Rabu, 24 Juni 2015

Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ramadhan diambil dari kata Ramdha' رمضاء yang artinya ‘sangat panas’.
Penamaan bulan Ramadhan bertepatan dengan musim panas.
Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam.
Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir seorang ulama tabi’in, beliau pernah mengatakan bila diantara do’a sebagian sahabat ketika datang Ramadhan adalah.
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, 264)
Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” QS. Al Baqarah: 185.
Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan,”(Dalam ayat ini) Allah ta’ala memuji bulan puasa, yaitu bulan Ramadhan dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ‘alaihimus salam.” (Tafsirul Qur’anil Adzim, I/501, Darut Thoybah)
Puasa Ramadhan hukumnya Fardu 'Ain dan puasa Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan.
"Diriwayatkan dari Thalhah bin 'Ubaidillah ra. Bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi SAW. dan Ia berkata: “Wahai Rasulullah beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda: “puasa Ramadhan”.
Lalu orang itu bertanya lagi, Apakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku?.
Beliau bersabda: “tidak ada, kecuali bila engkau Puasa Sunnah".
Ibadah puasa yang kita jalani merupakan upaya sebagai manusia mahluk yang mulia untuk menjaga diri dari setiap maksiat dan perbuatan yang menurunkan martabat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، وَلاَ يَجْهَلْ ، فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ ، فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، مَرَّتَيْنِ ،
Jika kamu sedang berpuasa, janganlah berkata rafats (jorok), berteriak-teriak dan bersikap bodoh (maksiat). Jika ada yang memaki atau mengajak bertengkar, katakanlah, “Saya sedang puasa” 2x” (HR. Ahmad 7693, Bukhari 1904 dan Nasa’i 2216).
Berikut adalah sebuah riwayat, sahabat Jabir yang mengingatkan kita orang,
إذا صمت فليصم سمعك ، وبصرك من المحارم ، ولسانك من الكذب ، ودع أذى الجار ، وليكن عليك وقار وسكينة ، ولا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء
Jika kamu berpuasa, maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu dari segala yang haram, dan jagalah lisanmu dari kedustaan. Hindari mengganggu tetangga. Jadikan diri anda orang yang berwibawa dan tenang selama puasa. Jangan jadikan suasana hari puasamu sama dengan hari ketika tidak puasa. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Mari kita utamakan berpuasa di bulan Ramadhan ini dengan cara menghiasi hari-hari di bulan yang penuh berkah dengan amal saleh yang sesuai dengan tuntunan Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya.
Sesuai dengan Firman Allah dalam Qur'an Surah Al-Baqarah 183. yaitu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, QS:Al-Baqarah: 183.
Ibnu Hajar dalam mengulas Sahih Bukhari telah menguraikan beberapa kelebihan puasa,
Menuruti sunnah, membedakan diri dengan Ahlul Kitab, menambah kekuatan untuk beribadat, meningkatkan keikhlasan dalam beribadat, menghilangkan perasaan marah yang diakibatkan oleh kelaparan dan mendapat peluang untuk mengingati Allah dengan berzikir dan berdoa.
Perbuatan kita yang penuh keraguan karena dosa merupakan sebab pahala yang kita miliki berguguran. Ketika ramadhan kita penuh dengan dosa, puasa kita menjadi sangat tidak bermutu. Bahkan sampai Allah tidak butuh dengan ibadah puasa yang kita kerjakan.
Semacam inilah yang pernah diingatkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan yang lainnya, dari sahabat Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan semua perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh dengan amalnya (berupa) meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).”
Yang dimaksud “qauluz zur” adalah semua ucapan dusta, kebatilan, perkataan haram, dan yang menyimpang dari kebenaran.
Yang dimaksud “al-Amal bihi” adalah semua perbuatan yang dilarang oleh
Allah. Demikian keterangan al-Hafidz al-Aini dalam Umdatul Qori (10/276).
Allah menyebut setiap perbuatan maksiat yang kita lakukan sebagai tindakan kebodohan.
Berikut Allah berfirman di surat an-Nisa ayat 17,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan maksiat karena kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Mujahid ulama tabiin murid senior sahabat Ibnu Abbas, dikatakan oleh beliau,
كُلُّ مَنْ عَصَى اللهَ فهو جاهل حتى ينزع عن الذنب
Tindakan gegabah kita apabila kita orang bermaksiat kepada Allah maka sesungguhnya kita orang tidaklah mengerti dan tidak memahami.
Keterangan beliau ini disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Kita manusia, ketika semakin sering bertindak gegabah serta sembarang, kita semakin rendah derajat. Karena itulah, ulama menyebut orang yang bermaksiat, sebagai orang yang membuat hina dirinya.
Imam Yahya bin Abi Katsir sebagai salah seorang ulama tabiin, beliau mengatakan,
مَا أكْرَمَ العِبَادُ أَنْـفُسَهُم بِـمِثْلِ طَاعَةِ اللهِ وَلَا أَهَانَ العِبَادُ أَنْفُسَهُم بِـمِثْلِ مَعْصِيَةِ اللهِ
Tidak ada perbuatan yang membuat seorang hamba semakin memuliakan dirinya selain ketaatan kepada Allah. Dan tidak ada amalan yang membuat hamba semakin menghinakan dirinya selain maksiat kepada Allah.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar