Kamis, 19 Februari 2015

Perbuatan kita di masa lampau “tergambar” dan “termanifestasikan” pada hari kebangkitan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Menurut ayat Al Qur’an dan pesan para Alim Ulama, kita manusia dan perbuatan kita itu abadi, dengan suatu cara, tercatat dan terpelihara untuk selama-lamanya.
Kita sebagai manusia akan mendapatkan perbuatan kita di masa lampau “tergambar” dan “termanifestasikan” pada hari kebangkitan.
Segala perbuatan dan usaha kita manusia berikut amal berkebajikan akan termanifestasikan dalam lukisan yang indah, menarik dan menyenangkan dan akan menjadi sumber kegembiraan serta kebahagiaan.
Sedangkan perbuatan kita yang jahat akan termanifestasikan dalam gambaran yang menyeramkan, menjijikkan, mengerikan dan merugikan, dan akan menjadi sumber kesakitan, penderitaan dan siksaan.
Apa yang mempengaruhi perbuatan kita orang adalah motivasi kita yang tinggi, yang sifanya moralitas, saintifik, religious dan ke-Ilahian.
Kita orang sering mengorbankan kehidupan alami kita sendiri, kehidupan material kita dan kehidupan hewani kita untuk tujuan-tujuan yang lebih tinggi, atau dengan sebutan iman dan amal shalih, yang melaluinya mengharapkan kehidupan abadi dan keridaan Allah SWT.
Semuanya mengungkapkan kapasitas dan kemampuan dalam diri kita manusia untuk kehidupan yang abadi. Mengenai kehidupan abadi telah diifirmankan dalam QS Shad berikut ini.
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. QS:Shaad 27.
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? QS:Shaad 28
telah meminta kepada manusia untuk beriman dan berkebajikan.
Sebagian manusia menerimanya dan menyesuaikan pikiran, akhlak dan perbuatannya dengan kepercayaan mereka.
Sebagian lagi tidak mau menerimanya dan mengikuti perbuatan jahat dan merusak.
Kita lihat bahwa tata dunia ini tidak selalu memberikan ganjaran yag baik atau memberikan hukuman kepada yang berbuat jahat secara tepat.
Terkadang kita sebagai manusia mati sebelum menerima ganjaran kebaikannya, oleh karena itu maka harus ada suatu tempat yang lain untuk memberikan ganjaran baik kepada yang berbuat baik, atau ganjaran buruk lagi jelek bagi yang berbuat buruk.
Kita simak dengan seksama firman Allah dalam al Jatsiyah berikut ini.
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. QS:Al-Jaatsiyah 21.
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. QS:Al-Jaatsiyah 22.
Perbuatan manusia terbagi menjadi dua.
Pertama, perbuatan yang sia-sia, tidak bermanfaat, tidak menghasilkan capaian kesempurnaan dalam batas-batas kapasitas kita.
Kedua, perbuatan yang bijaksana, beralasan, sejati, membawa hasil yang menguntungkan dan membawa kepada penyempurnaan yang patut kita peroleh.
Perbuatan-perbuatan kita yang bijaksana membawa kepada kesempurnaan yang patut menjadi hak kita.
Kebijaksanaan Allah adalah cukup pada DiriNya Sendiri saja, dan bukan seperti kebijaksanaan manusia, karena Allah Maha Sempurna.
Kata-kata Imam Ali r.a “Dunia ini adalah tempat yang akan kita tinggalkan sedangkan Kebangkitan adalah tempat kediaman yang kekal”.
Maka siapkanlah hati kita untuk menerima kewibawaan Ilahi, dimana hati kita bagaikan kaset, alat perekam atau kamera yang siap untuk merekam cahaya Rabbul ‘alamin, adapun telinga dan penglihatan adalah alat untuk mendengar dan menyampaikan pada sanubari, oleh sebab itu Allah subhanahu wata’ala berfirman.
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya”. QS. Al Israa' 36.
Hal ini menunjukkan bahwa penglihatan dan pendengaran memiliki ikatan yang kuat sehingga berpadu di dalam hati untuk menuntun kepada hal-hal luhur atau sebaliknya yang selanjutnya akan dipertanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala kelak di akhirat.
Kita manusia memiliki perjanjian kepada Allah subhanahu wata’ala sebelum terlahir ke muka bumi, namun hal itu terlupakan dari kita.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar