Rabu, 25 Mei 2011

Sebaik-baik Harta yang Shalih



“Wahai Amr, sebaik-baik harta yang shalih adalah milik orang shalih.” (HR Ahmad) 

Prinsip Ekonomi Al-Islami:
Hidup hemat dan tidak bermewah-mewah;
Menjalankan usaha-usaha yang halal;
Implementasi zakat;
Penghapusan/pelarangan riba.


Ekonomi Islam bernilai Ilahiyah

Ekonomi dalam Islam adalah ilmu yang mempelajari segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memperoleh falah (kedamaian & kesejahteraan dunia-akhirat)

Perilaku manusia disini berkaitan dengan landasan-landasan syariat sebagai rujukan berperilaku dan kecenderungan-kecenderungan dari fitrah manusia. Dan dalam ekonomi Islam, kedua hal tersebut berinteraksi dengan porsinya masing-masing hingga terbentuklah sebuah mekanisme ekonomi yang khas dengan dasar-dasar nilai ilahiyah.

Selasa, 24 Mei 2011

Pererat Tali Silaturahmi



Assalamu'alaikum Wr Wb,
Mari Bersilaturahmi

Menghubungkan silaturrahim, adalah amalan yang meningkatkan iman di dalam sesuatu kaum.

Silaturahmi, tidak hanya membatasi sekadar saling bersalaman, menyentuhkan tangan, atau permohonan maaf. Tetapi suatu kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia. Hal ini sesuai dengan asal kata “silaturahmi” itu sendiri, yaitu shilat atau washi, yang berarti “menyambungkan” atau “menghimpun” dan “Arrahiim” yang berarti kasih sayang.

Pengertian “menyambungkan” adalah suatu proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Yang disebut silaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” (HR Bukhari)

Karena itu, adalah teramat penting bagi kita, tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh di dalam bersilaturahmi tersebut, namun haruslah benar-benar bersungguh-sungguh menata hati agar kita mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu dari apa yang dilakukan orang terhadap kita.

Pada suatu kesempatan Rasulullah SAW memberikan taushiyah kepada para sahabatnya, “Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah,” ungkap Rasulullah. Sahabat bertanya: “ Apakah yang dimaksud itu ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW kemudian menjawab: “Yaitu hendaknya kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskan engkau, memberikan sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepada engkau, dan hendaknya engkau bersabar kepada orang yang menganggap engkau bodoh.” 
(HR Hakim)

Allah Maha Tahu akan segala kebutuhan, harapan, dan keinginan kita. Bahkan Allah pemilik segala yang kita inginkan. Dia-lah penentu segala kejadian
yang terbaik bagi dunia maupun akhirat kita. Allah pun tahu persis segala sesuatu yang akan membinasakan dunia dan akhirat kita.

Allah Maha Gagah, Pelindung Yang Maha Sempurna. Jikalau Allah berkehendak   melindungi makhluk-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang menganiayanya kendati bergabung seisi alam ini untuk melakukan sesuatu. Orang yang disayangi Allah, sempurnalah kebahagiaannya. Semua kebutuhannya terpenuhi, kesulitan akan diberi jalan keluar, bahkan akan dibela dari segala yang mengancamnya dengan pembelaan yang pasti sangat memuaskan.

Silaturahmi yang kita laksanakan  bukan karena mengharapkan imbalan dari makhluk. Bahkan berharap pujian dan penghargaan, juga bukan karena mendambakan agar merekapun menyambungkan tali silaturahmi sebagaimana yang telah kita lakukan. Melainkan dilakukan semata-mata agar kita disayangi oleh Allah Azza waa Jalla. Dzat yang Maha Agung, Maha Hebat, Maha Suci, dan Maha Mulia.

Sambungkan tali silaturahmi, hanya dengan jalinan silaturahmi yang erat, umat Islam akan menjadi kuat. 
Wallahu a’lam bish-shawab.


Jumat, 20 Mei 2011

Menuju Taqwa pada Allah SWT

Menuju Taqwa pada Allah SWT
Oleh: Doso Winarno

Tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan adalah untuk mencapai ketaqwaan ataula'allakum tattaqun”.
"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa " ( QS Al-Baqarah : 183 ).

1.    Puasa Ramadhan hukumnya Fardu `Ain.
2.    Puasa Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk                                     menyempurnakan  ”Ketaqwaan”.
Kondisi negeri yang semakin terpuruk, karena semakin lunturnya iman dan ketaqwaan pada Allah SWT. Ditunjukkan ayat  ”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka itu disebabkan perbuatannya” (Q.S. 7. Al A’raaf: 96).
Al-Quran menggunakan kata shiyam sebanyak delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum, tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak berbicara.
Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun (QS Maryam [19]: 26).  
Demikian ucapan Maryam a.s. yang diajarkan oleh malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa a.s.). Kata ini juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa "berpuasa adalah baik untuk kamu", dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat.  
Kata-kata tersebut diambil dari akar kata yang sama yakni sha-wa-ma bermakna "menahan" dan "berhenti atau "tidak bergerak". Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas --apa pun aktivitas itu-- dinamai shaim (berpuasa). Pengertian bahasa ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk "menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari".  
Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa, mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.   Betapa pun, shiyam atau shaum --bagi manusia-- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.
Hadis qudsi menyatakan bahwa, "Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran" dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.  
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.   Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa. Sabar dalam menghadapi kesulitan hidup yang semakin sulit ini dengan terus berusaha (berikhtiar) secara bersungguh-sungguh dan professional.
Selain sabar, dalam tafsir Alquran terdapat peringkat manusia, dengan urutan dari berlatih sabar yang mendasari untuk berbuat ikhlas dan mampu mengimplemetasikan sebagai rasa syukur atau tasyakur.   
Ketahuilah bahwa dengan berlatih Kesabaran, keihlasan dan tasyakur mampu membawa manusia pada tingkatan ”taqwa” pada Allah SWT.
”Taqwa” diambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti, "Hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah"  
Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhi-Nya, sedangkan "Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada." Karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.  
Untuk menuju taqwa, perlu mawas diri bahwa dalam bekerja dan aktivitas merupakan ibadah (aba’dun),  hanya sebagian kecil dari rata-rata umur harapan hidup 70 tahun, sepertiganya untuk tidur (23,33 tahun) dan masa bermain anak-anak (10 tahun), untuk berkerja bersenang-senang (46,67 tahun), sedangkan hanya (1,04 tahun)  untuk beribadah shalat wajib.
Islam mengajarkan supaya memanfaatkan waktu. Firman Allah dalam surat Al-Ashr: “Demi masa...” dalam surat: As-Syarh ayat 7: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan suatu pekerjaan, berpindahlah kepada pekerjaan yang lain”.
Agama Islam sebagai agama samawi mempunyai pegangan Alquran dan sunnah, yang sudah tidak perlu lagi diperbandingkan dengan keberadaan kitab Zabur, Taurat dan Injil karena keempatnya diwahyukan oleh Allah SWT. Hanya Islam agama yang berani menantang dan tidak memaksa untuk memeluknya sebelum dapat membuktikan bahwa Islam itu Benar, dapat menyelamatkan manusia dunia akhirat?
Islam agama yang benar, dapat dibuktikan kebenarannya apabila ajarannya tidak bertentangan dengan hukum alam (ecology) dan Fitrah Manusia: 1) Punya Ratio, 2) Punya Hati, 3) Punya Nafsu.
Agama Islam tidak bertentangan dengan hukum alam atauEkologi”, ilmu yang mempelajari bentuk hidup dan kehidupan dalam hubungannya tertentu pada suatu periode waktu tertentu dan tempat tertentu.
Fitrah manusia diciptakan, secara biologis manusia tergolong Homo sapiens. Manusia sebagai mahluk berbudaya dilengkapi dengan bentuk fisik, fungsi tubuh serta karakteristik perkembangan  tubuhnya yang berbeda dengan hewan-hewan lainnya. Manusia adalah suatu produk dari Evolusi Hutan mempunyai Fitrah dan sifat sebagai manusia:
1)    Punya Ratio, manusia adalah mahluk berpikir; sifat manusia selalu ingin tahu;
2)    Punya Hati, sifat manusia ingin bermasyarakat; bertoleransi; diakui disayangi
3)    Punya Nafsu, manusia ingin makan; kaya, ingin hubungan biologis;
Selain bekerja dengan niat beribadah, berikhtiar secara ihlas dan dikerjakan dengan penuh rasa syukur, disarankan untuk berdo’a pada Allah SWT.
Berdo'a adalah sunat, sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Allah berfirman :
وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي  سيدخلون جهنم داخرين
"Dan berkatalah Tuhanmu : "Berdo'alah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri untuk menyembah-Ku, maka mereka akan masuk ke neraka Jahanam dengan terhina"
قال الرسول صلى الله عليه وسلم : {إن الدعاء هو العبادة} رواه الأربعة وصححه الترمذي.
"Sesungguhnya berdo'a itu adalah ibadah"
أللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
"Ya Allah ! ya Tuhan kami ! berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, lindungilah kami dari siksaan api neraka".  
“Ya Allah jadikanlah saudaraku, sahabatku dan teman-temanku, anak istriku sebagai orang yang pandai bersyukur, bertaqwa dan bermanfaat dunia-akhirat”
Kupat Janure wis tuwo, Menawi lepat nyuwun pangapuro!

Yogyakarta, 10.21.2005
disampaikan: Doso Winarno

Fitrah Manusia Makhluk Mulia

Fitrah Manusia Makhluk Mulia
Oleh: Doso Winarno

Fitrah manusia sebenarnya sebagai makhluk mulia, sempurna dan baik. “Fitrah manusia itu seharusnya dijaga dengan perilaku yang baik pula,” katanya. Hanya dalam kenyataannya, manusia selalu saja dalam kegelisahan karena persoalan hidup yang melilitnya. Fitrah sebagai manusia sempurna, tidak terjaga karena perilaku yang tidak terpuji.

Manusia senantiasa dililit permasalahan dengan jiwa yang selalu berontak. “Sikap berontak manakala tuntutan manusia tidak terpenuhi,” Manusia itu sendiri, selalu tergoda dengan kedudukan, kekuasaan dan ambisi jabatan. 


Fitrah manusia sering tidak terjaga karena ambisi dan nafsu bersifat duniawi semata.

“Sesuatu yang tidak dilandasi ibadah dan keiklasan, seringkali terjebak pada kepentingan sesaat,”
Salah satu ciri orang yang dirindukan untuk masuk surga adalah mereka yang mau memaafkan orang lain padahal ada kesempatan untuk balas dendam. Hal ini sangat bertentangan dengan sifat manusia yang selalu mendendam terhadap sebuah kesalahan dan sulit untuk memaafkan meskipun dalam rentan waktu yang cukup lama.

Ramadan momen yang tepat untuk latihan karena apa yang dilakukan oleh manusia dalam 30 hari ini akan menentukan kebiasaan mendatang. Kalau di bulan Ramadan banyak beristigfar dan memohon ampun pada Allah SWT bulan-bulan selanjutnya akan mudah minta maaf dan memaafkan orang lain. Salah satu sahabat Rasulullah SAW yang termasuk salah satu penghuni surga memiliki kebiasaan untuk menghapus dendam orang lain sebelum tidur serta memaafkan kesalahan orang lain sebelum orang yang bersangkutan minta maaf.


Kewajiban yang telah ditetapkan waktunya, semisal shalat dan puasa, jika memang dipenuhi syaratnya dapat saja diqadha’ pada waktu lain. Akan tetapi, dalam perspektif tasawuf, qadha’ tidak mungkin dilakukan di waktu yang lain. Sebab, di waktu lain, kita telah mempunyai kewajiban yang berbeda. Dengan ungkapa lain, setiap detik Allah swt telah mewajibkan amal perbuatan yang baru, yaitu kewajiban syari’at dan tugas qalbiyah bathiniah yang wajib dilakukan setiap saat. Intinya, di sepanjang waktu bergulir telah diisi denga tugas dan kewajibannya sendiri-sendiri. Oleh karena itu orang, seorang salik harus menunaikan segala kewajiban pada waktunya. Sebab pada waktu yang akan datang, tidak ada lagi kesempatan mengqadhanya (ibnu ’Ajibah, Iqazhul Himam, hal 282-283; An-Nafazi dan Asy-Syaqawi, Jil II, hal 37).
”Bagian hidupmu yang terlewat tidak dapa tergantikan, dan apa pun yang kamu petik darinya tidak ternilai harganya”

Waktu merupakan suatu kesempatan sekaligus usia seseorang. Artinya, usia bertindak sebagai kesempatan yang dimiliki seseorang untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Modal seseorang adalah usianya. Lewatnya usia berarti lewatnya kesempatan sekaligus penyusutan modal, dan apapun yang telah lewat tidak akan hadir kembali. Oleh karena itu, siapapun yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk melakukan amal kebajikan dinilai sangat beruntung. Sebaliknya, siapapun yang melewatkan usia tanpa guna dianggap sangat merugi. Waktu adalah surga, tapi waktu juga neraka. (Ibnu ’Ajibah, Iqazhul Himam, hal 283-284; An-Nafazi dan Asy-Syaqawi, Jil II, hal 37-38).

Minggu, 01 Mei 2011

http://3.bp.blogspot.com/-BJxb1aPikr8/Tb4I0yj7WQI/AAAAAAAAAOw/bwkzaX3H8bk/s1600/Winner+Indi+Manega+ok1.jpg

Thank's for your attention's Al-Islami Caligrafi Mode Collection's de-Jogja, Indonesia Jogja Banjir Lahar dingin karn Erupsi Merapi, deras sekali saat itu kami di ds Srunen berjarak 4 Km dr puncak Merapi, luar biasa hebat, Allahuakbar. <("Winner Indi Manega")>.