Rabu, 19 Oktober 2016

Berupaya Meraih Khusyu dengan Iman , Ihsan dan Tumakninah



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Berupaya Meraih Khusyu dengan
Iman , Ihsan dan Tumakninah.
Upaya agar shalat khusyuk dan pelaksanaannya, kita sendiri yang menentukan.
Untuk itu, niat tulus dari dalam hati menjadi kunci utama.
Kewajiban kita setiap muslim yang juga masuk dalam rukun islam adalah melaksanakan shalat, khususnya shalat lima waktu.
Untuk mencapai kesempurnaan dalam ibadah shalat kita harus melaksanakannya dengan khusyuk.
Bagaimana kita dapat berupaya meraih khusyu dengan
Iman , Ihsan dan Tumakninah.
Berpijak dari Islam yang dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu Iman,Islam, dan Ihsan.
Iman yang berarti "membenarkan" itu disebutkan dalam al-Quran, di antaranya dalam Surah At-Taubah:
وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ ۚ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya". Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. QS:At-Taubah: 61.
Iman menurut istilah artinya percaya dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan atau ditunjukkan dengan amal perbuatan.
Pengertian Iman Kepada Allah SWT adalah percaya dengan yakin dalam hati adanya Allah SWT ditunjukkan dengan ucapan, dan dilaksanakan dengan amal perbuatan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. QS:An-Nisaa: 136.
Dengan demikian, orang yang beriman adalah orang yang percaya Allah SWT., malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, takdir-Nya, dan hari akhir zaman.
Untuk itu, kita muslim yang beriman hendaknya juga tidak memandang ‘Ihsan’ itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari ‘Addin’ dan bagian terbesar dari ke Islamannya.
Dalam mengejawantahkan ‘ihsan’ bagi mahluk sosial seperti kita manusia, khususnya kaum muslim ialah dengan cara berbuat baik.
Karena dengan pemahaman ihsan ini kita merasa selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat,
Selain berbuat baik Ihsan juga merupakan salah satu cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah SWT.
Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. QS:Al-Baqarah:186.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, QS:Qaaf:16.
إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. QS:Al-Fajr: 14
Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat Ihsan ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an...
Sesungguhnya, dengan keimanan dan ihsan yang berupaya kita raih, perlu ketenangan dan jeda dalam melakukan sesuatu gerakan dalam shalat sebagai salah satu bentuk latihan dalam mengontrol pikiran kita.
Jika kita melakukan sesuatu dengan penuh ketenangan, maka pikiran akan lebih terkonsentrasi pada apa yang sedang kita laksanakan, seluruh tindakan diiringi dengan penuh kesadaran yang tinggi, dan kita senantiasa selalu mengendalikan pikiran kita dengan penuh konsentrasi.
Salah satu rukun shalat terpenting adalah tuma’ninah dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.
Tuma’ninah adalah tenang sejenak setelah semua anggota badan berada pada posisi sempurna ketika kita melakukan suatu gerakan rukun shalat.
Tuma’ninah ketika rukuk berarti tenang sejenak setelah rukuk sempurna. Tuma’ninah ketika sujud berarti tenang sejenak setelah sujud sempurna.
Tuma’ninah dalam setiap gerakan rukun shalat merupakan bagian penting dalam shalat yang wajib dilakukan. Jika tidak tuma’ninah maka shalat kita tidaklah sah
.
Apabila kita terlalu cepat shalatnya, menjadikan shalat kita tidak tuma’ninah. Jadikanlah sabar dan shalat telah difirmankan Allah SWT.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. QS:Al-Baqarah: 153.
Perlu kesabaran dalam shalat, tenang dan tidak tergesa-gesa, agar kita dapat melaksanakan shalat dengan Tuma’ninah.
Makna tuma’ninah dalam pelasanaan shalat sebagai salah satu cara untuk mencapai kesempurnaan shalat.
“Tuma’ninah” adalah sebagai salah satu rukun shalat diantara rukun shalat yang lainnya.
Tuma’ninah juga sebagai sarana mencapai tingkat kesempurnaan shalat guna membangkitkan kesadaran diri, bahwa kita sedang berhadapan dengan Zat Yang Maha Kuasa
Tuma’ninah dapat dicapai dengan cara rileks dan tidak tergesa gesa dalam melaksanakan gerakan shalat pikiran hanya terpokus pada apa yang sedang dikerjakanya, Usahakan tubuh kita tidak tegang.
Segala sesuatu yang dikerjakan dengan penuh konsentrasi dan ketenangan akan membawa hasil yang baik dan sempurna.
Bagaimana shalat yang baik telah difirmankan Allah SWT dalam suart Al-Baqarah berikut ini.
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan
khusyu´. QS:Al-Baqarah: 238
Pikiran kita yang tenang dan damai adalah pikiran yang penuh dengan energi yang melimpah karena kita hanya berpokus pada satu tujuan, sehingga pikiran tidak terpecah.
Apabia kita damai dan tenang, maka pikiran kita akan terpusat pada apa yang sedang kita lakukan.
Salah satu syarat mencapai tingkatan shalat yang sempurna salah satunya adalah Tuma’ninah,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan tuntunan untuk memperbaiki shalat.
Wahai fulan, perbaguslah shalatmu, tidakkah seorang yang shalat mencermati shalatnya, bagaimana dia mengerjakan shalatnya. Sesungguhnya dia shalat untuk kebaikan dirinya sendiri. (HR. Muslim 5.75/642)
Tumaninah dapat dicapai dengan cara rileks dan tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan gerakan shalat pikiran hanya terpokus pada apa yang sedang dikerjakanya, Usahakan tubuh anda tidak tegang.
Shalat seseorang tidak akan sah kecuali dengan menunaikan rukun thuma'ninah (ithmi'naan).
Padahal rukun thuma'ninah ini menyertai rukun shalat yang lain, maksudnya adalah bahwa harus ada thuma'ninah ketika berdiri dalam shalat, ketika ruku', sujud dan ketika duduk di antara dua sujud.
Akan datang pada suatu masa, orang yang mengerjakan shalat tetapi mereka belum shalat (HR. Ahmad).
Banyak orang yang mendirikan shalat, sementara ia hanya mendapatkan rasa lelah dan payah (HR. Abu Dawud).
Bisa jadi seseorang mengerjakan shalat selama enam puluh tahun, tetapi Allah tidak menerima satu shalat pun darinya.
Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda :
Sesungguhnya seseorang mengerjakan shalat selama enam puluh tahun, tetapi satu shalat pun tidak diterima. Barangkali karena dia menyempurnakan rukuk, tetapi tidak menyempurnakan sujud. Atau, dia menyempurnakan sujud, tetapi tidak menyempurnakan rukuk.
Hal ini berdasarkan hadits Thalq bin Ali al Hanafiy dan Abu Hurairah radliyallahu 'anhuma berikut :
“Allah tidak akan melihat shalat orang yang tidak menegakkan tulang punggungnya antara rukuk dan sujudnya.”
Dari Abu Qatadah, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sejelek-jelek orang yang mencuri adalah orang yang mencuri shalatnya.” Mereka bertanya : Wahai Rasulullah! Bagaimana dia bisa mencuri shalatnya?
Beliau menjawab : “Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” Atau beliau bersabda :
“Dia tidak menegakkan tulang punggungnya waktu rukuk dan sujud.”
Dalam sebuah Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan tuntunan untuk memperbaiki shalat.
َوَفِي لَفْظٍ لِأَحْمَدَ : ( فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ اَلْعِظَامُ )
Dan menurut lafazh riwayat Ahmad : "Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga tulang-tulang itu kembali (seperti semula)."
َوَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ ( حَتَّى تَتْمَئِنَّ قَائِمًا )
Hal serupa terdapat dalam hadits Rifa'ah Ibnu Rafi' menurut riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban: "Sehingga engkau tenang berdiri (mu)."
Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga bisa mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi kemungkaran serta mengajarkannya kepada orang lain.
Wallahu a'lam bishshawab,
Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar