Senin, 16 Maret 2015

Bismillahirrahmanirrahim بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Mari kita Baca dan ucapkan
Bismillahirrahmanirrahim
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
Rasulullah SAW telah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca ‘basmalah’.
Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya-pun sangat akrab dengan ‘basmalah’.
Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur.
Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan ‘bismillahirrahmanirrahim’.
Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca ‘basmalah’.
Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk bersimpuh.
Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah SWT, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah.
Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Allah SWT di muka bumi.
Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Allah SWT di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya.
Itulah rahasia kita manusia sebagai ‘ahsan at-taqwim’, mahluk yang ‘termulia’.
Fitrah manusia sebenarnya sebagai makhluk mulia, sempurna dan baik. “Fitrah manusia itu seharusnya kita jaga dengan perilaku yang baik pula”.
Kita sebagai manusia selalu saja dalam kegelisahan karena persoalan hidup yang melilit kita. Fitrah kita sebagai manusia sempurna, tidak terjaga karena perilaku yang tidak terpuji.
Kita manusia senantiasa dililit permasalahan dengan jiwa yang selalu berontak. “Sikap berontak manakala tuntutan kita manusia tidak terpenuhi” .
Kita sebagai manusia itu sendiri, selalu tergoda dengan kedudukan, kekuasaan dan ambisi jabatan. Kita bisa saja menjadi manusia yang serakah congkak dan bongak lagi sadis melebihi serigala buas.
Fitrah kita sebagai manusia sering tidak terjaga karena ambisi dan nafsu kita yang bersifat duniawi semata.
“Sesuatu yang tidak kita landasi ibadah dan keiklasan, seringkali terjebak pada kepentingan sesaat”.
Salah satu ciri kita orang yang dirindukan untuk masuk surga adalah apabila kita mau memaafkan orang lain padahal ada kesempatan untuk balas dendam.
Hal ini sangat bertentangan dengan sifat kita manusia yang selalu mendendam terhadap sebuah kesalahan dan sulit untuk memaafkan meskipun dalam rentan waktu yang cukup lama.
”Bagian hidup kita yang terlewat tidak dapat tergantikan, dan apa pun yang kita petik darinya tidak ternilai harganya”.
Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah SWT.
Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz ‘basmalah’.
‘Bismillahirrahmanirrahim’ adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama lslam, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.
Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah.
Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah ‘bismillahirrahmanirrahim’.
Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ‘ar-rahman’ dan ‘ar-rahim’.
Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu ‘rahima’ yang berarti “cinta kasih”.
Makna dibalik lafadz ‘basmalah’ adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”.
Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.
Allah ternyata menggunakan lafadz ‘basmalah’, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya.
Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz ‘basmalah’, yakni dengan penuh kasih sayang.
Ayat Basmalah termasuk Surat Al-Fatihah. Hadits, dari ad-Da’ru Quthni dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian membaca Surat AI-Fatihah, hendaklah kalian membaca 'Bismillahirrahmannirahim', karena ia termasuk ke dalam surat Al-Fatihah.
Sedangkan Surat Al-Fatihah terdiri dari 7 ayat, dan 'bismillahirrahmaanirrahiim' termasuk ke dalam saIah satu ayatnya”.
Makna ‘Bismillah’, sebagai Preposisi “Bi” = aku memulai. AL-Ism = Nama, menunjuk pada sesuatu yang dinamai. Allah = nama Tuhan, berasal dari kata Al-Ilah.
‘Bismillah’ bukan sebagai penukar kenikmatan, tapi ‘bismillah’ merupakan kalimat izin bagi hamba Allah yang merasa hidupnya hanya sekedar “menumpang”, karena sesungguhnya semua yang ada di atas dunia ini milik Allah dan manusia diberi kenikmatan untuk memakai fasilitas Allah SWT.
Pengakuan otoritas bagi kita sebagai hamba Allah yang menyadari bahwa sesungguhmya yang memiliki wewenang otoritas hanyalah Allah.
Manusia hanya sebagai wakil Allah di muka bumi ini, bukan sebagai penguasa. Bila seseorang mengucapkan 'bismillahirrahmaanirrahim', ia telah menandai kehambaannya dengan nama Allah, ia mengokohkan jiwanya yang dinisbahkan kepada hakikat kehambaan dengan salah satu dari tanda-tanda Allah (Thabathabai: 21).
Ar-Rahman (Maha Pengasih), merupakan rahmat Allah dalam Bentuk sarana hidup Dilihat dari segi etimologisnya, Ar-Rahman berwazan ” “fa’laan” yang menunjukkan banyak.
Oleh karena itu rahmat Allah yang berupa sarana hidup ini diberikan untuk semua makhluk di alam semesta (rahmatan lil alamiin), baik manusia maupun binatang, baik muslim maupun kafir. Makna ini digunakan dalam Al-Qur’an
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ´Arsy. QS:Thaahaa 5.
Tak perlu ragu untuk bertaubat karena kesesatan yang kita lakukan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri kita diberikan sampai dapat menyadari saat hari pembalasan kelak di akherat.
قُلْ مَنْ كَانَ فِي الضَّلَالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَٰنُ مَدًّا ۚ حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ إِمَّا الْعَذَابَ وَإِمَّا السَّاعَةَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضْعَفُ جُنْدًا
Katakanlah: "Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya". QS:Maryam 75.
‘Ar-Rahiim’: Maha Penyayang, merupakan rahmat Allah dalam Bentuk petunjuk hidup.
Ditinjau dari segi bahasa, Ar-Rahiim berwazan (berpola) “fa’iil” yang menunjuk ketetapan dan kekekalan.
‘Ar-Rahiim’ berupa rahmat Allah SWT dalam bentuk petunjuk hidup, diberikan hanya untuk orang yang beriman, menunjukkan kenikmatan yang terus menerus dan kekal.
Dalam Qur’an makna Ar-Rahiim sererti terdapat pada suarat Al-Ahzab berikut ini.
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. QS:Al-Ahzab 43.
Rasa jera kita akan segala kesalahan dengan melakukan shalat Taubat secara bersungguh-sungguh kepada Allah SWT yang diterima-Nya dikarenakan Allah Maha Pengasih lagi Penyayang pada ummat-Nya tersirat dengan jelas dalam surat At-Taubah berikut ini.
لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, QS:At-Taubah 117.
Ar-Rahman dan Ar-Rahiim Allah berikan bersama-sama kepada hamba-hamba-Nya sesuai pengucapannya yang utuh dan lengkap dalam setiap niat langkah dan kegiatan dengan selalu 'bismillahirrahmaanirrahim'.
Allah SWT telah memberikan kepada kita manusia selain sarana hidup juga petunjuk hidup atau ‘hidayah’.
Kini saatnya kita sebagai manusia yang perlu berusaha menggapai petunjuk hidup atau ‘hidayah’.
Kita manusia umumnya menikmati sarana hidup tapi lupa petunjuk hidup yang berharga, merupakan fenomena yang kita alami sekarang.
Kita sebagai manusia sering lupa, siapa yang memberikan sarana hidup tersebut, kita manusia menganggapnya semata-mata atas usaha kita, padahal semua sarana hidup tersebut Allah SWT berikan gratis dan bersifat menyeluruh.
Rasulullah menerangkan keutamaan seseorang yang mengucapkan 'basmalah' dalam HR Abu Daud dan dihasankan oleh Ibnu Shalah: “Setiap urusan yang baik yang tidak diawali dengan 'Bismillaahirrahmaanirrahim' maka tidak akan mendapat barokah”.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,
Referensi
Paket BP Nurul Fikri, Setetes Basmallah dan Hamdallah.
Hasan Al-Banna, Kunci Memahami Al-Qur’an.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar