Selasa, 03 Februari 2015

Aja nggege mangsa

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sudah jelas adanya kegaduhan situasi politik hukum saat ini menunjukkan kepastian hukum kita masih bermasalah dan berdampak terhadap investor yang membutuhkan kenyamanan berinvestasi.
Adanya pertikaian, pertengkaran, tindakan saling menjatuhkan, saling menuduh, tidak punya rasa malu, dikarenakan kita manusia itu SUKA MENURUTI prasangka, marilah kita perhatikan adanya Firman Allah SWT berikut ini.
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. QS:Yunus 36.
Pertikaian yang mendasarkan prasangka, sepertinya tidak akan pernah mencapai kebenaran. Tekadnya perlu bersatu padu untuk memperbaiki sitem, mekanisme serta aturan perundangan agar semakin membaik lagi.
Kita ketahui bersama, adanya investasi sangatlah penting untuk menumbuhkan pertumbuhan ekonomi dalam stabilitas keamanan.
Stabilitas itu merupakan faktor penentu orang untuk berinvestasi.
Adanya kegaduhan politik, pastilah menguras energi dan waktu karena mengurusi hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.
Kenapa kita harus menguras energi, menyia-nyiakan waktu dan bukannya untuk kegiatan produktif atau membangun?
Ternyata kita manusia itu sangatlah dzalim dan BODOH, Untuk kedzaliman dan kebodohan kita sebagai manusia, mari kita simak secara seksama Firman Allah SWT berikut ini.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, QS:Al-Ahzab 72.
Saling mendzolimi yang sebenarnya kita ini bertindak bodoh, akan sia-sia buang-buang energi dan waktu secara percuma.
Seharusnya energi komponen bangsa kita gunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing.
Ketegangan yang terjadi itu dapat menimbulkan kesan di antara lembaga penegak hukum yang begitu kuat saja dapat dilemahkan.
Untuk itu, agar semua pihak dapat menahan diri.
Alangkah baiknya apabila dapat diredakan ketegangan di tengah-tengah masyarakat yang sering terjadi.
Adanya celah, ruang perlulah diberi kesempatan untuk proses penegakan hukum yang lebih objektif, rasional, dan perlu transparansi agar kita anggota masyarakat dapat ikut evaluasi serta mengkontrolnya.
Pihak yang mempunyai kekuasaan itu sepatutnya tidak merasa paling berkuasa.
Sebaliknya pihak yang berkuasa itu sudah seharusnya rendah hati dan memiliki simpati dan empati.
Ketidakstabilan politik yang terjadi berpotensi menghambat kegiatan pembangunan, imbasnya semua akan dapat merugi materiil spiritual termasuk rugi waktu, menyia-nyiakan waktu yang diberikan.
Padahal dunia usaha kini menaruh harapan besar dapat berperan seiring ruang fiskal yang kini lebih besar.
Mari kita biasakan, dalam usaha kita mencapai cita-cita lebih baik tidak mengambil jalan pintas, jalan melintas atau menerobos, yaitu jalan yang lebih singkat tetapi tidak menurut peraturan yang berlaku, sebab hal itu tidaklah adil dan tidak jujur, akan dapat merugikan perkembangan masyarakat.
Janganlah mempercepat waktu ‘Ojo Nggege Mangsa”.
Ungkapan “aja nggege mangsa” terdiri dari kata aja (jangan), nggege (mempercepat atau mendahului) dan mangsa (waktu).
Secara eksplisit, ungkapan “aja nggege mangsa” berarti ‘jangan mendahului waktu’.
Ungkapan ‘Aja nggege mangsa’ ini mengandung nilai ‘education’, agar dalam usaha mencapai cita-cita atau maksud hati, agar kita ini sebagai manusia lebih baik apabila menempuh jalan setapak demi setapak dan menurut peraturan yang berlaku.
Dalam etika dan filsafat Jawa, ungkapan 'Aja Nggege Mangsa' memiliki makna yang lebih dalam. Pemaknaannya terkait erat dengan sikap hidup dan kaitan jati diri manusia sebagai individu, sosial dan umat ciptaan Allah SWT.
“Aja nggege mangsa” merupakan nasihat agar dalam upaya mencapai maksud atau cita-cita tertentu, kita orang harus mampu mengendalikan diri lita. Demi suatu keinginan kita orang dianjurkan untuk tidak melakukan kecurangan.
Perlulah kita ini melakukan pengendalian diri dan yakin bahwa segalanya akan ditentukan oleh Allah SWT, seseorang seringkali tergelincir pada sikap ‘nggege mangsa’ (mendahului waktu).
Dari keinginan yang tidak terkendali itu, kita orang dapat terperosok pada tindakan negatif, mendzolimi sesama mitra kerja asalkan tujuan atau keinginan kita dapat tercapai secara mudah lagi instan. Astagfirullah Maha Suci Allah lagi Maha Kuasa.
Agar supaya kita semua dapat menghindar dari hal tersebut, maka dalam berusaha kita perlu menyeimbangkan antara semangat dengan sikap pasrah, yang dilandasi sikap hidup 'sa'madya' (sedang, sewajarnya) dan tidak tampak 'ngaya'(terlalu memaksa diri).
Lebih baik kita semua dapat terhindar dari sikap ‘nggege mangsa’ (terburu nafsu dalam mencapai sesuatu), saatnya diperlukan adanya kejernihan pikir, kedewasaan, dan kemampuan untuk mengarahkan tindakan demi tujuan akhir, yakni mencari ridha Allah senyampang tetap memperhatikan kepentingan orang lain.
Proses yang baik adalah proses yang wajar, yang alami.
Buah yang masak di pohon sebagai hasil proses alami, lebih lezat rasanya daripada buah yang masak karena diperam.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar