Minggu, 28 Juni 2015

‘Ar Rayyan’ salah satu pintu surga dari delapan pintu disediakan khusus bagi orang yang berpuasa .

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bukankah bagi kita orang yang berpuasa di bulan Ramadhan akan disediakan Ar Rayyan?
‘Ar Rayyan’ secara bahasa berarti ‘puas, segar’ dan ‘tidak haus’.
‘Ar Rayyan’ ini adalah salah satu pintu di surga dari delapan pintu yang ada yang disediakan khusus bagi orang yang berpuasa .
Bukankah kita beribadah puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu waktu dikabulkannya do’a kita?
Untuk itu mari kita perbanyak memohon kepada Allah SWT, semoga Allah memperbaiki diri kita, dan menjauhkan kita dari keburukan hati dan amal kita. Karena hanya dengan pertolongan-Nya, kita bisa selamat dari semua fitnah dunia.
يَاحَيُّ يَاقَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنـَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا اِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَينٍ
Ya Hayyu ya Qayyum, dengan rahmat-Mu kami memohon, perbaikilah semua urusan kami dan jangan Engkau pasrahkan kepada diri kami, sekejap matapun.
Benarkah kita orang yang berpuasa akan mendapatkan pengampunan dosa?
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar sebagaimana dalam Mujma’ul Zawaid dan Al Haytsami mengatakan periwayatnya tsiqoh/terpercaya. Lihat Jami’ul Ahadits, Imam Suyuthi).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Muslim)
Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,”Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal saleh dikerjakan sekaligus untuk memotivasi umat islam untuk melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang yang beriman. Setan-setan diikat kemudian dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan selain Ramadhan.” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 4, Wazarotul Suunil Islamiyyah).
Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Al Fath menyebutkan, “Ar Rayyan dengan menfathahkan huruf ro’ dan mentasydid ya’, mengikuti wazan fi’il (kata kerja) dari kata ‘ar riyy‘ yang maksudnya adalah nama salah satu pintu di surga yang hanya dikhususkan untuk orang yang berpuasa memasukinya.
Dari sisi lafazh dan makna ada kaitannya. Karena kata ar rayyan adalah turunan dari kata ar riyy yang artinya bersesuaian dengan keadaan orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa kelak akan memasuki pintu tersebut dan tidak pernah merasakan haus lagi.” (Fathul Bari, 4: 131).
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam lafazh hadits lainnya disebutkan bahwa di surga itu ada delapan buah pintu. Salah satu pintu dinamakan Ar Rayyan. Pintu tersebut tidaklah dimasuki selain orang yang berpuasa (lihat Fathul Bari, 4: 132). Hadits yang dimaksud adalah,
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari no. 3257).
Keutamaan puasa adalah sebagai perisai, benteng pertahanan mental kita dari perbuatan kemaksiatan.
Telah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,
إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ
“Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’)
Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala yang Tak Terhingga.
Hadits di atas juga menunjukkan al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan dari Allah sesuai dengan jenis amalan. Dan juga menandakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً اتِّقَاءَ اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْراً مِنْهُ
“Jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, maka Allah akan mengganti padamu dengan yang lebih baik” (HR. Ahmad 5: 78, sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Pada bulan suci Ramadhan terdapat malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan.
Dikarenakan pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan).
Pada malam kemuliaan inilah, yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, pada saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ – وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ – لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr [97] : 1-3)
Dan Allah ta’ala juga berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” QS. Ad Dukhan: 3.
Ibnu Abbas, Qotadah dan Mujahid mengatakan bahwa malam yang diberkahi tersebut adalah malam lailatul qadar. (Lihat Ruhul Ma’ani, 18/423, Syihabuddin Al Alusi).
Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan.
Bau Mulut Orang yang Bepuasa Lebih Harum di Hadapan Allah dari pada Bau Misik atau minyak Kasturi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ . وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ . وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim).
Puasa kita akan Memberikan Syafaat bagi kita orang yang menjalankannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’.
Dan Al-Qur’an pula berkata,’Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan.’” (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Mujma’ul Zawaid).
Dapatkan keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan dengan cara menghiasi hari-hari di bulan Ramdhan yang penuh berkah dengan amal saleh yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Rabu, 24 Juni 2015

Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ramadhan diambil dari kata Ramdha' رمضاء yang artinya ‘sangat panas’.
Penamaan bulan Ramadhan bertepatan dengan musim panas.
Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam.
Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir seorang ulama tabi’in, beliau pernah mengatakan bila diantara do’a sebagian sahabat ketika datang Ramadhan adalah.
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, 264)
Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” QS. Al Baqarah: 185.
Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan,”(Dalam ayat ini) Allah ta’ala memuji bulan puasa, yaitu bulan Ramadhan dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ‘alaihimus salam.” (Tafsirul Qur’anil Adzim, I/501, Darut Thoybah)
Puasa Ramadhan hukumnya Fardu 'Ain dan puasa Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan.
"Diriwayatkan dari Thalhah bin 'Ubaidillah ra. Bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi SAW. dan Ia berkata: “Wahai Rasulullah beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda: “puasa Ramadhan”.
Lalu orang itu bertanya lagi, Apakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku?.
Beliau bersabda: “tidak ada, kecuali bila engkau Puasa Sunnah".
Ibadah puasa yang kita jalani merupakan upaya sebagai manusia mahluk yang mulia untuk menjaga diri dari setiap maksiat dan perbuatan yang menurunkan martabat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، وَلاَ يَجْهَلْ ، فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ ، فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، مَرَّتَيْنِ ،
Jika kamu sedang berpuasa, janganlah berkata rafats (jorok), berteriak-teriak dan bersikap bodoh (maksiat). Jika ada yang memaki atau mengajak bertengkar, katakanlah, “Saya sedang puasa” 2x” (HR. Ahmad 7693, Bukhari 1904 dan Nasa’i 2216).
Berikut adalah sebuah riwayat, sahabat Jabir yang mengingatkan kita orang,
إذا صمت فليصم سمعك ، وبصرك من المحارم ، ولسانك من الكذب ، ودع أذى الجار ، وليكن عليك وقار وسكينة ، ولا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء
Jika kamu berpuasa, maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu dari segala yang haram, dan jagalah lisanmu dari kedustaan. Hindari mengganggu tetangga. Jadikan diri anda orang yang berwibawa dan tenang selama puasa. Jangan jadikan suasana hari puasamu sama dengan hari ketika tidak puasa. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Mari kita utamakan berpuasa di bulan Ramadhan ini dengan cara menghiasi hari-hari di bulan yang penuh berkah dengan amal saleh yang sesuai dengan tuntunan Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya.
Sesuai dengan Firman Allah dalam Qur'an Surah Al-Baqarah 183. yaitu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, QS:Al-Baqarah: 183.
Ibnu Hajar dalam mengulas Sahih Bukhari telah menguraikan beberapa kelebihan puasa,
Menuruti sunnah, membedakan diri dengan Ahlul Kitab, menambah kekuatan untuk beribadat, meningkatkan keikhlasan dalam beribadat, menghilangkan perasaan marah yang diakibatkan oleh kelaparan dan mendapat peluang untuk mengingati Allah dengan berzikir dan berdoa.
Perbuatan kita yang penuh keraguan karena dosa merupakan sebab pahala yang kita miliki berguguran. Ketika ramadhan kita penuh dengan dosa, puasa kita menjadi sangat tidak bermutu. Bahkan sampai Allah tidak butuh dengan ibadah puasa yang kita kerjakan.
Semacam inilah yang pernah diingatkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan yang lainnya, dari sahabat Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan semua perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh dengan amalnya (berupa) meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).”
Yang dimaksud “qauluz zur” adalah semua ucapan dusta, kebatilan, perkataan haram, dan yang menyimpang dari kebenaran.
Yang dimaksud “al-Amal bihi” adalah semua perbuatan yang dilarang oleh
Allah. Demikian keterangan al-Hafidz al-Aini dalam Umdatul Qori (10/276).
Allah menyebut setiap perbuatan maksiat yang kita lakukan sebagai tindakan kebodohan.
Berikut Allah berfirman di surat an-Nisa ayat 17,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan maksiat karena kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Mujahid ulama tabiin murid senior sahabat Ibnu Abbas, dikatakan oleh beliau,
كُلُّ مَنْ عَصَى اللهَ فهو جاهل حتى ينزع عن الذنب
Tindakan gegabah kita apabila kita orang bermaksiat kepada Allah maka sesungguhnya kita orang tidaklah mengerti dan tidak memahami.
Keterangan beliau ini disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Kita manusia, ketika semakin sering bertindak gegabah serta sembarang, kita semakin rendah derajat. Karena itulah, ulama menyebut orang yang bermaksiat, sebagai orang yang membuat hina dirinya.
Imam Yahya bin Abi Katsir sebagai salah seorang ulama tabiin, beliau mengatakan,
مَا أكْرَمَ العِبَادُ أَنْـفُسَهُم بِـمِثْلِ طَاعَةِ اللهِ وَلَا أَهَانَ العِبَادُ أَنْفُسَهُم بِـمِثْلِ مَعْصِيَةِ اللهِ
Tidak ada perbuatan yang membuat seorang hamba semakin memuliakan dirinya selain ketaatan kepada Allah. Dan tidak ada amalan yang membuat hamba semakin menghinakan dirinya selain maksiat kepada Allah.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Selasa, 16 Juni 2015

Pada siapa kita manusia patuh dan taat ?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Pada siapa kita manusia patuh dan taat ?
Fungsi Manusia: sebagai Abidullah dan Sebagai Khalifatullah fil-ardi.
Manusia sebagai Abidullah, manusia seharusnya tunduk patuh (sami’na wa atha’na) sebagai pijakan perbuatan manusia sebagai dasarnya firman Allah SWT dalam surat Adz-Dzariyat:56 yang berbunyi.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS:Adz-Dzaariyat:56.
Kita berserah diri (Taslim) تسليم, Patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, kita lakukan secara lahir dan bathin.
Kita orang sebaiknya tidak menolak sesuatu dari Al-Qur'an dan A-Sunnah yang Shahih, tidak juga menolaknya itu dengan Qiyas atau Analogi, Perasaan, Kasyf yaitu Iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib, Ucapan seorang Syaikh, ataupun pendapat imam dan yang lainnya.”
Imam Muhammad bin Syihab az-Zuhri Rahimahullah berkata:
“Allah yang menganugerahkan risalah (mengutus para Rasul), kewajiban Rasul adalah menyampaikan risalah, dan kewajiban kita adalah tunduk dan taat.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Kitabut Tauhid. Lihat kitab Fat-hul Baari XIII/503.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)
Dalam surat QS. Ali Imran telah difirmankan akan adanya kebenaran kitab yang diturunkan sebelum Al-Quran Nul Karim.
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ
Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, QS:Ali Imran:3.
Manusia sbg Khalifah, manusia bertindak berdasarkan akalnya yang telah difirmankan Allah SWT dalamsurat Ali Imran 190 yang berbunyi:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, QS:Ali Imran:190.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
pijakan perbuatan manusia adalah Fi’il Allah (Sunnatullah: Perbuatan atau ciptaan Allah).
Kedua fungsi itu dapat dilakukan bila ia memiliki kesadaran.
Kesadaran adalah hal yang paling fundamental pada manusia. Sebab kesadaran itu mempengaruhi pikiran dan perbuatan. Jadi inti dari manusia adalah kesadarannya.
Manusia tegak dengan kesadarannya, demikian pula manusia runtuh dengan kesadarannya. Bila tegak, martabat manusia lebih tinggi dari malaikat, dan sebaliknya bila runtuh, manusia menjadi lebih hina dari binatang telah difirmankan Allah dalam surat Al-Furqan berikut ini.
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). QS:Al-Furqaan:44.
Allah telah menciptakan segala sesuatu secara lengkap bagi manusia diuangkapkan dalam firmanya dalam surat Al-Baqarah berikut ini.
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. QS:Al-Baqarah:29.
Kita manusia telah dilahirkan dibesarkan secara prinsip tidak punya apa-apa, untuk itu hidup adalah pilihankita manusia untuk memilihhidup secara tegak menjadi (mu’min) atau memilih hidup sengsara atau runtuh (kufur) yang telah diingatkan dalam surat Al-Kahfi berikut ini.
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. QS:Al-Kahfi: 29.
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir”
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. QS:Al-Baqarah: 257.
Hidup adlah pilihan kita manusia apakah kita terinspirasi untuk melakukan kejahatan karena kita akan merugi karena kita orang mengotori hidup ini atau hidup aman dengan ketakwaan sehingga beruntung sampai mendapat kesucian jiwa seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam surat Asy-Syams berikut ini.
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. QS:Asy-Syams: 8,9 dan 10.
Menjadi manusia yang baik merupakan fitrah manusia, sedangkan hawa nafsu kita jauhi yang berpotensi buruk, apabila keduanya mendorong lahirnya perbuatan yang dipandu oleh hidayah, maka hasilnya kita sebagai manusia akan berakhlak mulia, bernafsu mutmainah, dan masyarakat yang terbentuk masyarakat yang selamat, sejahtera serta cinta damai.
Menjalani hidup dengan bertingkah laku baik adalah fitrah manusia, sedang hidup penuh hawa nafsu adalah potensi buruk, apabila keduanya mendorong lahirnya perbuatan yang dipandu oleh Thaghut/syetan, maka hasilnya: manusia akan berakhlak tercela, bernafsu amarah, dan lawwamah, dan masyarakat yang terbentuk adalah manusia yang serakah, menimbulkan keresahan, dan kerusakan.
Al-'Ashr adalah sesuatu yang paling berharga yang dikaruniakan Allah pada kita manusia. Sebab dengan Al-'Ashr kita dapat beribadah kepada Allah ta’ala, dengan adanya Al-'Ashr Allah diibadahi.
Rugi semakin merugi waktu kita terbuang apabila sering dipergunakan untuk terus menerus marah-marah melulu. Untungpun buntung, karena banyak disia-siakan segala nikmat serta anugerah yang telah Allah berikan, yang telah Allah titipkan, karena tertutup hawa amarah yang berlebihan, bersifat fasya'penuh nafsu syaitan yang terkutuk.
Kewajiban seorang muslim untuk tunduk dan taslim secara sempurna serta tunduk kepada perintahnya, menerima berita yang datang dari beliau 'Alaihi sholatu wa sallam dengan penerimaan yang penuh dengan pembenaran, tidak boleh menentang apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan perkataan bathil, hal-hal yang syubhat atau ragu-ragu, dan tidak boleh juga dipertentangkan dengan perkataan seorang pun dari manusia.
Penyerahan diri, tunduk patuh dan taat kepada perintah Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah merupakan kewajiban seorang muslim. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak. Taat kepada Rasulullah 'Alaihi sholatu wa sallam berarti taat kepada Allah Azza wa Jalla
Allah Azza wa Jalla berfirman yang tersirat dalam surat An-Nisaa berikut.
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. QS:An-Nisaa:80.
Kita orang akan selamat dari siksa Allah Subhanahu wa Ta'ala apabila kita selalu mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sesungguhnya seorang muslim tidak akan selamat dunia dan akhirat, sebelum ia berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menyerahkan ilmu yang belum jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya.
Seyogyanya kita hidup dengan berserah diri kepada nash-nash al-Qur-an dan as-Sunnah.
Tidak juga kita menentangnya dengan pena’wilan yang kurang baik, syubhat, penuh keraguan dan pendapat orang.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Jumat, 12 Juni 2015

Berdoa kepada Allah SWT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kita berdo’a memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta Allah SWT.
Ketika kita hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-Nya yang mulia (Asma-ul Husna).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian beliau bersabda: “Orang ini terburu-buru.” kemudian Beliau bersabda,
إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء
“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan al-Albani).
Mantapkan hati kita dalam berdoa dan berkeyakinan untuk dikabulkan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مُكرِه له
“Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan: Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.”(H.r. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua’ib Al-Arnauth)
Diantara bentuk yakin ketika berdoa adalah hatinya sadar bahwa kita sedang meminta sesuatu.
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه
“Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).” (H.r. Turmudzi dan dishahihkan Al-Albani).
Agar bacaan kita lebih terarah, berikut ini beberapa bacaan dzikir setelah shalat wajib yang diambil dari hadits Nabi yang shahih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Astaghfirullaah (3x)
Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَـا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ
Allaahumma antas salaamu, wa minkas salaamu, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam
Ya Allah, Engkau Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah kesejahteraan, Maha Berkat Engkau ya Allah, yang memiliki kemegahan dan kemuliaan
اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، لاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’thiya limaa mana ‘ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu
Ya Allah, tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi pemberian-Mu, dan tak ada pula sesuatu yang dapat memberi apa-apa yang Engkau larang, dan tak ada manfaat kekayaan bagi yang mempunyai, kebesaran bagi yang dimilikinya, kecuali kekayaan dan kebesaran yang datang bersama ridha-Mu
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allaahumma a'innii 'alaa dzikrika wasyukrika wahusni 'ibaadatik
Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
Laailaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in Qodiir', laa haula walaa quwwata ilaa billaah
Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ
laa ilaaha illallahu walaa na'budu ilala iyyaahu, lahun na'matu walahul fadlu, walahuts tsanaa-ul hasan
Tidak ada tuhan selain Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada Allah, milik-Nya-lah segala kenikmatan, karunia, dan sanjungan yang baik,
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
Laa ilaaha illallaahu mukhlisiina lahud diina walau karihal Kaafirun.
Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci.
سُبْحَانَ اللهِ
Subhaanallaah (33x)
Maha Suci Allah
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillaah (33x)
Segala puji bagi Allah
الله أكبر
Allaahu akbar (33x)
Allah Maha Besar
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syain qadiir
Tidak ada Tuhan selain Allah, sendiri-Nya; tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kerajaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala-galanya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Kamis, 11 Juni 2015

Dzikir akan meningkatkan kualitas takwa seorang hamba

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Dzikir akan meningkatkan kualitas takwa seorang hamba.
Dzikir adalah ketenangan sekaligus cahaya yang meronakan hati.
Memperbanyak berdzikir kepada Allah adalah juga benteng seorang muslim dari sifat munafik.
Termasuk ciri-ciri orang munafik adalah menyedikitkan berdzikir.
Allah berfirman tentang orang-orang munafik.
وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
“Mereka tidak berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit.” QS An-Nisa’: 142
Ka’ab bertutur:
من أكثر ذكر الله برئ من النفاق
“Siapa yang memperbanyak dzikir kepada Allah maka ia terlepas dari kemunafikan.” Dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wal Adzkar Jilid 1 karya syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin hafizhahullah. Penerbit Dar Ibn ‘Affan, hal 24.
Oleh karena itu, di bagian akhir surat Al-Munafiqun, Allah mengungkapkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” QS Al-Munafiqun: 9
Lisan pun merupakan piranti taqwa kita pada Allah SWT.
Jika seseorang merutinkan dzikir pagi dan petang, membaca do’a dan dzikir nabawiy pada kondisi atau situasi yang memang dianjurkan untuk berdo’a dan berdzikir, mengucapkan kata-kata yang baik dan menahan diri dari ungkapan yang tak pantas maka sejatinya ia sedang menyempurnakan komponen taqwa dan menjaga kesehatan kita.
Lihatlah mereka yang tawadhu’ dan lisannya basah lidahnya bersenam bergerak terus dengan rinai-rinai do’a dan dzikir, kan didapati keteduhannya di wajahnya dan kelembutan hatinya sehat akalnya.
Dalam dada mereka sedang bertandang musim semi yang menyemikan rasa dan kebahagiaan spesial yang tak akan pernah tergambarkan dan terwakili oleh ungkapan kebahagiaan manapun.
Ternyata berdzkir merupakan senam lidah yang dapat mencegah alzeimer atau kehilangan ingatan alias pikun. Konon dari penelitian ilmu kedokteran, syaraf lidah berhubungan dengan otak besar, saat badan kita menjadi tua dan lemah, tanda2 yg muncul terlebih dahulu adalah lidah menjadi kaku.
Jika kita orang sering kali menggerakan lidah dengan senam lidah, akan menstimulasi atau memberi kejutan positif otak besar, mencegah otak mengecil, dan mencapai tujuan kita menyehatkan tubuh kita.
Apalagi kita lebih sering berdzikir dengan la ilaha illa Allah maknanya la ma’buda bihaqq illa Allah, tiada sesembahan yang haq kecuali Allah.
Biasakanlah kita orang selalu berdzikir dengan kalimat La Ilaha Illa Allah, sebelum dipanggil-Nya.
Dzikir akan meningkatkan kualitas takwa seorang hamba.
Dengan mutiara “Al-Furqaan” yang cahayanya berkemilau, bertambahlah kemampuan kita untuk membedakan yang haq dan bathil, bertambahlah hidayah yang Allah kucurkan dan terkikislah kesesatan.
Allah menegaskan mutiara “Al-Furqaan” dalam Al-Qur’an.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu “furqaan” dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” QS Al-Anfal: 29
Agar terbiasa berdzikir, agar mudah ditalqin, bila sudah biasa berdzikir harapannya dapat mengucapkan sendiri tanpa ditalqin saat sakratul maut menjemput kita. In sha ‘ Allah ( ان شاء الله ).
Kita orang apabila menuntun seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat syahadat Laa Ilaaha Illa Allah dinamakan Mentalqin.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,


Kamis, 04 Juni 2015

Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un ( انا للہ و انا الیہ راجعون )

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Puji dan syukur hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dialah satu-satu-Nya Dzat yang berhak menerima segala pujian dan ungkapan syukur.
Karunia dan rahmat-Nya telah banyak kita nikmati, hidayah dan inayah-Nya telah banyak kita rasakan.
Kesyukuran hakiki hanya dapat diwujudkan dalam bentuk kesiapan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Semoga kita orang bukan termasuk orang-orang yang ingkar nikmat.
Selalu ingat dan bertaubat sebelum ajal menjemput kita.
Di manakah rasa takut kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala?
Tidakkah kita ingat wahai hamba Allah SWT hari kematian kita, di saat pergi meninggalkan dunia ini untuk menuju akhirat?
Tidakkah kita ingat ketika menghadap Allah Ta’ala besok dan kita ditanyai tentang apa yang telah kita lakukan dan perbuat?
Bagaimana jawaban kita pada hari pembalasan itu?
Sebaiknya kita berharap kepada Allah, dan aku takut akan dosa-dosaku.” Kemudian Rasulullah bersabda:
لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ
Tidaklah berkumpul dua hal ini ( yaitu khauf dan raja') di dalam hati seseorang, dalam kondisi seperti ini, kecuali pasti Allah akan berikan dari harapannya dan Allah berikan rasa aman dari ketakutannya. (HR At Tirmidzi).
Apabila nafas dan denyut jantung individu telah berhenti selama beberapa waktu yang signifikan atau ketika seluruh aktivitas saraf di otak berhenti bekerja.
Terhentinya nafas. Kedua pelipisnya melemas. Hidung menjadi lunak. Kulit wajahnya menjadi lebih panjang.
Terpisahnya kedua telapak tangan dari kedua lengannya. Kedua kakinya melemas dan terpisah dari kedua mata kaki.
Tubuh menjadi dingin. Tanda yang sangat jelas, yaitu adanya perubahan
bau pada tubuhnya. [Lihat Fiqhun Nawazil, Syaikh Bakr Abu Zaid (1/227), Asy Syarhul Mumti' (5/331)].
Perubahan pertama pada kulit si mati kekenyalan kulitnya berangsur hilang dan warna kulit berubah menjadi pucat. Badan berangsur-angsur menjadi kaku selepas kematian berlaku.
Perubahan pada mata dapat kita lihat dengan menguji refleks pupil dan kornea.
Apabila kematian telah berlaku, tiada lagi refleks pupil terhadap cahaya dan refleks kornea juga hilang. Tekanan dalam mata mulai menurun, bola mata berangsur tenggelam ke dalam orbit mata.
Hal yang ghaib, tidak terjangkau kapasitas akal kita manusia tentang ruh-Nya.
Telah dijelaskan tentang ruh yang menjadi bukan urusan kita di dalam QS: Al Isra berikut ini.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". QS:Al-Israa':85.
Kehidupan kita sesudah mati lepasnya ruh dari jasad, putuslah segala amal ibadah putus segala taubat kita di dunia, telah difirmankan.
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". QS:Al-Jumuah:8.
Kita ucapkan.
Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un ( انا للہ و انا الیہ راجعون )
dari Surah Al-Baqarah, Ayat 156 berikut.
الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون
"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali."
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ
"Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)." QS:6.Al-An'aam: 2.
Terdapat dua unsur pokok pada manusia berupa ruh dan jasad, dan kemudian ruh dimasukkan jasad, apabila setelah mati maka jasad akan dikubur masuk alam kubur, tetapi ruh tetap hidup, dan bukannya ruh bergentayangan.
Kemana ruh setelah kehidupan dunia, dan bukan gentayangan kecuali perbuatan jin, yang sesungguhnya.
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. QS:Al-Baqarah:154.
Dan ruh kita pasti kembali pada Sang Pencipta kita, pada Allah SWT.
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu). QS:At-Taghaabun:3.
Disunnahkan untuk menutup kedua matanya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menutup kedua mata Abu Salamah Radhiyallahu 'anhu ketika dia meninggal dunia.
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَلاَ تَقُوْلُوْا إِلاَّ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
Sesungguhnya ruh apabila telah dicabut, akan diikuti oleh pandangan mata, maka janganlah kalian berkata kecuali dengan perkataan yang baik, karena malaikat akan mengamini dari apa yang kalian ucapkan. (HR Muslim).
Kita disunnahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, setelah dilepaskan dari pakaiannya yang semula. Hal ini supaya tidak terbuka auratnya.
Dari Aisyah Radhiyallahu a'nha, beliau berkata.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ
Dahulu ketika Rasulullah meninggal dunia ditutup tubuhnya dengan burdah habirah (pakaian selimut yang bergaris). (Muttafaqun 'alaih).
Kecuali bagi orang yang mati dalam keadaan ihram,maka tidak ditutup kepala dan wajahnya.
Kita segera untuk mengurus jenazahnya.
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَنْبَغِي لِجِيفَةِ مُسْلِمٍ أَنْ تُحْبَسَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ أَهْلِهِ
Tidak pantas bagi mayat seorang muslim untuk ditahan di antara keluarganya. (HR Abu Dawud).
Seyogyanya kita rawat jenasah dengan baik menggunakan tata cara yang disunnahkan.
Memandikan jenasah, hukumnya memandikan dan mengkafani mayit adalah fardhu kifayah. Apabila telah dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin, maka bagi yang lain gugur kewajibannya.
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seorang muhrim (orang yang mengerjakan ihram) yang terjatuh dan terlempar dari untanya.
اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ
Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah dengan dua helai kainnya. (Muttafaqun 'alaih).
Diutamakan keluarga yang paling dekat (muhrim) dan sesama jenis.
Melepas semua busana yang dipakai kecuali aurat/farji (jenazah).
Membersikan gigi, kuku, kedua lubang hidung, mengurut perut dan qubul serta dubur.
Mewudhukan jenazah terlebih dahulu (diusahakan tidak membuka mulut jenazah).
Menyiramkan air dari kepala samping kanan sampai kaki kemudian samping kiri dan tengah.
Diusahakan selalu menyiramkan air dari arah kepala ke kaki.
Setelah selesai diwudhukan kembali dan dihanduki secara merata.
Mengkafani, wajib dari kafan adalah yang menutup seluruh tubuhnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Jabir Radhiyallahu 'anhu.
إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ
Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah memperbagus kafannya. (HR Muslim).
Disiapkan kain kafan dengan ukuran 2m x 3 atau x 5 (3L / 5P].
Tujuh tali berukuran 1 m atau lebih x 7 {5 panjang dan 2 pendek].
Satu baju khusus.
Satu potong kain basahan ukuran 1 m atau lebih untuk perempuan.
Satu potong celana (cawet) khusus untuk laki.
Satu potong jilbab.
Disunahkan kain kafan berwarna putih.
Hukum shalat jenazah adalah fardhu kifayah berdasarkan keumuman perintah RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyalati jenazah seorang muslim.
Kondisi jenazah sudah suci dan sudah terkafani.
Posisi kepala jenazah ada di sebelah utara.
Dianjurkan berjama’ah dan minimal membentuk tiga shof kecuali terpaksa harus munfarid.
Posisi imam ada di arah kepala bila jenazah lelaki dan arah pusat bila jenazah perempuan.
Jama’ah diusahakan tidak pakai sajadah kecuali di tempat yang sudah tersedia (di masjid atau di rumah).
Sholat jenazah terdiri dari empat takbir.
Diusahakan dengan khusu’ dan setiap bacaan atau do’a dalam sholat dibaca israr (nyaring).
Mengangkat dan mengubur mayat merupakan suatu penghormatan kepadanya. Dan hukumnya adalah fardhu kifayah. Allah berfirman.
أَلَمْ نَجْعَلِ اْلأَرْضَ كِفَاتًا أَحْيَآءً وَأَمْوَاتًا
Bukankah telah Kami jadikan tanah sebagai pelindung bagi kalian. Dalam keadaan hidup dan mati. (Al Mursalat:25, 26)
ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ
Kemudian Allah mematikan dan menguburkannya.('Abasa:21).
Disunahkan dipercepat proses pemakaman .
Dilepas dengan ucapan bismillahi millati Rasulillhi.
Disunahkan yang menguburkan laki-laki dan di “makruhkan” untuk perempuan.
Sesampainya di liang lahat, kepala jenazah diturunkan terlebih dahulu dari arah selatan.
Jenazah dihadapkan kiblat dan semua ikatan tali dilepas.
Pipi kanan dan samping kaki kanan diusahkan tersentuh tanah.
Bagi pengantar jenazah sesampainya di makam (kuburan) disunnahkan membaca salam.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Rabu, 03 Juni 2015

La Ilaha Illa Allah, ma’buda bihaqq illa Allah, tiada sesembahan yang haq kecuali Allah.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
‘La’ yang terdapat dalam kalimat “La Ilaha Illa Allah” adalah huruf “la” naafiyata li al-jinsi (huruf yang menafikan segala macam jenis).
Dinafikan adalah kata “ilah” (sesembahan).
Kata “ilah’ berbentuk isim nakirah dan isim al-jins.
Kata “illa” adalah huruf istisna’ (pengecualian) yang mengecualikan Allah dari segala macam jenis “Ilah”.
Bentuk kalimat semacam ini adalah kalimat nafyun (negatif) lawan dari kalimat itsbat (positif).
Kata “Illa” berfungsi mengitsbatkan kalimat manfiy (negatif).
Dalam kaidah bahasa Arab, itsbat sesudah manfiy bermakna al-hasr (membatasi) dan al-ta’kid (menguatkan).
Makna kalimat “La ilaha illa al-Allah” adalah tiada ilah (sesembahan) yang benar-benar berhak disebut ilah (sesembahan) kecuali Allah SWT.
Jadi kalimat la ilaha illa Allah maknanya la ma’buda bihaqq illa Allah, tiada sesembahan yang haq kecuali Allah.
Beberapa ayat al-Quran telah mendukung pengertian la ma’buda bihaqq illa Allah di atas. Allah SWT berfirman, dalam An-Naas (Qs.114:1-3) berikut ini.
إِلَٰهِ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. QS:An-Naas:1 s.d 3.
أَمْ لَهُمْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. QS:Ath-Thuur:43.
Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas, bahwa sesembahan yang hakiki hanyalah Allah SWT.
Makna syahadat La Ilaha Illa Allah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah.
Salah satu dzikir yang paling utama adalah kalimat La Ilaha Illa Allah yang artinya tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah SWT.
Begitulah pesan Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali Karramallahu Wajahah, ketika beliau secara pribadi memohon agar diberikan dzikir khusus yang lebih berat dari dunia seisinya, dan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Biasakanlah kita orang selalu berdzikir dengan kalimat La Ilaha Illa Allah, sebelum dipanggil-Nya. Agar terbiasa berdzikir, agar mudah ditalqin, bila sudah biasa berdzikir harapannya dapat mengucapkan sendiri tanpa ditalqin saat sakratul maut menjemput kita. In sha ‘ Allah ( ان شاء الله ).
Dalam salah satu hadits riwayat sahabat Anas berikut ini
"Sesungguhnya barang siapa membaca kalimat Tauhid dan memanjangkannya, maka baginya akan dihapus empat ribu macam dosa besar”.
Kita orang apabila menuntun seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat syahadat Laa Ilaaha Illa Allah dinamakan Mentalqin.
Mentalqin seseorang yang akan meninggal dunia disunnahkan bagi orang yang ada di sisi orang yang akan meninggal dunia, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
لقنوا موتا كم لا إله إلا الله
“Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illah".
Dalam riwayat yang lain:
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga”
Tujuannya adalah agar akhir ucapan yang keluar dari orang yang akan meninggal dunia adalah “La Ilaha Illa Allah”.
Sehingga dia menjadi orang yang berbahagia karena termasuk dalam golongan orang yang dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Selain itu untuk mengingatkan orang yang akan meninggal dunia terhadap sesuatu yang dapat menolak gangguan setan karena setan akan mendatangi orang yang akan meninggal dunia dalam rangka untuk merusak akidahnya.
Bagaimanakah Mentalqinkan, Laqqinuu mautakum Laa Ilaaha Illallah? (HR.Muslim)
Kita lihat penderita bila telah layak di talqini.
Pilih seorang atau yang mampu membimbingnya.
Ciptakan suasana tenang dan kondusif.
Bila kita harus membaca yasin, diusahakan agak menjauh sedikit dari penderita.
Kepada keluarga atau siapa saja diusahakan tidak terlalu banyak menyentuh penderita.
Bila penderita meminta “sesuatu” mohon diindahkan.
Mentalqin orang yang akan meninggal dunia cukup sekali saja, tidak perlu diulang-ulang kecuali apabila setelah di-talqin dia mengucapkan kalimat yang lain maka hendaknya diulang sekali lagi agar akhir ucapannya adalah kalimat syahadat.
Imam Al Qurthubiy berkata: “Apabila seorang yang akan meninggal dunia telah membaca ‘Laa Iaaha Illa Allah’ satu kali maka tidak perlu diulang lagi”.
Ibnu Al Mubarak berkata: ”Talqinlah orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ dan jika telah mengucapakannya maka jangan diulangi lagi”.
Demikianlah posisi pentingnya kalimat tauhid bagi seorang mu’min, ia tidak sekedar sebagai kalimat pengakuan keesaan Allah SWT, akan tetapi juga sebagai kunci menuju kesuksesan hidup di akhirat kelak.
Pentingnya tauhid bagi seorang mu’min disebutkan dalam Qasidatul Burdah ,
الحمد لله المنشی الخلق من عدم
Dalam ayat ini , kata al – munshi menunjukkan nama pelaku , yang maknanya adalah ‘untuk menciptakan ‘ .
Terjemahan dari ayat ini :
Semua pujian adalah karena Allah , yang melahirkan penciptaan dari ketiadaan.
munshi berarti ‘Pencipta‘ , ‘Dia yang membawa keluar dari ketiadaan‘.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat merealisasikan kalimat syahadat La Ilaha Illa Allah baik melalui amalan hati, lisan maupun amalan perbuatan kita.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illa Allah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Senin, 01 Juni 2015

Karena hanya Allah-lah yang memiliki syafa’at.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Hendaknya kita manusia meminta syafa’at hanya kepada Allah SWT.
Karena hanya Allah-lah yang memiliki syafa’at.
Barangsiapa yang meminta syafa’at kepada selain Allah, pada hakekatnya kita telah berdo’a kepada selain Allah. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan, meskipun kita meminta kepada Nabi shalallhu ‘alaihi wa sallam.
Syafa'at adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain.
Syafaat disebutkan pertama kali dalam Al-Qur'an adalah pada QS.AL-Baqarah ayat 48.
وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa´at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. QS: Al-Baqarah: 48.
Dalam ayat tersebut terdapat perintah Allah kepada Bani Israil untuk bertaqwa dengan alasan di akhirat nanti tidak akan ada syafaat (pertolongan) dari siapapun kecuali amal manusia masing-masing.
Syafa’at hakikatnya adalah do’a, atau memerantarai orang lain untuk mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan.
Atau dengan kata lain syafa’at adalah memintakan kepada Allah di akhirat untuk kepentingan orang lain.
Dengan demikian meminta syafa’at berarti meminta do’a, sehingga permasalahan syafa’at ialah sama dengan do’a.
Syafa’at adalah memintakan kepada Allah di akhirat untuk kepentingan orang lain.
Dengan demikian meminta syafa’at berarti meminta do’a, sehingga permasalahan syafa’at ialah sama dengan do’a.
Syafa’at hanya milik Allah dan Nabi tidak bisa memberikan syafa’at tanpa ridho dan izin dari-Nya.
Sehingga, tidak boleh meminta syafa’at kepada makhluk, termasuk kepada Nabi sekalipun.
Meminta syafa’at adalah termasuk doa permintaan.
Seseorang yang meminta syafa’at kepada selain Allah berarti dia telah berdoa kepada selain Allah.
Doa adalah ibadah yang harus ditujukan kepada Allah dan tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya. Barang siapa yang beribadah kepada selain Allah dia telah melakukan syirik akbar. Demikian pula bagi orang yang meminta syafaat kepada selain Allah dia telah berbuat syirik akbar. (Lihat Syarhu al Qowaaidil Arba’, Syaikh Sholeh Alu Syaikh).
Mari kita cermati firman Allah SWT tentang syafa’at berikut ini,
قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafa´at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan" QS: Az-Zumar: 44.
Ayat Az-Zumar 44 tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa syafa’at segenap seluruh macamnya itu hanya milik Allah semata.
Allah kemudian memberikan kepada sebagian hamba-Nya untuk memberikan syafa’at kepada sebagian hamba yang lainnya dengan tujuan untuk memuliakan menampakkan kedudukannya pemberi syafa’at dibanding yang disyafa’ati serta memberikan keutamaan dan karunia-Nya kepada yang disyafa’ati untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih baik atau kebebasan dari adzab-Nya.
Dikarenakan Allah Maha Mengetahui, untuk itu marilah kita perhatikan firman Allah dalam surat Al Anbiyaa 28 berikut ini.
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa´at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. QS: Al-Anbiyaa: 28.
dan firman Allah yang kita cermati berikut dapat kita ketahui bila syafaa’at kita tidak berguna,
وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa´at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya). QS: An-Najm: 26.
Dan juga mari kita cermati bersama firman-Nya berikut ini tentang perbuatan syiri’ yang dapat tidak kita sadari,
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ
Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. QS:Saba' : 22.
Orang yang memberi syafa’at dan orang yang diberi syafa’at itupun bukan sembarang orang.
Syafa’at hanya terjadi jika ada izin Allah kepada orang yang memberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan yang disyafa’ati.
وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
Dan tiadalah berguna syafa´at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa´at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?" Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar", dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS:Saba': 23.
Lebih baik kita orang tidak terjebak untuk meminta syafa’at langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bukan berarti kita mengingkari adanya syafa’at beliau. Tetapi syafa’at hanyalah milik Allah.
Bagaimana Allah hendak memberikan syafa’at-Nya kepada seseorang sementara dia berbuat syiri' dengan meminta syafa’at kepada Nabi?
Syafa’at adalah milik Allah, jika kita meminta kepada Allah hukumnya disyariatkan, yaitu meminta kepada Allah agar para pemberi syafa’at diizinkan untuk mensyafa’ati di akhirat nanti.
“Ya Allah, jadikanlah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pemberi syafa’at bagiku. Dan janganlah engkau haramkan atasku syafa’atnya”.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Amal sholeh adalah segala perbuatan yang diridhai dan disukai oleh Allah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sholeh itu artinya bagus atau baik.
Tentu, sesuatu itu dikatakan 'baik atau bagus' karena memenuhi kriteria
tertentu. "Kedalaman dan pengamalan Ilmu"
Sholeh dan Sholehah itu tidak hanya sekedar bagaimana taat terhadap agama, menjalankan perintah agama, puasa sunnah, sholat tahajud maupun hal baik dan ibadah sunnah lainnya.
Akan tetapi arti Sholeh dan Sholehah adalah bagaimana seorang anak dapat mentaati kedua orang tuanya.
Amal sholeh adalah segala perbuatan yang diridhai dan disukai oleh Allah.
Perbuatan yang sholeh itu harus selaras dan sesuai dengan syariat Islam.
Perbuatan yang sholeh itu bertujuan untuk mendapatkan keridhaan dari Allah.
Lima perkara yang dapat menghambat amal sholeh kita, apabila kita.
Senang terhadap kebodohan,
Tamak dalam keduniaan,
Bahil, pelit atau kikir,
Riya’ terhadap amal perbuatan,
Membanggakan diri alias sombong.
Untuk itu mari kita perhatikan firman Allah berikut ini.
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS:Al-Furqaan:70.
Amal sholeh itu adalah amal-perbuatan yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam dan berniat ikhlas dalam mengerjakan perbuatan-amal tersebut.
Amal sholeh itu adalah merupakan buah keimanan kepada Allah, hari kiamat dan Rasul-Nya. Amal sholeh juga merupakan manifestasi (pernyataan) ke ucapan syahadahnya.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. QS:Al-Baqarah: 82.
Di dalam al-Quran banyak ayat yang mengaitkan amal sholeh dengan keimanan, firman Allah:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. QS:Ash-Shaaffat:100.
Berkaitan dengan agar amal sholeh kita diterima Allah maka mari kita simak Firman-Nya berikut ini,
فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia. QS:Al-Hajj: 50.
Amal saleh ada beraneka ragam, yang mencakup segala yang diperintah oleh Allah, apakah yang wajib atau yang dianjurkan (sunat).
Begitu juga dalam hal ibadah atau bidang muamalah seperti jual-beli. Maka ketika seorang muslim berbuat karena Allah dan mengikuti petunjuk agama, dia dianggap telah melakukan amal-saleh.
Amal soleh yang terpenting adalah ibadah dan diantara ibadah yang terpenting adalah shalat, puasa, zakat dan haji.
Ibadah yang seperti ini termasuk dalam rukun Islam yang sama sekali tidak dapat diabaikan dan tidak dapat dianggap remeh.
Ibadah dalam Islam adalah merupakan tali penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya, dan juga sebagai bukti pengakuannya sebagai hamba Allah.
Ibadah adalah hak Allah terhadap hambanya dan ibadah yang terpenting diantara ibadah itu adalah shalat.
Ibadah ini wajib dipelihara dengan sebaik-baiknya dan orang lain diajak untuk beribadah dan sekali-sekali ibadah itu tidak dapat dianggap tidak penting.Ibadah ini umumnya untuk memperkuat keimanan dan menanam iman itu kedalam setiap jiwa orang yang muslim.
Ayat al-Quran dan hadits Nabi SAW yang menyatakan sangat pentingnya shalat (sembahyang).
Firman Allah,
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
QS:Al-Baqarah | Ayat: 277
Hadits Sabda Nabi saw,
بين العبد وبين الكفر ترك الصلاة
“Perbedaan antara hamba Allah dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”.
العهد الذى بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
“Janji yang diikat antara kita dan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya menjadi kafirlah ia”.
Ada tiga pandangan Ulama tentang orang yang meninggalkan shalat karena malas.
Dia mengaku shalat itu wajib tapi malas menunaikannya.
Ditakzir yaitu dipenjara seumur hidup sehingga bertobat.
Dibatasi yaitu dijatuhkan hukuman hudud dengan dipancung tengkuknya.
Tetap menjadi kafir atau murtad keluar dari Islam.
Ada dua bagian ibadah yaitu ibadah Khusus dan ibadah umum.
Ibadah khusus adalah seperti shalat, puasa, zakat, tilawah al-Quran dan zikir.
Ibadah umum adalah segala hal atau pekerjaan yang harus dilakukan bertujuan mendapatkan keridhaan Allah.
Ada beberapa syarat yang memungkinkan setiap praktik duniawi menjadi ibadah.
Niat ikhlas karena Allah.
Praktek atau pekerjaan itu disetujui oleh Islam atau tidak menyalahi ajaran Nabi Muhammad SAW.
Tidak lalai atau ceroboh atau meninggalkan ibadah yang khusus (fardu) seperti shalat dan puasa, dan kita selalu dipandu hukum syariah.
Sabda Nabi saw,
اغتنم خمسا قبل خمس شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل موتك - رواه الترمذى
“Ambil lima hal sebelum tiba lima hal yang lain. Mudamu sebelum tuamu. Sehatmu sebelum sakitmu. Kayamu sebelum fakirmu. Waktu lapangmu sebelum sibukmu. Hidupmu sebelum matimu”.
Agar dikaruniai anak yang sholeh dan sholekah, mari kita berdo’a.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. QS:Ash-Shaaffat:100.
Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,