Selasa, 17 Maret 2015

Memasuh Malaning Bumi, sebagai membasuh, mencuci, membersihkan kotoran termasuk penyakit dan cacad di bumi ini.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
“Memasuh Memalaning Bumi”
Berasal dari kata: me-masuh; memasuh=membasuh, mencuci, membersihkan.
Kata: me-mala-ning; memala= 1.Penyakit (lelara). 2.cacad; kotor.
Kata: bumi=jagad; lemah, palemahan.
Arti dari “Memasuh Malaning Bumi” sebagai membasuh, mencuci, membersihkan kotoran termasuk penyakit dan cacad di bumi ini.
Seyogyanya, setiap yang kita kerjakan menuju pada ‘laku hambeg adil paramaarta, ber budi bawa leksana, mamasuh malaning bumi-mangasah mingising budi’, berlaku adil dan dermawan, siap melaksanakan kewajiban, membersihkan kekotoran dunia, agar dunia menjadi selamat sentausa dengan terus mengasah ketajaman budi.
Bagaimana membersihkan kotoran dan memperbaiki kerusakan di bumi secara harfiah saja tidaklah mudah karena bukan mengantisipasi yang lebih baik?
Memasuh malaning bumi, atau membersihkan kotoran bumi adalah membersihkan semua hawa nafsu yang mengotori unsur “jagad kecil” jiwa dan raga. Hawa nafsu tidak akan membuat diri menjadi kotor selama digunakan sebagaimana mestinya, sesuai fungsinya dan kodratnya, dan tidak berlebih-lebihan dalam menuruti kemauannya (nuruti rahsaning karep).
Pentingnya yang membuat bumi ini kotor dengan dibersihkan, yaitu kita manusia pembuat kotoran yang hidup di bumi ini. Bagaimana cara mebersihkan manusia sebagai sumber produk kotoran di bumi ini?
“Memasuh Malaning Bumi” memberantas yang dapat merusak citra dan jati diri, konsep kehidupan yang dijalankan dengan ‘Amar ma'ruf nahi munkar’ (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar), yaitu perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal yang baik dan mencegah hal yang buruk bagi masyarakat, lingkungan kecil kita, keluarga kita agar lebih bersabar apabila tertimpa cobaan kehidupan.
Ajakan atau anjuran hal yang baik dan mencegah hal yang buruk pada kita semua orang telah tersirat dalam surat Luqman berikut ini.
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. QS: Luqman 17.
Memasuh Malaning Bumi agar lingkungan kita dijauhkan dari kotoran bumi seperti maksiat, kolusi, korupsi, nepotisme, penjarahan, perampokan, narkoba, penculikan, judi, mabuk-mabukan, selingkuhan dan lain-lain.
Demikian juga, kita orang seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah hutan, yang terbayang dalam benak pikiran kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa rupiah yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut, belum lagi dampak pemanasan global, banjir dan longsor.
Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong di daerah resapan air, yang terlintas di benak pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa ratus juta rupiah yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir longsor suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun dengan derasnya.
Dalam pewayangan digambarkan dalam empat wayang.
Tokoh Prabu Dasamuka, raksasa yang penuh angkara murka, jika keinginan ragawinya tidak terpenuhi akan murka. Segala sesuatu ingin dia kuasai. Bahkan sampai diumpamakan, bumi ini pun mau digulung menjadi miliknya sendiri.
Jika kita manusia tidak mau melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allah akan menyiksa kita dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala doa kita: Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka). (HR. Abu Zar).
Amar ma'ruf nahi munkar dilakukan sesuai dengan kemampuan kita, yaitu dengan kekuasaan jika kita orang adalah penguasa yang punya jabatan, dengan lisan atau minimal membencinya dalam hati atas kemungkaran yang ada, dikatakan bahwa ini adalah selemah-lemahnya iman kita sebagai orang mukmin.
Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49).
Dalam konteks melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kita harus melaksanakannya terlebih dulu. Ibda bi nafsik!
Marilah kita mulai dari diri kita sendiri dahulu, barulah kemudian baru mengajak mempengaruhi orang lain.
Jika tidak kita laksanakan amanah ini, resikonya adalah kita dilempar ke neraka.
Berkaitan dengan resiko atas perbuatan kita telah difirmankan Allah ta’ala berikut ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang
tidak kamu perbuat?” QS. 61 Ash-Shaff: 2.
Berhati-hatilah apabila memang tidak berbuat kenapa harus dikatakan, serta kenapa melempar tanggung jawab pada orang lain untuk berbuat baik, padahal diri kita sendiri masih digelumuri sifat dan jiwa yang kotor lagi keji?
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” QS.2 Al-Baqarah: 44.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Untuk itu tidaklah baik mengikuti hawa nafsu serta bisikan syaitan untuk berbuta secara keji lagi mungkar.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS: 24 An-Nuur: 21.
Lebih baik bersujud bertafakur seraya berpuji syukur pada Allah SWT, bilamana perlu berzikir seraya dengan bersemedi agar lebih khusuk lagi tujuannya untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT.
‘Mangasah mingising budi mangasuh malaning bumi memayu hayuning' bawana’ (menajamkan budi pekerti, membersihkan penyakit dunia, dan menjaga kesejahteraan kehidupan dunia).
Sebagai konsep kearifan lokal dalam ‘ngayahi dharmaning gesang’ (tugas kehidupan) adalah angrancang kapti yaitu keinginan seseorang melalui jati diri berusaha semaksimal mungkin dengan segala kemampuan yang dimiliki menempuh cita-cita hidup dengan mengembangkan ‘Candra Jiwa’ (membaca rasa) tipologi, pandai ‘angayut ayat winasis’ (pandai mengatur panca indera) menuju ‘dedalane mulya’ (menuju jalan kemuliaan) untuk mencapai jalan kehidupan yang berupa ‘harjaning kahendran Ian harjaning pati’ (kehidupan dunia yang sejahtera dan akhir kehidupan yang khusnul khatimah).
Dasar filosofis yang diberikan Prof. Winslow (1920) berkaitan dengan pentingnya kualitas lingkungan, yaitu kita penghuni hanya akan sehat apabila setiap manusia ikut-serta menyehatkan dirinya sendiri serta lingkungannya. Tanpa keterlibatan kita manusia, kesehatan tidak akan tercapai (Soemirat, 1996). Filosofi inilah yang mendasari pentingnya keikutsertaan penghuni dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup kita.
Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga bisa mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi kemungkaran serta mengajarkannya mempengaruhi kepada orang lain. Aamiin 3X.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar