Selasa, 03 Maret 2015

Aja Leren Lamun Durung Sayah, Aja Mangan Lamun Durung Luwe.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Aja Leren Lamun Durung Sayah, Aja Mangan Lamun Durung Luwe ”
Janganlah berhenti jika belum lelah, jangan makan jika belum lapar.
Kita orang memang harus bekerja keras lagi kepayahan, telah tersirat jelas anjuran ini dalam firman Allah SWT berikut ini.
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ
"bekerja keras lagi kepayahan", QS:Al-Ghaasyiyah | Ayat: 3
Kerja Bekerja dan bekerjalah terus, semangat berkerja haruslah senantiasa selalu tumbuh, menjadi manusia yang penuh aktifitas adalah suatu hal pasti karena design tubuh manusia memungkinkan demikian.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. QS: At-Taubah 105.
Kita orang selagi masih hidup memang dituntut untuk bekerja keras untuk kehidupan dan beribadah kepada Allah SWT, karena semua kegiatan ibadah juga memerlukan hasil kerja untuk melaksanakannya.
Apabila kita orang mudah menyerah dan bermalasan, padahal belum mengalami titik puncak prestasi kerja secara tuntas, atau belum capek kita sudah beristirahat. Jangan terlalu cepat menyerah, senantiasa semangat tinggi berkarya, karena kalau kita cepat menyerah nanti akan menjadi satu kebiasaan malas yang berulang-ulang untuk karya selanjutnya.
Capek dalam hal ini adalah lebih menitik beratkan tidak adanya keseimbangan antara pikiran dan perasaan. Dimana kedua hal ini tidak sinkron lagi. Karena kalau capek kita paksakan maka akan membuat kita frustasi, kalau kitanya frustasi akan menghasilkan karya yang jelek lagi buruk.
Hendaknya kita selalu rajin bekerja, dan sebaiknya kita tidak suka menganggur tidak berbuat apa-apa.
Sekali-kali kita boleh beristirahat untuk mengembalikan kesegaran jasmani kita jika belum benar-benar merasa lelah.
Kecuali itu, hendaknya kita dapat mengekang kecenderungan kita untuk selalu makan, sebab jika kita terlampau mengalah terhadap nafsu makan kita, martabat kita sebagai manusia dapat menurun.
Sebaiknya kita hanya makan, jika kita benar-benar merasa lapar.
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. QS: Al-Baqarah 74.
Harus luwes dan lincah dalam bekerja, saatnya jaman kreaktif dituntut lebih inovatif, bilamana perlu gunakan teknologi dan informasi melalui saluran yang benar lagi legal.
Dalam kehidupan berumah tangga, “Aja Leren Lamun Durung Sayah”, jangan berhenti untuk selalu saling membangun dan saling berkomunikasi secara efektif dalam segala hal, jangan mudah menyerah kepada pasangan yang ngeyel, tetaplah selalu mempertahankan semangat dan daya juang yang tinggi, agar selalu dalam kemanunggalan.
Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), anak dan murid melakukan tanpa harus memikirkan kapan harus berhenti karena orang tua atau guru tahu/wruh kapan anaknya dan muridnya kapan capeknya.
Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), janganlah kita berkilah atau menghindar untuk selalu senantiasa punya kesempatan membangun masyarakat yang beradab.
Bagaimana kita dapat mengendalikan diri, mengurangi rasa egoistik kita, tidaklah rakus, tamak lobak, tidak serakah lagi buas.
Sebagaimana kita ketahui, kemampuan mengekang diri adalah suatu hal yang amat penting. Kemampuan yang demikian itulah yang membedakan kita manusia dengan binatang.
Begitu pula kemampuan diri itulah yang membedakan manusia beradab dan manusia yang tidak beradab.
Kita sebagai manusia apabila dapat mengekang diri tentu akan berlaku halus, lebih sopan dan akan bersikap mempunyai tenggang rasa terhadap orang lain.
Kita orang yang dapat mengekang diri tidak mungkin bersikap rakus, mau menangnya sendiri, sewenang-wenang dan merasa paling kuasa, padahal tidak ada artinya di hadapan Allah SWT.
Sesungguhnya, telah menjadi watak dan karakter pada manusia, tidak dapat menerima semua hukum dan perintah Allah dan tidak dapat sesuai dengan selera kita. Namun, bukan berarti, ketika hukum dalam persaingan tidak sesuai dengan selera, kemudian kita boleh menolaknya. Lebih jelasnya mari kita simak firman Allah berikut ini.
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu sementara itu baik bagi kalian, dan bisa jadi, kalian mencintai sesuatu sementara itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” (QS. 2 Al-Baqarah: 216)
Pada Al-Baqarah 216 tersebut, Allah akhiri dengan firman-Nya (yang artinya), “Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.”
Rahasia di balik penyebutan keterangan di atas oleh Allah, setelah Dia menyatakan bahwa hukum-Nya terkadang tidak sesuai dengan selera manusia, adalah untuk menunjukkan kalau sesungguhnya Allah lebih mengetahui hal yang terbaik untuk kita daripada diri kita sendiri.
Allah lebih mengetahui tentang kebutuhan hidup kita daripada kita sendiri. Karena itu, yang dijadikan tolok-ukur baik dan buruk dalam kehidupan manusia bukanlah kecenderungan dan selera hati manusia. Namun, yang menjadi tolok-ukur adalah pilihan Allah Ta'Alla. Demikian keterangan dari Ibnul Qayyim, sebagaimana termuat dalam Al-Fawaid, 91.

Ya Allah, kami mohon limpahan kurnia dan Ihsan-Mu, anugerahkan kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusu'. amalan yang Engkau terima, rezeki yang luas, jalan yang lurus yang Engkau ridhai, bukakanlah pintu hati kami, agar kami sentiasa mendapat taufiq dan hidayah, mampu membuat keputusan dengan tepat, sesuai dengan kehendak-Mu ya Allah, untuk membina insan rabbani yang berkualitas dan masyarakat sejahtera, di samping memperoleh rahmat dan keridhaan-Mu.
Ya ALlah, terimalah segala kerja dan khidmat bakti kami dengan sempurna, sebagai amal ibadah kami kepada-Mu.


Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar