Minggu, 22 Maret 2015

Mangasah Mingising Budi "Mengasah bagaimana 'budi' manusia menjadi tajam"

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
"Mangasah Mingising Budi"
Mengasah bagaimana 'budi' manusia menjadi tajam"
Dengan kata lain "Terwujudnya kepekaan budi pekerti manusia yang tinggi dalam kehidupan"
Dalam kehidupan kita ini ada berbagai derajad manusia dalam kehidupannya. Meskipun rentang kehidupan manusia ada yang baik, tetapi ada pula yang jelek, bahkan wataknya, karakternya, mentalnya ada yang lebih jelek dari binatang dikarenakan terkendali oleh hawa nafsu dan angkara murka kemarahan.
‘Budi’ berbeda dengan akal pikiran. Budi lebih luas dan mendalam maknanya. Pikiran hanya menggunakan kemampuan pikir dari otak saja. Sedangkan budi, yakni berfikir dengan melibatkan hati nurani atau rasa sejati.
Dalam bahasa Jawa diistilahkan penggalih. ‘Galih’ adalah ‘inti’, yang dimaksud penggalih adalah inti kesadaran yang dapat menumbuhkan sikap bijaksana.
Bijaksana secara sederhana dapat diartikan sebagai sikap dan cara pandang tepat dalam memahami dan menghadapi situasi yang ada. Bijaksana dan kebijaksanaan dapat diciptakan tetapi tidak cukup berbekal kesadaran akal fikiran saja, tetapi lebih dalam lagi yakni harus melibatkan kesadaran hati nurani.
Oleh karena itu ‘Mangasah ketajaman budi’ merupakan usaha agar kita menjadi pribadi yang awas dan cermat dalam memahami sesuatu potensi dan masalah. Sikap awas dan cermat inilah yang kita perlukan agar supaya kita orang dapat mengambil sikap atau tindakan yang tepat lagi bijaksana.
Tanpa berbekal budi yang awas dan cermat, kita orang akan kesulitan menentukan suatu sikap bijaksana. Tindakan kita ini akan sering salah kaprah dan memalukan.
Mari kita simak firman-Nya dalam Al An’am berikut ini.
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. QS:Al-An'am 103.
Tingkatan manusia berbudi pekerti terletak pada tingkat dalam ber-Ketuhanan. Ibadah bukan berati garansi orang itu dekat dengan Tuhan.
Ketidaktahuan, kita menjadi orang awam merasa bangga, keawaman kita bukanlah untuk kita nikmati, tapi perlu kita tingkatkan dan supaya dapat terus berkembang untuk selalu belajar ilmu dan pengalaman yang tiada habisnya.
Fitrah kita manusia sebagai mahluk yang mulia, lebih tenteram bila acuannya yang dijalankan berdasar dalil atau sunnah yang benar, dan bukan berdasar logika atau budaya semata.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. QS:Al-An'am 132.
Bagaimana menajamkan kepekaan budi dalam kehidupan manusia, dan bukankah merupakan proses usaha penyatuan antara manusia dengan Sang Pencipta Allah SWT.
Menghilangkan keawaman dan bukan membanggakan kalau masih awam dengan belajar membaca dan menulis dari awal adalah penting! Semoga berkah, selalu dalam lindungan ridha dan hidayatullah.
Tawaran untuk ber-empati pada diri, mengenalkan pada suatu keadaan dengan merefleksikan pada diri sendiri akan menjadikan kita peka perasaan dan hati. ‘Empati’ sesuai dengan mengasah ketajaman hati dan pikiran. Sebuah filosofis Jawa “Mangasah mingising budi, ambasuh malaning bumi” (mengasah ketajaman hati, membersihkan keangkaramurkaan di bumi).
Bagaimana budaya dan lingkungan dapat kita integrasikan dengan ajaran agama? Hubungan ketiganya untuk memperkuat pemahaman tentang hubungan budaya, agama dan lingkungan dengan aktifitas keseharian masyarakat. Kekuatan mendasar terletak pada pegangan agama, hubungannya dengan kelestarian lingkungan yang diintegrasikan dengan hasil olah cipta, rasa dan karsa yang berupa budaya 'culture'.
Kita, manusia mahluk yang mulia diamanahkan melakukan kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar terhadap sesama. Mengajak mengerjakan kebaikan dan Mencegah perbuatan mungkar, agar kita tidak merugi waktu dalam menapaki kehidupan dengan kemantapan iman.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. QS. Al-'Ashr 3.
Kini, bermunculan tekad menggali nilai kearifan lokal sebagai langkah strategis dalam upaya membangun karakter bangsa. Budaya yang digali dari kearifan lokal bukanlah penghambat kemajuan dalam era global, namun justru menjadi filter budaya dan kekuatan transformasional yang luar biasa dalam meraih kejayaan bangsa.
Tersirat dalam komitmen ber-empati, sebagai ajakan untuk menjaga, memelihara, atau menyelamatkan dunia beserta lingkungannya dan di lain pihak diperlukan kekuatan yang besar untuk bersatu kita teguh bercerai kita runtuh menuju Indonesia kertaraharja.
Kandidat pemimpin yang menjadi idaman kaum marjinal adalah tidak hanya pandai berjanji dan obral teori saja, serta tidak sekedar membuatslogan atau janji retorika belaka. Kini masyarakat lebih siap bersama-sama berperan serta dalam setiap tindakan nyata.
Impian masyarakat kita saat ini menyerukan agar dapat dilakukan pembangunan dengan pendekatan peningkatan mutu kehidupan secara kualitatif. Pendekatan ini menarik untuk dilanjutkan, karena terkandung dinamika peningkatan mutu dalam suatu perubahan lingkungan yang seimbang.
Kawal, dukung dan awasi para pemimpin kita agar tetap memihak rakyatnya. Ajak berjihad, pekikkan perjuangan dalam memerangi kemiskinan dan kebodohan. Ketahuilah bahwa 'jihad' paling utama, menyampaikan kebenaran di depan penguasa yang zalim dan kejam meski dia menanggung resiko hukuman yang amat berat, daripada mengorbankan rakyat jelata.
Telah terungkap, "Jihad paling afdhol ialah menyampaikan perkataan yang adil di hadapan penguasa yang zalim dan kejam". (HR. Aththusi dan Ashhabussunan).
Meskipun akan muncul tantangan maupun kendala yang menghadang adanya kondisi keseimbangan lingkungan yang mengalami akselerasi secara kualitatif, tentu berupa peningkatan mutu hidup dan kualitas lingkungan melalui daya kreasi manusia dan daya dukung yang lestari.
Pemimpin yang ideal harus memiliki solusi cerdas untuk mengatasi hal tersebut. Faktor pendukung yang menjadi pemikiran anak muda sebagai salah satu aspirasi masyarakat yang sederhana adalah adanya kondisi biofisikal yang membatasi pertumbuhan ekonomi, dan faktor kondisi etika sosial yang membatasi hasrat pertumbuhan dan kemajuan bangsa yang besar.
Apabila kita melihat kemungkaran, hendaknya kita merubah dengan tangan kita, jika tidak mampu dengan lisan ucapan atau tulisan. Jika tidak mampu juga dengan hati, diam dan membenci dalam hati. Namun itu adalah selemah-lemahnya iman. Dengan hati ini artinya membenci dalam hati. Jika mampu dia akan merubahnya dengan lisan atau-pun tangan.
Dalam Mangasah Mingising Budi perlu kita hilangkan sifat kemungkaran yang telah diingatkan dalam hadist berikut.
“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah. (HR. Muslim) .
Pada satu sisi pemimpin mempunyai hak kekuasaan yang besar. Kekuasaannya laksana ‘dewa’. Ia adalah pemegang hukum dan penguasa dunia. Pada lain pihak, ia mempunyai kewajiban yang besar dan berat. Ia suka memberi dan berkewajiban untuk konsisten melaksanakan apa yang dikatakannya secara benar.
Kandidat pemimpin yang berkesempatan memegang tampuk kepemimpinan dan berkuasa hendaknya dapat lebur, berbaur dan menyatu dengan rakyatnya. Tidak hanya dekat dengan rakyat jelata, tapi penuh perhatian sertai dicintai, menjadi tumpuan harapan dan kebanggaan bagi rakyatnya. Ia sangat berbudi luhur dan bersifat adil, tapi juga penuh kasih sayang terhadap semua yang hidup.
Pemimpin yangcerdik, cerdas, dan pandai mendahulukan yang harus didahulukan; kepemimpinannya dapat memberi suri tauladan.
Untuk itu, mengamankan atau menyelamatkan ‘habitat’ lingkungan tempat tinggal kita dengan membuat dunia semakin rahayu dan lestari, telah terkandung dalam Sastra Gending melalui konsep “Hamemayu hayuning bawana” dengan pembersihan terhadap penyakit dunia atau “Hamemasuh memalaning bumi” serta terus mengasah ketajaman budi atau “Hangengasah mingising budi”.
Seorang kandidat pemimpin bangsa, selalu siap menjadi abdi rakyat dan dengan ikhlas serta rela melayaninya. Sifat kandidat pemimpin bangsa yang adil dan bijaksana ditunjukkan ketika memimpin berkewajiban memperhatikan semua golongan masyarakat dengan adil dan mendahulukan yang harus didahulukan.
Pemimpin tersebut mau menerima saran dan kritik untuk berputar haluan merubah kebijaksanaan, memiliki “budaya malu” untuk secara ikhlas mundur dari tampuk kepemimpinan apabila tak mampu melaksanakan amanah serta terbukti melakukan kesalahan.
Dalam bahasa kekinian perlu punya ‘simpati’ dan ‘empati’ pada rakyat yang masih miskin dan terbelakang, termasuk pula memberi akses seluas-luasnya kepada kaum perempuan yang kini masih mengalami diskriminasi dalam berbagai bidang.
Telah tiba saatnya, dan kapan lagi kandidat perempuan mampu berkiprah, mempelopori dan memimpin bangsa dalam berbagai peran dan kegiatan nyata bagi tanah tumpah-darah dan ibu pertiwi dengan segenap jiwa raga?
Apabila niat baik telah kita jalankan misinya, seandainya seseorang mendapat hidayah melalui kita, maka itu pertanda sangat baik bagi kita. “Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam. (HR. Bukhari dan Muslim)
Terapkan niat kita bersama dalam babakan Indonesia baru menuju bangsa yang maju, bangsa yang memiliki karakter kuat. Nilai-nilai karakter yang digali dari khasanah budaya selaras dengan karakteristik masyarakat setempat (kearifan lokal) dan bukan “mencontoh” nilai-nilai bangsa lain yang belum tentu sesuai dengan karakteristik dan kepribadian kita.
Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga bisa mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi kemungkaran serta mengajarkannya kepada orang lain.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Semoga mendapat umrah yang mabrur, yang mampu mengubahnya dari insan yang ‘lagha’ kepada insan yang lebih bertawaddu’ kepada Sang Pencipta, Allah SWT.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar