Selasa, 27 September 2016

Tidak ada paksaan (memeluk) agama (Islam), memang.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Hidup itu pilihan, bukan?
Tidak ada paksaan (memeluk) agama (Islam), memang !
Pilih yang benar, atau yang sesat?
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan (memeluk) agama (Islam), Sungguh telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ …
Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir”…
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah Pelindung orang yang beriman . Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya adalah thaghut (syetan) yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kesesatan). Mereka adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya. QS. Al-Baqarah: 256 – 257
• فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8)
• قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9)
• وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya (8) Sungguh beruntung yang mensucikannya (jiwanya) (9) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (10)
Baik adalah fitrah manusia, sedang hawa nafsu adalah potensi buruk, apabila keduanya mendorong lahirnya perbuatan yang dipandu oleh hidayah, maka hasilnya: manusia akan berakhlak mulia, bernafsu mutmainah, dan masyarakat yang serasi, seimbang,, dan salam atau selamat, sejahtera dan damai.
“Baik” adalah fitrah manusia, sedang ‘hawa nafsu’ adalah potensi ‘buruk’, apabila keduanya mendorong lahirnya perbuatan yang dipandu oleh Thaghut atau syetan, untuk itu hasilnya kita sebagai manusia akan berakhlak tercela, bernafsu amarah, dan lawwamah, dan masyarakat yang terbentuk adalah keserakahan, keresahan, dan kerusakan.
Kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk tunduk dan taslim secara sempurna serta tunduk kepada perintahnya, menerima berita yang datang dari beliau 'Alaihi sholatu wa sallam dengan penerimaan yang penuh dengan pembenaran, tidak boleh menentang apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan perkataan bathil, hal yang syubhat atau ragu, dan tidak boleh juga dipertentangkan dengan perkataan seorang-pun dari manusia.
Penyerahan diri kita, tunduk patuh dan taat kepada perintah Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah merupakan kewajiban seorang muslim. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak. Taat kepada Rasulullah 'Alaihi sholatu wa sallam berarti taat kepada Allah Azza wa Jalla
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam An-Nisaa:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka.” QS: An-Nisaa’: 80.
Kita sebagai seorang hamba akan selamat dari siksa Allah Subhanahu wa Ta'ala bila ia mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kita tidaklah boleh mengambil kepada selain beliau Shallallahu 'alaihi wa sallm sebagai pemutus hukum dan tidak boleh ridha kepada hukum selain hukum beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Apa yang Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam putuskan tidak boleh ditolak dengan pendapat seorang guru, imam, qiyas dan lainnya.
Sesungguhnya kita sebagai seorang muslim tidak akan selamat dunia dan akhirat, sebelum kitanya berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa salam, dan menyerahkan ilmu yang belum jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya.
Hal tersebut artinya, berserah diri kepada nash-nash al-Qur-an dan as-Sunnah. Tidak menentangnya dengan pena’wilan yang rusak, syubhat, keraguan dan pendapat orang.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar