Kamis, 24 Januari 2013

“Gender Issues in Community Water Supply”


Summary

“Gender Issues in Community Water Supply”

 
By: Doso Winarno
 

Gender issues are important thing because of the role of women in managing the water supply actually could support the life and education to the next generation. The maker of traditional herb could be found in a lot of either urban quarter or village as group. The gender issue of this herb seller is attracting to be reviewed because the supplying of clean water effect not only to the healthiness of its people, but to the healthiness of the buyers.

The proverty is cause diffulties to the women role as herb seller in taking their task as next generation. The most men that work as reconstruction worker and farmer had minimum income, seasonally or evenly. They have no capability to support the life and education of their children. Poverty had caused 97 mothers pace to make and sell herb in order to get their family to had meals and education to their next generation. The activity of some mother in blending herb had been started since early morning to the evening until it already to be sold around by carrying it or clean water had been polluted by the dwelling waste and feces of livestock. The management of clean water had been started by “Management Model of Sustainable Poverty in Canden, Bantul”. The aim of this model is to cope with the pollution of water under the land by the waste from toilet, domestic waste and feces of livestock. This approach done by considering about the important of healthiness, collective “stabling”, building of absorbing well, composting toilet, and categorizing the wastes into organic waste.

The management of water by the people had key in the role of women that sell herb in building and managing the sanitize had could done fully by their self, whereas this group capable also to supply the water with the lower cost. The group that manages of waste water from the maker of herb in Kiringan Village, Jetis, Bantul had executed the building of pro-gender. Women group that sell herb had asked their husband in this plant and construction, the operating of water system and also the drainage. In executing of cope with poverty, the society didn’t get any advices about other important factors related with the sustainability.

 

 

 

 

Keyword: Water Supply; Gender; Proverty; Sustainability.

 

 

 

 

 

 

 

 

“Isu Gender Dalam Pengelolaan Air Secara Berkelompok”

 

Peran ibu menimba air sumur tanah dangkal pada kedalaman 11 m
Isu gender makin menguat seiring dengan pentingnya peran perempuan dalam mengemban generasi penerus. Menguatnya isu gender dalam mengelola air diangkat menjadi makin menarik bila peran perempuan dapat mengolah air dengan ramuan alami menjadi Jamu Tradisional Jawa yang dipercaya berkhasiat sebagai penambah kekuatan, pencegah bau badan, dapat mengobati sakit batuk juga dapat menghilangkan rasa kecapaian atau pegal-linu. Gigihnya kelompok perempuan penjual jamu ini dapat nyata menopang kehidupan dan pendidikan bagi generasi penerus. Ini wajar, karena hari depan remaja ada di tangan perempuan penjaja jamu tersebut. Ibu-ibu penjual jamu-lah yang mengandung dan melahirkan anak-anaknya-pun akan terganggu, bila kondisi kualitas air tidak sehat. Terkadang, dapat lahir bayi dengan berat badan di bawah normal akibat mengkonsumsi air yang tidak sehat. Balita yang mengikuti ibunya memasak jamu di dapur tidak luput pula dari asap  tungku kayu. 


Pengrajin jamu tradisional dapat dijumpai di perkampungan kota maupun di perdesaan secara berkelompok. Isu gender penjual jamu ini menarik disimak karena pengadaan air bersihnya tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan warganya, tetapi juga terhadap kesehatan pembelinya. Kemiskinan telah mempersulit peran perempuan penjual jamu dalam mengemban penerus generasi. Kemiskinan sangat erat berkaitan dengan langkanya lapangan pekerjaan sehingga perlu juga banyaknya lapangan pekerjaan yang tercipta dalam program dan kegiatan pengelolaan air bersih.

Kaum lelakinya sebagian besar berkerja sebagai buruh bangunan dan bertani berpenghasilan minim, musiman tidak menentu, tak kuasa menopang penghidupan dan pendidikan anak. Kemiskinan penyebab 97 ibu-ibu berkiprah membuat dan menjual jamu demi asap dapur dan pendidikan generasi penerus di Pedukuhan Kiringan, Desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul yang berpenduduk 828 jiwa. Aktifitas ibu-ibu meracik jamu diawali sejak dini hari sampai siap saji. Kegiatan dilanjutkan menjajakan jamu dengan “digendong” maupun naik sepeda “ontel” berkeliling kampung hingga sore hari.

Kaum lelaki yang pekerjaannya musiman,  terlena kurang perhatian terhadap kebersihan lingkungan perumahan. Tak terasa, lama kelamaan sumber air tercemar limbah rumah tangga dan kotoran ternak.

Tatkala peristiwa para bayi penjual jamu dan pelanggannya lahir, ia disusui oleh ibunya dengan kebiasaan meminum jamu sejenis “uyub-uyub” atau “wejah” yang berkhasiat nyata untuk kesehatan serta melancarkan air susu ibu.  Pengalaman  telah menunjukkan bahwa air susu ibu yang mengandung hijauan dan sejenis kunyit dapat menyehatkan dan mencegah infeksi. Ibu pula-lah yang mendidik anak balita sampai beranjak dewasa. Untuk itu, kualitas air yang diolah haruslah terjaga dan menyehatkan.

Khusus dalam kaitannya dengan perempuan ukuran kuantitatif dapat digunakan Indeks Pembangunan Gender (IPG) (Gender-related Development Index) dan Ukuran Pemberdayaan Gender (UPG) (Gender Empowerment Measure) yang dikembangkan oleh UNDP. Isu pengolahan air oleh Gender pejual jamu tradisional Jawa, IPG-nya apakah telah menunjukkan seberapa jauh kebutuhan yang paling mendasar telah terpenuhi, yaitu harapan hidup, tingkat pendidikan dan penghasilan dengan memperhatikan diskriminasi jenis kelamin?.

Masalah perempuan pengelola air menjadi jamu berkaitan erat dengan kemiskinan dan lingkungan hidup biofisik, untuk itu  digunakan juga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) (Human Development Index) dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) (Human Poverty Index) serta Indeks Lingkungan Hidup (ILH). IPM serupa IPG tanpa memperhatikan diskriminasi gender.  IKM adalah ukuran derajat kemiskinan dalam empat dimensi kebutuhan dasar manusia, yaitu hidup panjang yang sehat, pengetahuan, kebutuhan ekonomi dan keterlibatan sosial. 

Kaum perempuan mempunyai kedudukan penentu bagi generasi yang akan datang. Namun peranan perempuan yang sangat penting itu tak dapat dilaksanakannya dengan baik, akibat pencemaran air oleh limbah seperti kotoran sapi dan buangan limbah domestik serta sampah lainnya. Keinginan warga dalam meningkatkan kualitas lingkungan perumahan dan mutu jamu telah memperhitungkan kaum perempuan dalam perbaikan mutu air selain untuk kebutuhan sehari-hari juga sebagai bahan baku jamu.

Racikan Jamu Tradisional Jawa dikerjakan ibu dan anak perempuan dengan alat ”pipisan batu” dan ”lumpang kayu”
Penggunaan air tanah di Kiringan, Canden, Bantul didominasi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri jamu dan pertanian. Karena pasokan air sumur penduduk tidak bertambah ataupun berkurang, maka dengan meningkatnya pemanfaatan air untuk jamu, pengaruh limbah domestik dan limbah ternak, kualitasnya dapat berubah. Hal ini terjadi apabila kemampuan air untuk membersihkan dirinya secara alamiah sudah terlampaui akibat pencemaran limbah, untuk  itu diperlukan tindakan mencegah terjadinya pencemaran air. Tanda-tanda air tercemar terhadap kesehatan dapat dilihat dari berjangkitnya wabah diare, infeksi kulit atau infeksi saluran pernafasan.


”Pipisan” penggerus ramuan jamu dikerjakan ibu di lantai bibir sumur
Sumber utama pencemaran air berasal dari buangan limbah domestik, kotoran ternak. Permasalahan utama Pedukuhan Kiringan yang berpenduduk 213 KK 828 jiwa terdiri dari  5 RT. Kondisi demografi RT I dihuni 34 KK yang punya WC 4 KK atau 10%, selanjutnya 40% (RT II), 35% (RT III), 15% (RT IV), 19% (RT V). Berarti perilaku warga masih banyak buang hajat di selokan, di sungai atau di kebun. Telah diupayakan pengelompokan kandang memakai tanah kas desa hanya mampu menampung 17 kandang, selebihnya kandang masih berdekatan dengan rumah penduduk dan kotorannya meresap tanah mencemari sumber sumur tanah dangkal.  


Masyarakat telah mengembangkan arisan pembuatan WC secara sukarela Rp.1000/KK/Bulan. Arisan dan gotong-royong pengadaan WC bersifat lentur dan dapat diperbaiki berdasar pengalaman membuang limbah domestik serta berko-evolusi dengan lingkungan hidup yang mengalami perubahan dengan dinamis. Unsur kearifan lokal yang masih relevan dan sesuai dengan kondisi mutakhir diadopsi, sedangkan yang telah disfungsional karena tidak sesuai lagi dengan perubahan lingkungan hidup biogeofisik dan sosial-budaya-ekonomi seperti buang limbah sembarangan dan buang hajat di sungai segera dikurangi dan dijauhi. Tawaran teknologi toilet kompos kini menjadi pertimbangan untuk pembuangan tinja bagi keluarga, mengingat masih banyak rumah belum memiliki WC.

Air diproduksi menjadi jamu dijajakan ibu-ibu bersepeda ontel & digendong
Banyaknya pemanfaatan air tanah dangkal ini menurut masyarakat disebabkan oleh 3 faktor yaitu: kualitasnya dianggap cukup baik, jumlahnya (produktivitas) cukup dan lebih ekonomis. Dari segi kejernihan kualitasnya umumnya memang baik, namun harus diperhatikan bahwa data kualitas air tanah dangkal tidak mendukung pendapat masyarakat yang masih beranggapan air sumurnya masih sehat. Berdasar pengamatan penulis, terdapat air sumur yang telah mulai berubah warna dan mulai berbau tidak segar.


Artinya, masih banyak penduduk yang belum bisa mengakses sumber air bersih yang benar-benar terjamin kualitasnya. Apabila dilakukan pengukuran pencemaran air tanah dangkal secara benar apakah masih menunjukkan, parameter NO3, NH4 dan koli tinja kondisinya masih baik atau buruk?. Mengingat pencemaran yang terjadi, air telah terkontaminasi. Perlu dibuktikan, bagaimana air tanah dangkal dapat dinyatakan tidak memenuhi atau masih memenuhi syarat air baku untuk air minum menurut PP No. 20 Tahun 1990?. Secara periodik dapat dilakukan pendataan  untuk melihat telah terjadi penurunan kualitas air tanah dangkal selama periode 4 tahun. Untuk NO3, NH4 dan koli tinja telah terjadi kenaikan atau penurunan. Jumlah rata-rata pemanfaatan air bersih bagi penduduk di daerah ini adalah 30 liter/orang/hari. Kondisi kualitas air tanah apabila telah tercemar E-coli juga berpengaruh terhadap kualitas air yang diolah menjadi jamu.

Profil penjual jamu gendong di seputar Gejayan Kota Yogyakarta



LANGKAH UTAMA YANG PENTING

Perlakuan pemanfaatan sumber daya air yang dapat dilakukan warga dengan mudah dengan penghematan dan konservasi, minimalisasi pengotoran dan pencemaran, serta maksimalisasi daur ulang dan pemanfaatan kembali. Dilakukan peningkatan pendapatan dan program lainnya untuk mendukung pendekatan yang terintegrasi terhadap pengurangan tingkat kemiskinan dan pemberdayaan kaum perempuan.

Untuk mendapatkan sumber air bersih yang berkualitas diperlukan usaha terpadu berbagai sektor kegiatan, seperti prasarana dan sarana drainase, pengelolaan sampah dan pengelolaan limbah domestik. Dilakukan pendekatan penyediaan air dan sanitasi yang partisipatif dan yang responsive gender. Pentingnya peran ibu-ibu selaku produsen sekaligus pemasar  jamu tradisional dalam menopang kehidupan serta pendidikan anak, memerlukan terjaganya persedian air bersih berkualitas sehat dan alami. Diperlukan partisipasi perempuan dalam perencanaan dan implementasi terhadap penyediaan air dan sanitasi. Bantuan pihak luar diperlukan untuk mendorong dan memancing terwujudnya swadaya masyarakat untuk kegiatan pengelolaan air yang mandiri dan berkelanjutan

Genangan limbah domestik penyebab pencemaran sumur tanah dangkal
Pembuatan toilet kompos ini baru dimulai di Canden pada bulan Maret 2006, sebagai inovasi teknologi dan kerja bersama berbagai pelaku pembangunan. Pilihan sistem toilet kompos yang telah diuji coba dan diminati warga,  kini menjadi program utama, selain mengatasi pencemaran air juga berefek ganda terhadap peningkatan kualitas lingkungan perumahan. Pengadaan toilet kompos dengan bahan lokal, sederhana dan murah dapat dikerjakan warga secara bergotong-royong. Bahan lokal seperti, wc jongkok atau wc duduk, pipa tanah (plempem) dapat  menjadi industri lokal toilet kompos dari tanah liat atau keramik yang embrionya telah ada di Canden, Bantul.


Keuntungan penggunaan Sistem Toilet Kompos (Composting Toilet):

1)   
Kotoran ternak penyebab air sumur tanah dangkal berubah warna dan berbau anyir
murah dengan bahan lokal,


2)    memenuhi syarat kesehatan dan tidak berbau  serta tidak menarik lalat,

3)    mudah digunakan sebagai toilet jongkok ataupun duduk,

4)    tinja dan air seni dipisahkan dan keduanya dapat digunakan sebagai pupuk,

5)    mengembangkan sistem pengelolaan greywater sehingga dapat diguna-ulang,

6)    dapat membangkitkan industri toilet kompos dengan bahan lokal,

7)    membangun sebuah sistem energi terperbarukan untuk mendukung industri tersebut.

Pembuatan Toilet Kompos masyarakat bersama mahasiswa
 
Dorongan motivasi inovasi teknologi toilet kompos telah dicoba di Canden wujud kerja bersama warga dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Menurut Arntein Sherry (1969) bahwa, puncak dari segala partisipasi warga dan lingkungan sosialnya disebut sebagai kontrol masyarakat. Pada tingkat kewenangan ini, warga dan lingkungan sosialnya sudah memiliki derajad kewenangan tertentu yang mampu menjamin mengendalikan institusi dan progam saling pembelajaran dalam menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan berdaya-saing  tinggi. Kewenangan warga-lah yang menjamin pengendalian institusi dan progam bersama penanggulangan kemiskinan berkelanjutan di Canden. Warga lebih mengutamakan sistem air minum dan sanitasi yang disenangi masyarakat. Pemecahan masalah pencemaran air dirancang secara lokal dan padat karya untuk menciptakan lapangan kerja. Permukiman kembali ternak (Cattle Rehabilitations in Dusun Kiringan) secara berkelompok telah dibuat dengan tanah kas desa, namun hanya mampu menampung 17 kandang  saja. Masih banyak kandang ternak menjadi satu dengan rumah tinggal. Permukiman kembali ternak secara berkelompok memiliki kesempatan lebih besar untuk menjaga kualitas air serta pengelolaan pupuk kandang dengan alat press yang dapat memberikan keuntungan jangka panjang. Tetumbuhan obat bahan baku jamu dapat disuburkan dengan pupuk kandang yang telah diolah, meskipun sebenarnya pupuk tinja


dari toilet juga dapat dipergunakan. Selama ini bahan baku tetumbuhan masih didatangkan dari luar daerah, padahal jenis tanaman obat dapat dibudidaya sendiri di pekarangan. Bahan baku jamu atau ”empon-empon” tersebut terdiri dari kunyit (kunir), kencur, jahe, temu ireng, temu lawak, kunyit putih, puyang, daun pepaya. Hasil produk jamunya  berupa: beras kencur, galian singset, cabe puyang, uyub-uyub, kencur sunti, parem tahun, dan kunir asem.

Inovasi teknologi pembuatan Toilet Kompos dengan melobangi ember bekas, Canden, Maret 2006
 
  Kelompok perempuan penjual jamu secara turun temurun di Kiringan awalnya mencapai 114 orang. Perkembangan terakhir menunjukkan penjual jamu berjumlah 97 orang, yang tua meninggal dunia serta sebagian alih profesi. Ada 4 paguyuban jamu dengan kegiatan arisan dan simpan-pinjam, diantara yang aktif Paguyuban Jamu ”Sari Murni” digalang sosok perempuan Dukuh Kiringan yaitu oleh Nyonya Sambudi di rumahnya, diadakan setiap bulan tanggal 12 malam dengan besaran uang arisan 2.000 Rupiah setiap anggota. Anggota paguyuban dapat meminjam uang 100 hingga 300 Ribu Rupiah. Keuntungan kotor setiap hari dari hasil membuat dan menjual jamu mencapai 40 Ribu Rupiah dikurangi biaya bahan baku ramuan jamu 15 Ribu Rupiah, sehingga rata-rata per-hari dapat menangguk keuntungan bersih 20 hingga 30 Ribu Rupiah. Aktivitas perempuan dalam pemakaian air untuk keperluan rumah tangga dan bahan baku jamu merupakan penyebab kelompok perempuan mendominasi penggunaan air. Meningkatnya kuantitas persediaan air oleh perempuan, kurang diimbangi peran suami dalam menyediakan sarana pembuangan limbah atau sarana sanitasi yang dapat menurunkan tingkat kesehatan?.


Pembuatan Toilet Kompos  sebaiknya menggunakan bahan lokal
 
 Pengelolaan air bersih telah mulai diangkat masyarakat sejak awal tahun 2006 dengan sebutan ”Model Penanggulangan Kemiskinan Berkelanjutan di Canden, Bantul”. Tujuan umum model ialah penanggulangan kemiskinan dan tujuan khususnya untuk mengatasi pencemaran air tanah dari toilet, limbah domestik dan kotoran hewan peliaraan. Pendekatannya dilakukan dengan kesepahaman tentang pentingnya kesehatan, kandangisasi secara berkelompok, pembuatan sumur resapan, toilet kompos, dan pemilahan sampah menjadi kompos organik. Perubahan sikap-perilaku warga menjadi program prioritas kelompok untuk mengatasi kondisi pasokan air yang terkontaminasi. Teknologi yang dipertimbangkan ialah composting toilet dan biogas digester. Kompos yang dihasilkan akan digunakan pupuk dan biogasnya untuk memasak, membuat jamu atau penggunaan lain. Penggunaan teknologi toilet kompos meskipun telah dicoba oleh warga Canden, masih memerlukan  penyesuaian dengan sifat sosial ekonomi penduduk yang dilayani, dan dapat ditingkatkan apabila dikehendaki oleh perubahan keadaan. Masyarakat masih perlu belajar mengelola sistem dan ketrampilan untuk merawat, memperbaiki bahkan memproduksi peralatan toilet kompos yang dipasang. Penanganan air oleh kelompok  perempuan ini lebih difokuskan pada pemeliharaan sumber daya air dan pengendalian kualitas air sumur dangkal.


 

Pengelolaan
Galian tanah untuk Penampungan sampah organik secara sederhana
di Kiringan, Canden, Bantul
 
 sumber air oleh masyarakat, diperlukan untuk menjamin pasokan air bersih.  Pengelolaan air untuk keperluan rumah tangga dan bahan baku jamu diintegrasikan dengan layanan lingkungan perumahan yang lainnya. Terutama, dalam kaitan eratnya dengan sanitasi, dua hal ini dikembangkan secara paralel. Pemilahan sampah juga telah mulai dilakukan bertujuan menjaga kualitas air,  meningkatkan kerjasama antar warga, membiasakan mengelola sampah sejak dari rumah, menjadikan pengelolaan sampah lebih terorganisir, meningkatkan produksi pupuk organik dan keramik, di samping lingkungan lebih bersih, sehat dan hijau. Selain sebagai pengguna air, warga juga diaktifkan dan difungsikan sebagai pengelola air bersih, dengan membentuk kelompok swadaya masyarakat di bidang air bersih, sehingga sangat memungkinkan untuk mengelola prasarana dan sarana air bersih dengan wilayah pelayanan terbatas atau di lingkungan sekitarnya. Pengelolaan air bersih yang dilakukan oleh komunitas ini diharapkan dapat menjamin keberlanjutan penyediaan air bersih di lingkungannya baik dari aspek teknis maupun non teknis.


Penampungan sampah dapur tertutup telah dicoba di Canden, sebaikya tidak dengan plastik tapi dengan produksi lokal keramik 
 
Pengelolaan air oleh warga ini kuncinya pada peranan perempuan penjual jamu dalam membangun dan mengatur sistem sanitasi yang bisa sepenuhnya mandiri, sementara kelompok ini juga akan mampu menyediakan air dengan biaya lebih rendah.  Pengelolaan air dirancang secara lokal dan padat karya, agar tercipta lapangan pekerjaan. Potensi derasnya air terjun dari dam Sungai Boyong yang berjarak 200 meter  selain  telah dimanfaatkan untuk wisata mancing dan mendayung, juga diinginkan menjadi pembangkitan listrik dari mikro-hidro. Manfaatnya untuk penyediaan air bersih dengan memompa air tanah  serta penyediaan listrik, juga dapat menggantikan fungsi BBM pada mesin diesel penggiling bahan mentah jamu. Penyediaan air bersih dan listrik akan meningkatkan kualitas manusia dan mengurangi beban tenaga perempuan dalam memproduksi jamu yang berekses pada naiknya tingkat kesehatan dan pendidikan anak. Eko-wisata lebih dikembangkan didasarkan atas peran serta masyarakat, dapat peluang pasar. Eko wisata yang telah berkembang selain wisata jamu tradisional juga pemancingan,  perahu dayung diikuti tumbuhnya kerajinan enceng gondok dan gerabah. Pariwisata yang dikembangkan dengan dasar pro-rakyat miskin dapat memberi sumbangan yang berarti pada usaha penanggulangan kemiskinan (Cezayerli, 2003).


Pemecahan masalah air semacam ini memiliki kesempatan lebih besar untuk bisa terus beroperasi dan dengan demikian memberi-

Air terjun di dam Sungai Boyong berjarak 200 m dari Kiringan diinginkan warga menjadi Potensi energi mikro hidro pembangkitan listrik


Generator yang diinginkan
kan keuntungan jangka panjang.  Sementara pemecahan berteknologi tinggi ini dapat juga macet apabila setelah terjadi kerusakan ringan pertama tak bisa diperbaiki dengan "biaya masa siklus" (life-cycle cost) yang meliputi semua biaya untuk menjaga investasi agar tetap terawat dan beroperasi dengan efisien. Sebagian besar pemasukan yang diperoleh dari pengelolaan air dan sanitasi akan menjadi dana berputar, dipakai biaya masa siklus dan membantu mengembangkan sistem semacam pada kelompok masyarakat lainnya. Selebihya dipakai membantu kegiatan pengembangan lainnya seperti sanitasi, kandang kelompok atau jalan lingkungan.


Peran gender dalam pengelolaan air telah diawali dengan merubah perilaku dalam pembuangan limbah, maka Dusun Kiringan, Canden, Bantul telah mempelopori Indeks Pembangunan Gender (IPG).  Kelompok pengelola air pengrajin jamu  di Kiringan telah melakukan pembangunan pro-Gender. Keterlibatan kelompok ini telah mengajak para suami dalam perencanaan dan konstruksi serta pengoperasian sistem air serta buangan. Dalam melaksanakan penanggulangan kemiskinan, warga juga tidak banyak menerima usulan kegiatan yang hanya berdasarkan rendahnya biaya modal awal, tanpa mempertimbangkan faktor penting lainnya yang berhubungan dengan keberlanjutan (sustainability).

Feature ini ditulis mengacu payung pembangunan berkelanjutan dari buku To achieve sustainable tourism development (Soemarwoto, 2003)  the Agenda 21 STD DIY is designed to rest on the four of sustainable development as summarized by Swaminathan (2002). These are: pro-environment, pro-poor, pro-women, pro-livehood opportunities (job-led).

 

Reference:

Arntein Sherry. 1969. A Ladder of  Citizen Participation. American Institute of Planners Jurnal.

Cejayerli,G. 2003. Tourism More Than Sight-seeing. ADB Review, July-August 2003.

Soemarwoto Otto, Towards Jogja The Eco-Province The Regional Agenda 21 The Sustainable Tourism Development of the Special Province of Yogyakarta,  Published by: Provincial of Yogyakarta Special Region in Collaboration with United Nations Development Programme (UNDP), 2003.

Disiapkan untuk:
Policy Dialog on Small Community Water Supply in Low Income Settlemens of Yogyakarta, Indonesia,
May 20, 2006, Yogyakarta. oleh Doso Winarno, Pemerhati masalah Lingkungan perumahan
 
 
   


Penyebab Pencemaran air sumur adalah kotoran ternak sapi