Kamis, 18 Februari 2016

Qur'an dg Qori : Mishary Rasyid al-Afasy

1. Al-Fatihah ↹ http://j.mp/1skRJ4A
2. Al-Baqarah ↹ http://j.mp/1skRLJV
3. Ali `Imran ↹ http://j.mp/1skRIxH
4. An-Nisa' ↹ http://j.mp/1skRLtt
5. Al-Ma'idah ↹ http://j.mp/1skRIxI
6. Al-'An`am ↹ http://j.mp/1u001ot
7. Al-'A`raf ↹ http://j.mp/1skRLJU
8. Al-'Anfal ↹ http://j.mp/1skRLtx
9. At-Tawbah ↹ http://j.mp/1skRM0h
10. Yunus ↹ http://j.mp/1skRLJT
11. Hud ↹ http://j.mp/1skRIOf
12. Yusuf ↹ http://j.mp/1skRLtu
13. Ar-Ra`d ↹ http://j.mp/1skRJ4B
14. Ibrahim ↹ http://j.mp/1skRIxP
15. Al-Hijr ↹ http://j.mp/1skRIO4
16. An-Nahl ↹ http://j.mp/1skRIOe
17. Al-'Isra' ↹ http://j.mp/1skRIxQ
18. Al-Kahf ↹ http://j.mp/1skRIxR
19. Maryam ↹ http://j.mp/1skRLJK
20. Taha ↹ http://bit.ly/1skRM0g
21. Al-'Anbya' ↹ http://j.mp/1skRLJM
22. Al-Haj ↹ http://j.mp/1skRIxK
23. Al-Mu'minun ↹ http://j.mp/1skRLtr
24. An-Nur ↹ http://j.mp/1skRJ4C
25. Al-Furqan ↹ http://j.mp/1skRLto
26. Ash-Shu`ara' ↹ http://j.mp/1skRJ4D
27. An-Naml ↹ http://j.mp/1skRLJZ
28. Al-Qasas ↹ http://j.mp/1u001ov
29. Al-`Ankabut ↹ http://j.mp/1skRIOg
30. Ar-Rum ↹ http://bit.ly/1skRIO8
31. Luqman ↹ http://bit.ly/1skRIxO
32. As-Sajdah ↹ http://j.mp/1skRLtn
33. Al-'Ahzab ↹ http://bit.ly/1skRJ4E
34. Saba' ↹ http://j.mp/1skRIOd
35. Fatir ↹ http://j.mp/1skRIxG
36. Ya-Sin ↹ http://j.mp/1skRLK3
37. As-Saffat ↹ http://j.mp/1skRIOc
38. Sad ↹ http://j.mp/1skRLJL
39. Az-Zumar ↹ http://j.mp/1skRLK0
40. Ghafir ↹ http://j.mp/1skRLtv
41. Fussilat ↹ http://j.mp/1skRXsv
42. Ash-Shuraa ↹ http://j.mp/1skRWVI
43. Az-Zukhruf ↹ http://j.mp/1skRXsA
44. Ad-Dukhan ↹ http://j.mp/1skRWF1
45. Al-Jathiyah ↹ http://j.mp/1skRXbX
46. Al-'Ahqaf ↹ http://j.mp/1skRWF2
47. Muhammad ↹ http://bit.ly/1u0057O
48. Al-Fath ↹ http://j.mp/1skRWF5
49. Al-Hujurat ↹ http://j.mp/1skRWVr
50. Qaf ↹ http://j.mp/1skRUgt
51. Adh-Dhariyat ↹ http://j.mp/1skRUwM
52. At-Tur ↹ http://j.mp/1skRXsz
53. An-Najm ↹ http://j.mp/1skRUgz
54. Al-Qamar ↹ http://bit.ly/1skRUx4
55. Ar-Rahman ↹ http://j.mp/1skRWF9
56. Al-Waqi`ah ↹ http:/c /j.mp/1skRXst
57. Al-Hadid ↹ http://j.mp/1skRWVu
58. Al-Mujadila ↹ http://bit.ly/1skRUwZ
59. Al-Hashr ↹ http://j.mp/1skRWF0
60. Al-Mumtahanah ↹ http://j.mp/1skRUgv
61. As-Saf ↹ http://j.mp/1skRWVC
62. Al-Jumu`ah ↹ http://bit.ly/1skRWF4
63. Al-Munafiqun ↹ http://bit.ly/1skRWF8
64. At-Taghabun ↹ http://j.mp/1u0057N
65. At-Talaq ↹ http://j.mp/1skRUx1
66. At-Tahrim ↹ http://j.mp/1skRUwP
67. Al-Mulk ↹ http://j.mp/1skRWF3
68. Al-Qalam ↹ http://bit.ly/1skRUgx
69. Al-Haqqah ↹ http://j.mp/1skRUgs
70. Al-Ma`arij ↹ http://bit.ly/1skRWVJ
71. Nuh ↹ http://j.mp/1skRWEX
72. Al-Jinn ↹ http://j.mp/1skRWFb
73. Al-Muzzammil ↹ http://bit.ly/1skRUgr
74. Al-Muddaththir ↹ http://bit.ly/1skRWVB
75. Al-Qiyamah ↹ http://j.mp/1skRWEZ
76. Al-'Insan ↹ http://j.mp/1skRUwN
77. Al-Mursalat ↹ http://j.mp/1skRWVt
78. An-Naba' ↹ http://j.mp/1skRUgw
79. An-Nazi`at ↹ http://j.mp/1skRWVx
80. Abasa ↹ http://j.mp/1skRWVy
81. At-Takwir ↹ http://j.mp/1skRXsx
82. Al-'Infitar ↹ http://j.mp/1skRXbW
83. Al-Mutaffifin ↹ http://bit.ly/1skRUgy
84. Al-'Inshiqaq ↹ http://j.mp/1skRUwW
85. Al-Buruj ↹ http://bit.ly/1skRXsy
86. At-Tariq ↹ http://j.mp/1skRUgu
87. Al-'A`la ↹ http://j.mp/1skRUx5
88. Al-Ghashiyah ↹ http://j.mp/1skSo6g
89. Al-Fajr ↹ http://j.mp/1skSnPO
90. Al-Balad ↹ http://j.mp/1skSnPL
91. Ash-Shams ↹ http://bit.ly/1skSo6d
92. Al-Layl ↹ http://j.mp/1skSo6k
93. Ad-Duhaa ↹ http://j.mp/1skSo6a
94. Ash-Sharh ↹ http://bit.ly/1skSnPM
95. At-Tin ↹ http://j.mp/1u00d79
96. Al-`Alaq ↹ http://j.mp/1skSqLk
97. Al-Qadr ↹ http://j.mp/1skSnPP
98. Al-Bayyinah ↹ http://bit.ly/1skSo68
99. Az-Zalzalah ↹ http://j.mp/1skSnPN
100. Al-`Adiyat ↹ http://bit.ly/1skSo6e
101. Al-Qari`ah ↹ http://j.mp/1skSo69
102. At-Takathur ↹ http://bit.ly/1skSqLh
103. Al-`Asr ↹ http://bit.ly/1skSlaC
104. Al-Humazah ↹ http://j.mp/1skSlau
105. Al-Fil ↹ http://j.mp/1skSnzg
106. Quraysh ↹ http://bit.ly/1skSlaz
107. Al-Ma`un ↹ http://j.mp/1skSnzj
108. Al-Kawthar ↹ http://bit.ly/1skSlax
109. Al-Kafirun ↹ http://j.mp/1skSnzl
110. An-Nasr ↹ http://j.mp/1skSlav
111. Al-Masad ↹ http://j.mp/1skSnPy
112. Al-'Ikhlas ↹ http://j.mp/1skSlat
113. Al-Falaq ↹ http://j.mp/1skSnzf
114. An-Nas ↹ http:/x/j.mp/1u00eYJ

Mengapa saya tidak bekerja?

Penggalan Inspiratif:
Dikutip dari ibu Ainun Habibie:
"Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?
Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan tidak memiliki ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?
Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu."
~Jangan biarkan anak-anak mu hanya bersama pengasuh mereka
Bagaimana bila dibantu dg kakek neneknya?
~Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga. Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah-mudahan ini bisa jadi penyemangat dan jawaban untuk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak-anaknya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak-anak bisa tumbuh dengan penuh perhatian, tidak hanya dalam hal akademik, tapi juga untuk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.
Belajar dari kesuksesan orang-orang hebat, selalu ada pengorbanan dari orang-orang yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah. Berbanggalah engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yang paling mulia.
Like n Share ๐Ÿ‘Œ
Izin repost cerita dr prestigeholics
Pict edited by Medstories

Menasehati Tanpa Melukai


Ketika seseorang hendak memberikan nasehat hendaklah memperhatikan adab-adabnya karena adab tersebut sangat menentukan diterima atau tidaknya nasehat. Beberapa adab yang perlu diperhatikan adalah sebagaimana berikut ini...

Siapakah yang tak ingin hidayah mengetuk hati orang yang dicintai?

Orang tua, kerabat dekat, teman, tetangga, dan bahkan orang-orang di luar Islam. Hidayah yang melembutkan hati yang keras, menyabarkan hati tatkala ditimpa musibah, meredakan kemarahan, menjalin tali yang lama terpisah, menyatukan prinsip syariat sehingga berjalan beriringan dalam satu jalan yang haq menuju shiraathal mustaqiim. Pasti banyak orang yang kita inginkan kebaikan terlimpah padanya. Kebaikan yang senantiasa menghiasi diri sehingga melahirkan generasi Rabbani yang senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih sebagaimana yang diharapkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sejak beratus abad yang lalu hingga sekarang, sampai nanti datang hari penghisaban sedangkan amal tak lagi terhitung dan tergores tintanya dalam catatan.

Siapa mengira, Al Fudhail bin Iyadh yang kita kenal sebagai seorang hamba yang shalih dan tokoh teladan bagi umat, dahulunya adalah seorang perampok jalanan yang banyak ditakuti orang. Lalu beliau terketuk hatinya dan mendapat hidayah tatkala mendengar percakapan dua saudagar yang tengah takut kepadanya.

Tak kenalkah dengan Salman Al Farisi? Dahulunya beliau adalah seorang Majusi kemudian beliau mendapatkan hidayah tatkala melihat orang muslim yang sedang shalat di gereja. Dan banyak dari kaum muslimin di zaman Nabi yang berbondong-bondong masuk Islam tidak lain karena mulianya dakwah beliau.

Oleh karena itu, mari kita lihat bagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam beserta orang-orang shalih dahulu mengajarkan kepada kita bagaimana adab tatkala memberikan nasehat sehingga membuka pintu-pintu hidayah bagi seseorang.

Adab Memberi Nasehat

Ketika seseorang hendak memberikan nasehat hendaklah memperhatikan adab-adabnya karena adab tersebut sangat menentukan diterima atau tidaknya nasehat. Beberapa adab yang perlu diperhatikan adalah:

1. Mengharapkan ridha Allah Ta’ala

Seorang yang ingin menasehati hendaklah meniatkan nasehatnya semata-semata untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Karena hanya dengan maksud inilah dia berhak atas pahala dan ganjaran dari Allah Ta’ala di samping berhak untuk diterima nasehatnya. Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ُ ุจِุงู„ู†ِّูŠَّุฉِ ูˆَู„ِูƒُู„ِّ ุงู…ْุฑِุฆٍ ู…َุง ู†َูˆَู‰ ูَู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุฑَุณُูˆู„ِู‡ِ ูَู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุฑَุณُูˆู„ِู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ู„ุฏُู†ْูŠَุง ูŠُุตِูŠุจُู‡َุง ุฃَูˆِ ุงู…ْุฑَุฃَุฉٍ ูŠَุชَุฒَูˆَّุฌُู‡َุง ูَู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅِู„َู‰ ู…َุง ู‡َุงุฌَุฑَ ุฅِู„َูŠْู‡ِ

Artinya, “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka (hakikat) hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Tidak dalam rangka mempermalukan orang yang dinasehati

Seseorang yang hendak memberikan nasihat harus berusaha untuk tidak mempermalukan orang yang hendak dinasehati. Ini adalah musibah yang sering terjadi pada kebanyakan orang, saat dia memberikan nasihat dengan nada yang kasar. Cara seperti ini bisa berbuah buruk atau memperparah keadaan. Dan nasehatpun tak berbuah sebagaimana yang diharapkan.

3. Menasehati secara rahasia

Nasihat disampaikan dengan terang-terangan ketika hendak menasehati orang banyak seperti ketika menyampaikan ceramah. Namun kadangkala nasehat harus disampaikan secara rahasia kepada seseorang yang membutuhkan penyempurnaan atas kesalahannya. Dan umumnya seseorang hanya bisa menerimanya saat dia sendirian dan suasana hatinya baik. Itulah saat yang tepat untuk menasehati secara rahasia, tidak di depan publik. Sebagus apapun nasehat seseorang namun jika disampaikan di tempat yang tidak tepat dan dalam suasana hati yang sedang marah maka nasehat tersebut hanya bagaikan asap yang mengepul dan seketika menghilang tanpa bekas.

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan, “Jika kamu hendak memberi nasehat sampaikanlah secara rahasia bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasehati, maka berterus teranglah!” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

4. Menasehati dengan lembut, sopan, dan penuh kasih

Seseorang yang hendak memberikan nasehat haruslah bersikap lembut, sensitif, dan beradab di dalam menyampaikan nasehat. Sesungguhnya menerima nasehat itu diperumpamakan seperti membuka pintu. Pintu tak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang tepat. Seseorang yang hendak dinasehati adalah seorang pemilik hati yang sedang terkunci dari suatu perkara, jika perkara itu yang diperintahkan Allah maka dia tidak melaksanakannya atau jika perkara itu termasuk larangan Allah maka ia melanggarnya.

Oleh karena itu, harus ditemukan kunci untuk membuka hati yang tertutup. Tidak ada kunci yang lebih baik dan lebih tepat kecuali nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, diutarakan dengan beradab, dan dengan ucapan yang penuh dengan kasih sayang. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِู†َّ ุงู„ุฑِّูْู‚َ ู„ุงَ ูŠَูƒُูˆู†ُ ูِู‰ ุดَู‰ْุกٍ ุฅِู„ุงَّ ุฒَุงู†َู‡ُ ูˆَู„ุงَ ูŠُู†ْุฒَุนُ ู…ِู†ْ ุดَู‰ْุกٍ ุฅِู„ุงَّ ุดَุงู†َู‡ُ

Artinya, “Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. (HR. Muslim)

Fir’aun adalah sosok yang paling kejam dan keras di masa Nabi Musa namun Allah tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun agar menasehatinya dengan lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman,

ูَู‚ُูˆู„ุง ู„َู‡ُ ู‚َูˆْู„ุง ู„َูŠِّู†ًุง

Artinya, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Ath Thaha: 44)

Saudariku… dan lihatlah tatkala nasehat dilontarkan dengan keras dan kasar maka akan banyak pintu yang tertutup karenanya. Banyak orang yang diberi nasehat justru tertutup dari pintu hidayah. Banyak kerabat dan karib yang hatinya menjauh. Banyak pahala yang terbuang begitu saja. Dan tentu banyak bantuan yang diberikan kepada setan untuk merusak persaudaraan.

5. Tidak memaksakan kehendak

Salah satu kewajiban seorang mukmin adalah menasehati saudaranya tatkala melakukan keburukan. Namun dia tidak berkewajiban untuk memaksanya mengikuti nasehatnya. Sebab, itu bukanlah bagiannya. Seorang pemberi nasehat hanyalah seseorang yang menunjukkan jalan, bukan seseorang yang memerintahkan orang lain untuk mengerjakannya. Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan: “Janganlah kamu memberi nasehat dengan mensyaratkan nasehatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

6. Mencari waktu yang tepat

Tidak setiap saat orang yang hendak dinasehati itu siap untuk menerima petuah. Adakalanya jiwanya sedang gundah, marah, sedih, atau hal lain yang membuatnya menolak nasehat tersebut. Ibnu Mas’ud pernah bertutur: “Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak.” (Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih)

Jika seseorang ternyata tak bisa menasehati dengan baik maka dianjurkan untuk diam dan hal itu lebih baik karena akan lebih menjaga dari perkataan-perkataan yang akan memperburuk keadaan dan dia bisa meminta tolong temannya agar menasehati orang yang dimaksudkan. Sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ูŠُุคْู…ِู†ُ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุขุฎِุฑِ ูَู„ْูŠَู‚ُู„ْ ุฎَูŠْุฑًุง، ุฃَูˆْ ู„ِูŠَุตْู…ُุชْ

Artinya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam…”(HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarhu Al Arba’in An Nawawi memberikan beberapa faedah dari cuplikan hadits di atas yaitu wajibnya diam kecuali dalam kebaikan dan anjuran untuk menjaga lisan.

Jangan pernah putus asa untuk memohon pertolongan Allah karena pada hakekatnya Allah-lah Yang Maha Membolak-balikkan hati seseorang. Meski sekeras apapun hati seseorang namun tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak untuk melembutkan hatinya dan menunjukkan kepada jalan-Nya. Wallaahu Musta’an.

“Jika engkau inginkan kebaikan pada saudaramu

Maka ajaklah ia tuk bergandengan

Dan beriringan menuju jalan-Nya

Bertuturlah dengan baik

Berilah senyuman tatkala ia tak peduli

Tunggulah… Bersabarlah… hingga pintu itu terbuka

Jangan kau paksa.. dan jangan pula kau marahi

Sebab nasehat itu akan berubah menjadi pisau yang tajam

Yang hanya membuat goresan di hati

Dan akan membuat lari

Jangan kau paksa.. dan jangan pula kau marahi

Sesungguhnya hidayah itu ada di tangan Sang Rabb

Yang Maha Membolak-balikkan hati”

***

Referensi:

“Menasehati Tanpa Menyakiti“. Abu Muhammad Shu’ailik. Pustaka Arafah
“Syarhu Al Arba’in An Nawawi“. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Daarul Ittiba’ dan Ad Daaru Al ‘Aalamiyyah Lin Nasyr wat Tauzii’
“99 Kisah Orang Shalih“. Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. Darul Haq


Penulis: Lilis Mustikaningrum

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id

Rabu, 10 Februari 2016

“ia tertahan dengan hutangnya”

Tidak semestinya bagi seorang muslim meremehkan perkara hutang piutang, Karena jika hal ini dilakukan maka sama saja orang tersebut telah menyepelekan urusan ruh dan akhiratnya.

Sahabatku, Islam adalah agama yang sempurna, Selain mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya, Islam juga mengatur hubungan antara manusia dengan manusia dan makhluk lainnya.

Dalam hal ini, Islam mengatur hubungan interaksi sesama manusia dengan cara yang terbaik. Islam mengajarkan berbagai akhlaq dan mu'amalah yang baik dalam semua transaksi yang dibenarkan dan disyari’atkan,siraman Sebagai contoh adalah transaksi jual beli, sewa menyewa, gadai termasuk dalam hal ini adalah transaksi pinjam meminjam atau utang piutang.

Utang piutang merupakan satu jenis muamalah yang dibenarkan syari’at Islam. Transaksi ini wajib dilakukan sesuai dengan syari’at Islam, tak boleh menipu, tak boleh ada unsur riba, tak boleh ada kecurangan dan kebohongan, dan yang perlu diperhatikan adalah, hutang wajib dibayar.

Selain itu, setiap transaksi utang piutang harus dicatat atau ditulis nominal serta waktu pelunasannya. Ini sebagai janji dan janji wajib ditepati. Jika saat jatuh tempo memang belum mampu untuk membayar, maka sampaikan pada yang memberikan hutang bahwa kita belum mampu membayarnya pada hari atau pekan ini atau bulan ini dan minta tempo lagi, agar diberi kelonggaran waktu pada hari, atau pekan, atau bulan berikutnya.

Dalam beberapa hadits, Baginda Rasulullah SAW pernah menjelaskan tentang musibah besar bagi siapa saja yang berhutang namun tak melunasinya, diantaranya adalah sebagai berikut,

1. RUH SEORANG MUKMIN AKAN TERKATUNG-KATUNG (TERTAHAN) PADA HUTANGNYA HINGGA DILUNASI

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :

ู†َูْุณُ ุงู„ْู€ู…ُุคْู…ِู†ِ ู…ُุนَู„َّู‚َุฉٌ ุจِุฏَูŠْู†ِู‡ِ ุญَุชَّู‰ٰ ูŠُู‚ْุถَู‰ ุนَู†ْู‡ُ
Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai hutang dilunasi. (HR. Ahmad)

Bahkan, Rasulullah pernah menjelaskan, sekalipun seorang mukmin tersebut mati dalam keadaan syahid, hutang pun akan tetap ditangguhkan

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu bahwa Rasรปlullรขh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ูŠُุบْูَุฑُ ู„ِู„ุดَّู‡ِูŠْุฏِ ูƒُู„ُّ ุฐَู†ْุจٍ ุฅِู„َّุง ุงู„ุฏَّูŠْู†َ
Orang yang mati syahid diampuni seluruh dosanya, kecuali utang (HR. Muslim)

2. SIAPA SAJA YANG MATI NAMUN BELUM MELUNASI HUTANG, MAKA SURGA HARAM BAGINYA

Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW,

ุนَู†ْ ุณَู…ُุฑَุฉَ ุจْู†ِ ุฌُู†ْุฏُุจٍ ู‚َุงู„َ ูƒُู†َّุง ู…َุนَ ุงู„ู†َّุจِู‰ِّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูِู‰ ุฌَู†َุงุฒَุฉٍ ูَู‚َุงู„َ ุฃَู‡َุง ู‡ُู†َุง ู…ِู†ْ ุจَู†ِู‰ ูُู„ุงَู†ٍ ุฃَุญَุฏٌ . ู‚َุงู„َู‡َุง ุซَู„ุงَุซุงً ูَู‚َุงู…َ ุฑَุฌُู„ٌ ูَู‚َุงู„َ ู„َู‡ُ ุงู„ู†َّุจِู‰ُّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…-  ู…َุง ู…َู†َุนَูƒَ ูِู‰ ุงู„ْู…َุฑَّุชَูŠْู†ِ ุงู„ุฃُูˆู„َูŠَูŠْู†ِ ุฃَู†ْ ุชَูƒُูˆู†َ ุฃَุฌَุจْุชَู†ِู‰ ุฃَู…َุง ุฅِู†ِّู‰ ู„َู…ْ ุฃُู†َูˆِّู‡ْ ุจِูƒَ ุฅِู„ุงَّ ู„َุฎَูŠْุฑٍ ุฅِู†َّ ูُู„ุงَู†ุงً - ู„ِุฑَุฌُู„ٍ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ - ู…َุงุชَ ุฅِู†َّู‡ُ ู…َุฃْุณُูˆุฑٌ ุจِุฏَูŠْู†ِู‡ِ . ู‚َุงู„َ ู‚َุงู„َ ู„َู‚َุฏْ ุฑَุฃَูŠْุชُ ุฃَู‡ْู„َู‡ُ ูˆَู…َู†ْ ูŠَุชَุญَุฒَّู†ُ ู„َู‡ُ ู‚َุถَูˆْุง ุนَู†ْู‡ُ ุญَุชَّู‰ ู…َุง ุฌَุงุกَ ุฃَุญَุฏٌ ูŠَุทْู„ُุจُู‡ُ ุจِุดَู‰ْุกٍ

Samurah bin Jundub berkata: “Kami pernah bersam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapan seorang jenazah, lalu beliau bersabda: “Apakah disini ada seorang dari Bani Fulan?”, beliau bertanya itu sebanyal tiga kali, lalu seorang berdiri, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Apa yang menahanmu pada yang kedua dan ketiga kalinya untuk menjawabku, aku tidak akan menyebutnya di hadapanmu kecuali untuk kebaikan, sesungguhnya si fulan –salah satu dari keluarga mereka- ia meninggal dan ia tertahan dengan hutangnya”, ia (Samurah) berkata: “Sungguh aku telah melihat keluarganya dan siapa saja yang sedih untuknya melunasi hutangnya, sehingga tidak ada seorangpun yang menagih sesuatu kepadanya.” (HR. Ahmad)

Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad berkata:

ุฃูŠ: ู…ุญุจูˆุณ ุนู† ุฏุฎูˆู„ ุงู„ุฌู†ุฉ.

“Maksud dari “ia tertahan dengan hutangnya” adalah ia tertahan dari masuk surga.

Allohumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani, wa'audzubika minal ajzi wal kasali, wa'audzubika minal jubni wal bukhli, wa a'udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali

(Ya Allah.. sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas, Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia)

Amiin Ya Rabbal 'Alamiin..

Sumber : Siraman

Sifat Isteri yang Mendatangkan Rezeki Bagi Suaminya

Mendapatkan isteri yang ideal mungkin adalah impian para lelaki. Begitupun dengan wanita, siapa wanita yang tidak ingin memiliki suami shalih dan sesuai kriteria ideal yang didambakan.

Namun kita tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kita hanya bisa mengusahakan agar dapat menjalankan peran masing-masing semaksimal mungkin dan sesuai dengan apa yang diridhai Allah taala.

Ada sebuah nasihat bagi seorang suami. “Bahagiakanlah isteri karena membahagiakan isteri dapat melancarkan rezeki.” Benarkah demikian? Berikut sifat-sifat isteri yang bisa jadi akan mendatangkan rezeki bagi suaminya:

# 1. Wanita yang taat pada Allah dan rasul-Nya.

Ada empat faktor yang menjadi pertimbangan sebelum menikahi seorang wanita, yaitu karena (1) kecantikannya, (2) keturunannya, (3) hartanya dan (4) agamanya. Kita diperintahkan untuk memilih wanita karena faktor agamanya, beruntung sekali jika bisa mendapatkan keempatnya.

Wanita yang taat pada Allah dan Rasul-Nya akan membawa rumah tangga menuju surga, menuju ketentraman. Rumah tangga yang tentram, nyaman, bahagia adalah rezeki yang sangat berharga. Rumah tangga yang dinahkodai suami yang saleh didampingi istri yang salehah akan menjadikan rumah tangga itu berkah, menghasilkan anak-anak yang saleh / salehah, mendapatkan ridha dan rahmat Allah.

# 2. Wanita yang taat pada suaminya.

Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan menyuruh seorang isteri untuk sujud kepada suaminya (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sepanjang perintah suami tidak bertentangan dengan agama, maka isteri wajib mentaatinya. Ketaatan seorang isteri pada suaminya akan membuat hati suami tenang dan damai dan bisa menjalankan kewajibannya mencari rezeki yang halal untuk keluarga. Akan halnya wanita yang berkarier di luar rumah bisa tetap bekerja sepanjang suaminya mengizinkan dan kewajibannya untuk menjaga diri dengan baik di tempat kerja.

“Laki-laki adalah pemimpin atas wanita karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka wanita-wanita yang saleh adalah yang taat lagi memelihara diri di belakang suaminya sebagaimana Allah telah memelihara dirinya”. (Q.S. An Nisa : 34).

# 3. Wanita yang melayani suaminya dengan baik.

Tugas utama isteri adalah menjalankan tugas rumah tangga dengan sebaik-baiknya, melayani suami dengan baik serta mendidik anak-anaknya. Isteri yang baik berusaha melayani suaminya dengan baik seperti menyiapkan makanannya, menyiapkan keperluannya, memenuhi kebutuhan biologisnya, menjaga perasaan suaminya jangan sampai suaminya terluka karena sikapnya.

Wanita yang demikian akan menjadi kesayangan suaminya dan bisa menjadi partner yang baik dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah dan menarik hal-hal positif dalam rumah tangganya, termasuk rezeki bagi suaminya.

# 4. Wanita yang berhias hanya untuk suaminya.

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah” (H.R. Muslim).

Adalah sifat wanita yang suka bersolek dan berhias, tapi wanita yang saleh hanya berhias dan menampakkan perhiasan untuk suaminya. Wanita yang jika dipandang suaminya selalu menyenangkan dan tahu bagaimana menyenangkan suaminya. Wanita yang bahkan malaikat pun mendoakannya akan memudahkan rezeki datang padanya.

# 5. Jika ditinggal menjaga kehormatan dan harta suami

Saat suami keluar mencari nafkah, isteri yang ditinggalkan di rumah harus menjaga kehormatannya, menjaga dirinya dari tamu yang tidak pantas, membatasi keluar rumah jika tidak terlalu penting. Harta suami yang dititipkan padanya dipergunakan pada hal-hal yang bermanfaat dengan seizin suaminya. Wanita seperti ini memudahkan rezeki masuk ke dalam rumahnya sebagai upah dari ketaatannya kepada Allah dan kesetiaan pada suaminya.

# 6. Wanita yang senantiasa meminta ridha suami atasnya

Wanita ini tahu bagaimana menyenangkan hati suaminya. Menjaga sikap dan perilaku agar tidak menyinggung dan melukai perasaan suaminya. Dia selalu berusaha agar suaminya tidak marah padanya. Dia tidak akan pergi tidur dalam keadaan marah atau meninggalkan suaminya dalam keadaan marah sampai memperoleh maafnya. Mengajak suaminya bercanda untuk menceriakan perkawinannya. Berusaha mendidik anak-anaknya dengan baik. Menjaga rahasia perkawinan dari orang lain.

“Maukah kalian kuberitahu isteri-isteri yang menjadi penghuni surga yaitu isteri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya, dimana jika suaminya marah dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata ” Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha” (H.R.An Nasai).

Isteri seperti ini adalah isteri yang dimudahkan rezekinya melalui tangan suaminya karena amalan dan kesetiaan pada suaminya,

# 7. Wanita yang menerima pemberian suami dengan ikhlas

Wanita yang tidak pernah mengeluh berapapun rezeki yang dibawa pulang suaminya. Selalu ikhlas menerima dan menghargai apapun yang diberikan suami kepadanya. Banyak disyukuri sedikit pun diterima dengan ikhlas. Wanita seperti ini adalah wanita yang mensyukuri rezekinya. Allah sudah menjanjikan bahwa jika kita bersyukur Dia akan menambah rezeki kita. Wanita yang bersyukur dan ikhlas rezekinya senantiasa bertambah baik kuantitas maupun keberkahannya yang akan diberi Allah langsung padanya ataupun melalui suaminya.

# 8. Wanita yang bisa menjadi partner meraih ridha Allah.

Wanita yang menjadikan rumah tangganya sebagai ibadah, pengabdiannya kepada Allah. Bisa menjadi teman diskusi yang berimbang bagi suami. Bisa melakukan koreksi dan menyampaikan dengan lembut kepada suaminya. Mendengarkan nasihat dan kata-kata suaminya dengan penuh perhatian. Sebelum melaksanakan ibadah sunnah seperti puasa sunnah meminta izin kepada suaminya dan tidak melaksanakan jika tidak diizinkan. Bisa menjadi pendorong dan motivator suami untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Itulah mengapa ada kalimat ” dibalik pria yang sukses ada wanita hebat di belakangnya”. Karena wanita seperti ini adalah rezeki utama suaminya.

# 9. Wanita yang tak pernah putus doa untuk suaminya.

Wanita yang bersyukur adalah wanita yang menerima semua kehendak /takdir Allah padanya tapi tetap berusaha melakukan yang terbaik termasuk dengan mendoakan suami dan anak-anaknya agar sukses dunia akhirat. Wanita ini tidak pernah putus doa, tapi menjadikannya sebagai rutinitas harian, penghias bibir setelah shalat. Wanita ini tahu bahwa rezeki suaminya akan ditambah dan diberkahi jika dirinya senantiasa melibatkan Allah pada langkah suaminya melalui doa-doa yang dipanjatkannya setiap hari.

Dan betapa beruntungnya seorang laki-laki jika bisa mendapatkan isteri dengan ciri-ciri seperti di atas. Jika pun isteri ternyata belum memiliki ciri-ciri seperti di atas adalah tugas suami untuk mendidik isterinya, karena isteri adalah tanggung jawab suaminya dan dia akan ditanya di akhirat tentang hal itu. Wallahu alam. (mozaik.inilah)

Hikmah dibalik Keguguran dan Kematian Anak dalam Islam

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS Al Anfal: 27)

Sahabat pernah mengalami kehilangan anak? Baik keguguran maupun anak meninggal sebelum usia baligh? Tak perlu bersedih hati, sesungguhnya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wassalam pun pernah mengalami kehilangan buah hatinya.

Rasulullah dikaruniai tujuh orang anak, enam hasil pernikahan dengan Khadijah binti Khuwailid. Mereka adalah Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Fatimah, Ummu Kultsum. Semua anak lelaki Rasulullah SAW meninggal sewaktu kecil. Bisa dibayangkan betapa luar biasanya Rasulullah menghadapi takdir dari Allah tersebut?

Ketika Rasulullah dianugerahi keturunan dari istrinya yang lain, yakni Maria Al Qibthiyah, anak lelaki tersebut diberi nama Ibrahim. Namun usia Ibrahim pun tidak lama, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,

"Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim. "(HR. Bukhari).

Yang perlu kita ketahui tentang rahasia kematian anak-anak sebelum usia pubertas antara lain:

1. Anak tersebut langsung masuk ke dalam surga tanpa hisab

"Tiap-tiap anak orang Islam yang mati sebelum baligh akan dimasukkan ke dalam surga dengan rahmat Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Anak-anak tersebut akan mengantarkan orangtuanya untuk masuk pula ke dalam surga

Menurut Hadits Qudsi:

Allah SWT berfirman pada harui kiamat kepada anak-anak:
"Masuklah kalian ke dalam surga!"

Anak-anak itu berkata: "Ya Rabbi (kami menunggu) hingga ayah ibu kamimasuk. "

Lalu mereka mendekati pintu syurga! tapi tidak mau masuk ke dalamnya. Allah
berfirman: "Mengapa, Aku lihat mereka enggan masuk? Masuklah kaliankedalam surga! "

Mereka menjawab: "Tetapi (bagaimana) orang tua kami?" Allah pun berfirman:
"Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian."

(Hadits Qudsi Riwayat Ahmad dari Syurahbil bin Syua'ah yang bersumber dari
sahabat Nabi SAW)

Diriwayatkan dari Anas ra: "Rasulullah saw bersabda, tidaklah seorang muslim kematian tiga anaknya yang belum baligh, kecuali, Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayang-Nya kepada anak-anaknya tersebut," (HR Bukhori Muslim).

3. Allah tidak pernah membebani sesuatu di luar tingkat kesanggupan hamba-Nya

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau khilaf.' "

4. Allah akan memberi ganti yang lebih baik lagi, jika orangtuanya bersabar

Sudah pernah mendengar kisah meninggalnya anak Ummu Sulaim? Berikut kisahnya:

Diceritakan bahwa anak Thalhah merintih sakit, sedangkan Abu Thalhah keluar rumah. Kemudian anak itu meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya, "Bagaimana keadaan anakku?"

Ummu Sulaim -Ibu anak itu- menjawab, "Ia tenang seperti sedia kala (yang dimaksud adalah meninggal, sedangkan Abu Thalhah mengira bahwa anaknya itu dalam keadaan sehat)."

Kemudian Ummu Sulaim menyediakan makan malam untuk Abu Thalhah. Setelah itu ia berhias diri, lebih cantik dari biasanya, sampai Abu Thalhah menggaulinya.

Setelah ia melihat bahwa suaminya sudah melepaskan rindunya dan merasa puas, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, "Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu, jika suatu kaum meminjamkan suatu pinjaman, apakah yang meminjam itu berhak menolak mereka jika memintanya kembali?"

Abu Thalhah menjawab, "Tentu saja tidak!" Kemudian Ummu Sulaim berkata, "Demikian pula dengan anakmu. Anakmu telah meninggal, maka mintalah pahala dari Allah. "

Abu Thalhah berkata sambil marah, "Engkau telah membiarkan aku, sampai setelah aku junub karena bergaul denganmu, engkau beritahukan tentang anakku." Kemudian ia pergi mendatangi Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam untuk memberitahukan apa yang terjadi.

Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam membenarkan apa yang telah dikerjakan oleh Ummu Sulaim, lalu bersabda: "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua."

Kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah oleh Nabi sholallahu 'alaihi wassalam dan salah seorang di antara kaum Anshar berkata, "Kemudian aku melihat tujuh orang anak, semuanya pandai membaca Al Quran, yakni anak-anak dari Abdullah. Semua itu, tidak lain karena dikabulkannya doa Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam ketika beliau berdoa,' Ya Allah, berikanlah berkah kepada mereka berdua. '

Wallaahualam. Semoga yang sedikit ini beroleh manfaat.