Rabu, 03 Juni 2015

La Ilaha Illa Allah, ma’buda bihaqq illa Allah, tiada sesembahan yang haq kecuali Allah.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
‘La’ yang terdapat dalam kalimat “La Ilaha Illa Allah” adalah huruf “la” naafiyata li al-jinsi (huruf yang menafikan segala macam jenis).
Dinafikan adalah kata “ilah” (sesembahan).
Kata “ilah’ berbentuk isim nakirah dan isim al-jins.
Kata “illa” adalah huruf istisna’ (pengecualian) yang mengecualikan Allah dari segala macam jenis “Ilah”.
Bentuk kalimat semacam ini adalah kalimat nafyun (negatif) lawan dari kalimat itsbat (positif).
Kata “Illa” berfungsi mengitsbatkan kalimat manfiy (negatif).
Dalam kaidah bahasa Arab, itsbat sesudah manfiy bermakna al-hasr (membatasi) dan al-ta’kid (menguatkan).
Makna kalimat “La ilaha illa al-Allah” adalah tiada ilah (sesembahan) yang benar-benar berhak disebut ilah (sesembahan) kecuali Allah SWT.
Jadi kalimat la ilaha illa Allah maknanya la ma’buda bihaqq illa Allah, tiada sesembahan yang haq kecuali Allah.
Beberapa ayat al-Quran telah mendukung pengertian la ma’buda bihaqq illa Allah di atas. Allah SWT berfirman, dalam An-Naas (Qs.114:1-3) berikut ini.
إِلَٰهِ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. QS:An-Naas:1 s.d 3.
أَمْ لَهُمْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. QS:Ath-Thuur:43.
Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas, bahwa sesembahan yang hakiki hanyalah Allah SWT.
Makna syahadat La Ilaha Illa Allah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah.
Salah satu dzikir yang paling utama adalah kalimat La Ilaha Illa Allah yang artinya tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah SWT.
Begitulah pesan Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali Karramallahu Wajahah, ketika beliau secara pribadi memohon agar diberikan dzikir khusus yang lebih berat dari dunia seisinya, dan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Biasakanlah kita orang selalu berdzikir dengan kalimat La Ilaha Illa Allah, sebelum dipanggil-Nya. Agar terbiasa berdzikir, agar mudah ditalqin, bila sudah biasa berdzikir harapannya dapat mengucapkan sendiri tanpa ditalqin saat sakratul maut menjemput kita. In sha ‘ Allah ( ان شاء الله ).
Dalam salah satu hadits riwayat sahabat Anas berikut ini
"Sesungguhnya barang siapa membaca kalimat Tauhid dan memanjangkannya, maka baginya akan dihapus empat ribu macam dosa besar”.
Kita orang apabila menuntun seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat syahadat Laa Ilaaha Illa Allah dinamakan Mentalqin.
Mentalqin seseorang yang akan meninggal dunia disunnahkan bagi orang yang ada di sisi orang yang akan meninggal dunia, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
لقنوا موتا كم لا إله إلا الله
“Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illah".
Dalam riwayat yang lain:
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga”
Tujuannya adalah agar akhir ucapan yang keluar dari orang yang akan meninggal dunia adalah “La Ilaha Illa Allah”.
Sehingga dia menjadi orang yang berbahagia karena termasuk dalam golongan orang yang dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Selain itu untuk mengingatkan orang yang akan meninggal dunia terhadap sesuatu yang dapat menolak gangguan setan karena setan akan mendatangi orang yang akan meninggal dunia dalam rangka untuk merusak akidahnya.
Bagaimanakah Mentalqinkan, Laqqinuu mautakum Laa Ilaaha Illallah? (HR.Muslim)
Kita lihat penderita bila telah layak di talqini.
Pilih seorang atau yang mampu membimbingnya.
Ciptakan suasana tenang dan kondusif.
Bila kita harus membaca yasin, diusahakan agak menjauh sedikit dari penderita.
Kepada keluarga atau siapa saja diusahakan tidak terlalu banyak menyentuh penderita.
Bila penderita meminta “sesuatu” mohon diindahkan.
Mentalqin orang yang akan meninggal dunia cukup sekali saja, tidak perlu diulang-ulang kecuali apabila setelah di-talqin dia mengucapkan kalimat yang lain maka hendaknya diulang sekali lagi agar akhir ucapannya adalah kalimat syahadat.
Imam Al Qurthubiy berkata: “Apabila seorang yang akan meninggal dunia telah membaca ‘Laa Iaaha Illa Allah’ satu kali maka tidak perlu diulang lagi”.
Ibnu Al Mubarak berkata: ”Talqinlah orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ dan jika telah mengucapakannya maka jangan diulangi lagi”.
Demikianlah posisi pentingnya kalimat tauhid bagi seorang mu’min, ia tidak sekedar sebagai kalimat pengakuan keesaan Allah SWT, akan tetapi juga sebagai kunci menuju kesuksesan hidup di akhirat kelak.
Pentingnya tauhid bagi seorang mu’min disebutkan dalam Qasidatul Burdah ,
الحمد لله المنشی الخلق من عدم
Dalam ayat ini , kata al – munshi menunjukkan nama pelaku , yang maknanya adalah ‘untuk menciptakan ‘ .
Terjemahan dari ayat ini :
Semua pujian adalah karena Allah , yang melahirkan penciptaan dari ketiadaan.
munshi berarti ‘Pencipta‘ , ‘Dia yang membawa keluar dari ketiadaan‘.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat merealisasikan kalimat syahadat La Ilaha Illa Allah baik melalui amalan hati, lisan maupun amalan perbuatan kita.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar