah atau sombong dengan harta yang ada, justru kita harus sedih apabila masih banyak hak orang lain yang belum kita tunaikan.
Ingat, dari harta yang ada pada kita, sebagiannya adalah milik orang lain dan kita wajib menunaikannya kepada yang memang berhak, atau menunggu Allah yang akan menunaikannya.
Salah satu ciri orang yang beriman adalah ia berbahagia dan bersyukur kepada Allah apabila dapat menunaikan kewajiban untuk berbagi, karena bisa jadi harta yang memang bukan hak kita namun kita mengambil manfaat darinya.
Bagaimanapun cara kita mengapai rezeki yang sudah Allah takar buat kita, maka itu pula yang akan kita dapatkan, karena memang setiap kita sudah memiliki sejumlah rezeki yang di tentukan. Apapun cara kita orang bila mengambilnya maka itu akan mengurangi jatah kita masing-masing.
Apabila kita orang mengambil harta yang sudah dijanjikan tersebut dengan cara yang hak, maka itu akan membawa keberkahan untuk hidup dan kehidupan kita kelak.
Namun apabila kita orang mengambilnya rezeki dengan cara yang curang, maka harta itu hanya akan menyengsarakan, menjadi sumber permasalahan. Karena setiap rupiah yang kita nafkahkan buat anak dan istri akan berimplikasi buat masa depan. apalah arti kakayaan apabila tiada ketenangan dalam keluarga.
Tiada kebahagiaan bagi hamba yang menggapai rezekinya dengan cara yang tidak sah, menipu, mencuri, merampok uang rakyat atau korupsi karena hal tersebut akan membawa bencana tiada bertepi. Memang secara materi kita punya, namun hati terasa gersang karena nurani yang halus sudah kita campakkan.
Ketidak-berkahan harta tersebut akan membawa kedukaan yang tidak berkesudahan, dari ketidak harmonisan keluarga hingga penyakit yang terus mendera. Kesemua itu akan membawa kegelisahan tiada akhir, hingga kita bertobat dan menunaikan hak orang yang kita rampas.
Adapun orang yang bermalas-malasan sama saja dengan sorang yang sudah di janjikan sebuah hadiah di ujung jalan, namun tidak mau berjalan untuk mengambilnya.
Tiada sedikitpun usaha untuk mengapainya. Padahal diakherat nanti kita akan di tanya dengan apa yang kita miliki, mengapa kita tidak memaksimalkan fungsi segala yang Allah berikan, mengapa kita tidak menggunakan tangan kaki kita untuk bekerja keras, mengapa tidak kita gunakan akal kita untuk bekerja cerdas ?.
Apabila kita orang tidak mau menyesuaikan gaya hidup keluarga kita agar seimbang dengan pengahsilan yang kita peroleh, kita justru bergaya hidup mewah melampaui kemampuan pengahsilan kita, apa yang bakal terjadi?
Sikap yang berlebih bermewah-mewahan supaya dilihat orang kita itu wah mewah punya kelas tersendiri eksklusif tidak seperti mereka yang terbelakang, ini niscaya akan mendorong kita berbuat manipulasi, korupsi, penyelewengan serta penyalahgunaan wewenang.
Apabila kita bersikap tamak, lobak bergaya hidup mewah tersebut dikatakan “Ora Narima ing Pandum”, atau tidak menerima kenyataan sebagaimana wajarnya. Tidak mensyukuri nasib yang telah digariskan oleh Allah SWT. Menggerutu, menyesali nasib. Menuntut mendapatkan sesuatu di luar kemampuan kita.
Menghadapi keadaan pada diri kita dan keluarga kita yang serba repot, terutama dalam materi serba tidak berkecukupan, kita orang lalu mudah menggerutu, mengumpat, menuduh Allah tidak adil, dan sebagainya; Subḥana’llāh سبحان الله. Kita orang apabila bersikap demikian itu dinamakan “Ora Narima Ing Pandum”.
Kata ‘narima’ diartikan ‘merasa puas terhadap nasibnya, menerima dengan sikap bersyukur, tidak menyesali nasib kita, tanpa sikap menuntut. ‘Narima’ diartikan menerima apa adanya, tidak menunjukkan sikap menyesali nasib.
Kata ‘rila’ pengertiannya mengarah kepada segala sesuatu yang telah dicapai dengan daya upaya kita sendiri.
Kebahagiaan hanya dapat kita capai dengan sikap ‘narima’ terhadap nasib diri kita sendiri, dengan tidak mengesampingkan do'a dan ikhtiar yang maksimal.
Meski keadaan diri kita miskin, kalau keadaan itu diterima dengan ‘narima’, orang masih tetap dapat merasa senang dan bahagia, bukannya menderita nasib buruk.
Sikap ‘narima’ berarti mengutamakan kepentingan bersama demi ketentraman dan keselamatan bersama, bukannya mengangankan diri kita sendiri beserta keluarga pada angan-angan yang tak kunjung sampai.
Sikap ‘narima’, yang dicapai bukannya materi, melainkan sesuatu yang lebih mendalam, yang lebih berharga bagi kehidupan manusia dan masyarakat di lingkungan sosial kita.
“Allahumma innii as’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan.”
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rejeki yang baik dan amal yang diterima.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar