Selasa, 10 Maret 2015

Menthung Koja Kena Sembagin

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Berbagai macam korupsi, kolusi, dan nepotisme yang akhir-akhir ini dijadikan musuh bersama di negeri kita ini, sesungguhnya tidak lain adalah diawali oleh kehidupan yang penuh kepura-puraan.
Apa yang kita perbuat, sebenarnya kita lagi terbenam dalam kebodohan dan kelalaian, petunjuknya telah tersirat jelas dalam firman Allah berikut ini.
الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ
“(yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai”, QS:Adz-Dzaariyat 11.
Sebelum orang lain minta maaf, akan lebih baik bila kita sebagai manusia mudah memberi maaf bila kita dibodohi oleh orang lain.
Sesungguhnya bukanlah kebodohan kita, apabila kita lagi dibodohi. Akan lebih baik bila kita lakukan saja perbuatan yang baik daripada ikutan membodohi orang lain, jelas termaktub dalam firman Allah berikut ini.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. QS:Al-A'raf 199.
Dalam melakukan sesuatu, bukankah tidak didasari oleh niat atau rumusan yang sebenarnya? Bukankah dimaksudkan untuk memenuhi maksud yang tersembunyi?
Agenda sesungguhnya, tentu tidak diungkap, melainkan dibungkus, dikemas dalam strategi jitu karena belum tentu dipandang baik dan menguntungkan bagi semua orang.
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh". QS:Yusuf | Ayat: 33
Dalam kehidupan kita yang umumnya lebih mementingkan duniawi ini, ketika kita berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita, dengan keakuan atau egoistik yang begitu kuat dalam mempertahankan diri, maka jurus ampuh yang sering dan lazim dipakai adalah dengan membohongi, agar selamat dari resiko maupun tanggung jawab.
Sering kejadian, maunya kita ini meng-akali dengan cara membohongi, tetapi ibarat bumerang yang justru kitalah yang dibohongi, seperti tertuang dalam ungkapan.
“Menthung Koja Kena Sembagine”
‘Membohongi, justru sebenarnya dibohongi’.
‘Bohong’ disini yang di maksud tentunya tidak sekedar matematis, tapi lebih pada motivasi yang bersifat merusak atau tidak membangun.
Kita ini sebagai manusia dengan fitrahnya sebagai mahluk yang mulia, sesungguhnya selalu memiliki sifat ingin disebut sebagai orang baik.
Namun demikian, keinginan kita yang ingin disebut sebagai orang baik itu tidak selalu berhasil kita raih.
Sebab yang terjadi, kita sebagai mahluk yang lemah sering terbiasa serta sengaja melakukan kesalahan atau bahkan perbuatan tercela.
Bukankah keburukan kita orang tidak mau bila diketahui oleh orang lain?
Sekalipun tatkala menjalankannya juga tahu bahwa apa yang kita lakukan itu adalah buruk, tercela, serakah lagi bongak yang dapat merugikan diri kita sendiri dan juga orang lain.
Padahal, kita sebagai insan yang suka berbuat buruk dan jelek-pun masih ingin disebut baik bukan?
Agar supaya perbuatan buruk dan tercela itu tidak diketahui orang lain, maka biasa kita simpan atau kita rahasiakan rapat-rapat.
Penampilan kita selalu berusaha sebaik mungkin, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah justru di balik yang tampak itu.
Kita sering melakukan sesuatu hanya sebatas seolah-olah, seperti, atau seakan-akan. Yaitu seolah-olah berbuat baik agar disenangi oleh banyak orang. Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah baru seolah-olah itu.
Kita sebagai pemangku jabatan pada negara sering sekali dianggap membohongi rakyatnya jika dianggap suatu janji tidak terealisasi, lalu kita carilah akal-akalan untuk membohongi rakyat dengan motivasi yang merusak.
Apabila kita sebagai pejabat boleh saja berhasil dan senang membohongi, namun sebenarnya dalam arti lebih dalam itu bisa membohongi diri kita sendiri karena resiko untuk kita jauh lebih besar, hanya mungkin secara matematis tidak terlihat.
Sedemikian pintarnya kita orang menyembunyikan maksud yang sebenarnya, sehingga kadang orang lain tidak memahaminya.
Kita orang sering melakukan sesuatu secara mendua, yaitu antara apa yang ditampakkan dengan apa yang sesungguhnya kita agendakan sedemikian jauh jaraknya.
Seringkali apa yang kita temukan serba palsu. Padahal kepalsuan selalu menjadi sebab utama runtuhnya kehidupan dan bahkan peradaban umat manusia, di mana dan kapan pun saja.
Mari kita simak dengan seksama firman Allah berikut ini mengenai kebodohan perbuatan kita, perlulah segera kita sadari dan lakukan pertaubatan untuk jera tidak mengulangi lagi.
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS:An-Nahl 119.
“Menthung Koja Kena Sembagine”, jangan sampai ada dusta di antara kita sekeluarga kecil maupun keluarga besar. Sekecil apapun tetaplah selalu saling terbuka, lebih baik tidak saling membohongi.
Berbohong pada pasangan, bukan hanya sekedar berbohong pada pribadinya, tapi pada keutuhan keluarga secara keseluruhan.
Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain dalam kehidupan bermasyarakat, mari kita junjung kehidupan ini dengan segala kejujuran, janganlah kita membebani diri kita dengan kebohongan yang akhirnya menghambat diri kita untuk beradab dan tentunya mempengaruhi masyarakat untuk menuju peradaban yang lebih luhur.
Semakin maju budaya seseorang, tampaknya semakin pintar menyembunyikan wajah yang sebenarnya. Kehidupan seseorang akhirnya menjadi semacam sandiwara. Apa yang tampak sesungguhnya bukan senyatanya. Justru yang nyata adalah yang tersembunyi itu. Semua serba berpura-pura.
Akibatnya dalam berinteraksi antar sesama, masing-masing orang tidak merasa melakukan sesuatu hal yang sebenarnya, melainkan selalu dalam kepura-puraan itu. Akhirnya, hidup ini hanya dijalani dengan kepura-puraan.
Manusia menyukai kepura-puraan, atau berbuat bohong, dan palsu. Padahal sesungguhnya semua orang tahu, bahwa siapapun benci diperlakukan tidak pada tempatnya itu.
Kebohongan tidak bisa dilakukan sepanjang waktu, suatu saat akan terbongkar. Rupanya, sifat manusia pada umumnya, merasa nikmat atau puas apabila bisa berbuat bohong. Dengan berbohong, berpura-pura, seolah-olah, seakan-akan, maka menganggap tujuan yang diinginkan cepat tercapai.
Namun sebenarnya, hal yang harus disadari, bahwa siapapun hanya bisa membohongi sesama manusia dan itupun dalam waktu yang terbatas.
Bagaimanapun pintarnya, hebatnya, lihainya, manusia tidak akan bisa berbohong secara terus menerus, apalagi membohongi Dzat Yang Pencipta. Karena, Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak akan ada rahasia sekecil apapun yang luput dari pengetahuan Tuhan. Karena itu, apapun yang kita rahasiakan, pada suatu saat akan terbongkar.
Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam bersabda:
Sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menuntun menuju Surga. Sungguh seseorang yang membiasakanjujur niscaya dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkankemungkaran menjerumuskan ke Neraka. Sungguh orang yang selaluberdusta akan dicatat sebagai pendusta . (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kebohongan akan merugikan diri sendiri dan masyarakat. Berbohong tidak akan bisa dilakukan terus menerus. Orang mengira, bahwa kebohongannya tidak akan diketahui oleh siapapun.
Tetapi ternyata, serapat-rapat orang menyimpan kejahatan, cepat atau lambat akan terbongkar. Berbagai kasus yang menimpa para oknum pejabat akhir-akhir ini, mereka melakukan kebohongan, ternyata sebagian sudah mulai dibuka oleh Allah melalui berbagai pintu.
Akhirnya, mereka diadili, dan akibatnya harkat dan martabatnya jatuh serendah-rendahnya. Orang menyukai berbuat bohong, berpura-pura dan palsu. Andaikan bisa, rupanya Tuhan pun akan dibohongi pula.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar