Jumat, 20 Mei 2011

Menuju Taqwa pada Allah SWT

Menuju Taqwa pada Allah SWT
Oleh: Doso Winarno

Tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan adalah untuk mencapai ketaqwaan ataula'allakum tattaqun”.
"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa " ( QS Al-Baqarah : 183 ).

1.    Puasa Ramadhan hukumnya Fardu `Ain.
2.    Puasa Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk                                     menyempurnakan  ”Ketaqwaan”.
Kondisi negeri yang semakin terpuruk, karena semakin lunturnya iman dan ketaqwaan pada Allah SWT. Ditunjukkan ayat  ”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka itu disebabkan perbuatannya” (Q.S. 7. Al A’raaf: 96).
Al-Quran menggunakan kata shiyam sebanyak delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum, tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak berbicara.
Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun (QS Maryam [19]: 26).  
Demikian ucapan Maryam a.s. yang diajarkan oleh malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa a.s.). Kata ini juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa "berpuasa adalah baik untuk kamu", dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat.  
Kata-kata tersebut diambil dari akar kata yang sama yakni sha-wa-ma bermakna "menahan" dan "berhenti atau "tidak bergerak". Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas --apa pun aktivitas itu-- dinamai shaim (berpuasa). Pengertian bahasa ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk "menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari".  
Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa, mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.   Betapa pun, shiyam atau shaum --bagi manusia-- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.
Hadis qudsi menyatakan bahwa, "Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran" dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.  
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.   Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa. Sabar dalam menghadapi kesulitan hidup yang semakin sulit ini dengan terus berusaha (berikhtiar) secara bersungguh-sungguh dan professional.
Selain sabar, dalam tafsir Alquran terdapat peringkat manusia, dengan urutan dari berlatih sabar yang mendasari untuk berbuat ikhlas dan mampu mengimplemetasikan sebagai rasa syukur atau tasyakur.   
Ketahuilah bahwa dengan berlatih Kesabaran, keihlasan dan tasyakur mampu membawa manusia pada tingkatan ”taqwa” pada Allah SWT.
”Taqwa” diambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti, "Hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah"  
Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhi-Nya, sedangkan "Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada." Karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.  
Untuk menuju taqwa, perlu mawas diri bahwa dalam bekerja dan aktivitas merupakan ibadah (aba’dun),  hanya sebagian kecil dari rata-rata umur harapan hidup 70 tahun, sepertiganya untuk tidur (23,33 tahun) dan masa bermain anak-anak (10 tahun), untuk berkerja bersenang-senang (46,67 tahun), sedangkan hanya (1,04 tahun)  untuk beribadah shalat wajib.
Islam mengajarkan supaya memanfaatkan waktu. Firman Allah dalam surat Al-Ashr: “Demi masa...” dalam surat: As-Syarh ayat 7: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan suatu pekerjaan, berpindahlah kepada pekerjaan yang lain”.
Agama Islam sebagai agama samawi mempunyai pegangan Alquran dan sunnah, yang sudah tidak perlu lagi diperbandingkan dengan keberadaan kitab Zabur, Taurat dan Injil karena keempatnya diwahyukan oleh Allah SWT. Hanya Islam agama yang berani menantang dan tidak memaksa untuk memeluknya sebelum dapat membuktikan bahwa Islam itu Benar, dapat menyelamatkan manusia dunia akhirat?
Islam agama yang benar, dapat dibuktikan kebenarannya apabila ajarannya tidak bertentangan dengan hukum alam (ecology) dan Fitrah Manusia: 1) Punya Ratio, 2) Punya Hati, 3) Punya Nafsu.
Agama Islam tidak bertentangan dengan hukum alam atauEkologi”, ilmu yang mempelajari bentuk hidup dan kehidupan dalam hubungannya tertentu pada suatu periode waktu tertentu dan tempat tertentu.
Fitrah manusia diciptakan, secara biologis manusia tergolong Homo sapiens. Manusia sebagai mahluk berbudaya dilengkapi dengan bentuk fisik, fungsi tubuh serta karakteristik perkembangan  tubuhnya yang berbeda dengan hewan-hewan lainnya. Manusia adalah suatu produk dari Evolusi Hutan mempunyai Fitrah dan sifat sebagai manusia:
1)    Punya Ratio, manusia adalah mahluk berpikir; sifat manusia selalu ingin tahu;
2)    Punya Hati, sifat manusia ingin bermasyarakat; bertoleransi; diakui disayangi
3)    Punya Nafsu, manusia ingin makan; kaya, ingin hubungan biologis;
Selain bekerja dengan niat beribadah, berikhtiar secara ihlas dan dikerjakan dengan penuh rasa syukur, disarankan untuk berdo’a pada Allah SWT.
Berdo'a adalah sunat, sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Allah berfirman :
وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي  سيدخلون جهنم داخرين
"Dan berkatalah Tuhanmu : "Berdo'alah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri untuk menyembah-Ku, maka mereka akan masuk ke neraka Jahanam dengan terhina"
قال الرسول صلى الله عليه وسلم : {إن الدعاء هو العبادة} رواه الأربعة وصححه الترمذي.
"Sesungguhnya berdo'a itu adalah ibadah"
أللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
"Ya Allah ! ya Tuhan kami ! berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, lindungilah kami dari siksaan api neraka".  
“Ya Allah jadikanlah saudaraku, sahabatku dan teman-temanku, anak istriku sebagai orang yang pandai bersyukur, bertaqwa dan bermanfaat dunia-akhirat”
Kupat Janure wis tuwo, Menawi lepat nyuwun pangapuro!

Yogyakarta, 10.21.2005
disampaikan: Doso Winarno

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar