Kamis, 18 Desember 2014

Mari kita kerja, senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kerja, kerja, kerja, bekerja untuk kerja.
Kita manusia diharuskan untuk dapat memberikan nafkah kepada diri kita sendiri, dan juga kepada keluarga yang kita sayangi.
Mari kita kerja, senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Hanya dengan takwa kita akan dapat meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala baik di dunia ataupun di akhirat kelak.
Allah SWT memerintahkan kerja dan bekerja kepada setiap hamba-Nya yang termuat dalam Al-Quran sebagai pedoman hidup kita untuk mencapai haqq-ul-yaqin pada surat Attaubah,105 berikut ini.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS:9.At-Taubah:105.
Hidup ini bukan tentang menghasilkan uang, mendapatkan kekuasaan atau ketenaran. Hidup ini jelas bukan tentang kerja, bekerja atau pekerjaan.
Bekerja hanya diperlukan untuk membuat kita tetap bisa bertahan hidup sehingga kita bisa sejahtera menikmati keindahan dan kebahagian dari kehidupan.
Dalam salah satu riwayat shahih Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda,
لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ .
“Sesungguhnya apabila seseorang di antara kalian mengambil tambang kemudian mencari kayu bakar dan diletakkan diatas punggungnya, hal itu adalah lebih baik baginya dari pada ia mendatangi seseorang yang telah dikarunai keutamaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian meminta-minta padanya, adakalanya diberi dan ada kalanya ditolak.” (HR. Bukhari, 5/320 dan Muslim).
Hadits ini menjelaskan tentang betapa pentingnya “bekerja” bagi seorang Muslim, walau hanya dengan mencari kayu bakar.
Bekerja, untuk mendapatkan rezki yang halal kita dituntut bekerja keras tidak malas, dikarenakan banyaknya rezki belum tentu sama, salah satu cara mencari rezki adalah bekerja dan berdo’a, bukan karena seberapa banyak rezki akan tapi yang penting adalah dari mana rezki didapat dan dibelanjakan serta untuk apa? Inilah antisipasi korupsi yang sesungguhnya!
Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya unsur pemberian dari pihak luar ‘gratifikasi’, yang dapat diindikasikan adanya satu kepentingan tertentu menyatakan tentang keadaan yang samar tentang kehalalan atau keharaman dari sesuatu. Rezki yang syubhat perlu diantisipasi sebagai tindak korupsi, karena bekerja sama dengan pihak yang secara umum diketahui kedzaliman atau pelanggarannya terhadap syariah.
Kita manusia diminta hati-hati dalam perbuatan syubhat. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan…” (HR. Muslim).
الإبتعاد عن الشبهات
Syubhat apabila sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya, tentang keadaan samar.
Bagaimana memperoleh rezki yang halal sebagai rahmat dari Allah adalah yang dicari sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Anbiya berikut ini.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. QS:21.Al-Anbiyaa:107.
Bagaimana rezki dapat menjadi berkah-rahmah-kasih sayang-ampunan untuk alam semesta (Rahmatan lil alamin untuk umat manusia, untuk jin, dan untuk segala bentuk kehidupan lainnya).”
Pada dasarnya bukan tempat di mana kita tinggal, yang penting bagaimana kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Manusialah yang menjadi sentral dari segala urusan di muka bumi ini. Karena begitulah maksud Allah SWT mengapa manusia diciptakan di muka bumi ini dan ditegaskan lebih jauh fungsi manusia di alam semesta ini.
Hendaknya pola pikir orang-orang beriman adalah memupuk keinginan untuk terus belajar yang berpengaruh pada bertambahnya tingkat kebijaksanaan, baik dalam bersikap dan berkata, sehingga sebagai pengikut Rasulullah SAW mampu mendukung misi beliau sebagai “rahmatan lil alamin”: Berkah bagi alam semesta.
Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam hanya beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing di negeri orang. Merantau di negeri seberang.
Tempat tujuan belajar dan merantau dapat di mana saja, yang penting harus disadari bahwa peningkatan ilmu pengetahuan harus berbanding lurus dengan peningkatan ‘keimanan’ dan perwujudan menjadi insan yang ‘ikhsan’. Allah maha benar dan maha mengetahui.
المراعاة بالأخوة الإسلامية
Dalam kerja dan bekerja, ada aspek penting masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di antara kaum muslimin.
Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan, “Dan janganlah kalian membeli barang yang sudah dibeli saudara kalian” Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di atas, tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka; saling curiga, su’udzon, berburuk sangka.
Ibadah yang tak mungkin dilakukan tanpa biaya & harta, seperti zakat, infak, shadaqah, wakaf, haji dan umrah. Sedangkan biaya tidak mungkin diperoleh tanpa proses kerja dan bekerja untuk mendapatkan rizki. Kerja dan bekerja untuk memperoleh rizki dalam rangka ibadah kepada Allah menjadi wajib. Ada Kaidah fiqhiyah yang menyatakan.
مَالاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Hakikatnya setiap Muslim diminta untuk bekerja meskipun hasil pekerjaanya belum dapat dimanfaatkan satupun makhluk Allah, termasuk hewan. Kita orang wajib bekerja karena bekerja merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri beribadah kepada Allah. Disebutkan dalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Anas,
إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَفِى يَدِ أحَدِكُمْ فَسِيْلَةً فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ تَقُوْمَ حَتىَّ يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Apabila hari kiamat telah datang dan pada tangan seseorang di antara kamu ada biji untuk ditanam, maka jika ia bisa menanam, tanamlah sebelum datang hari kiamat” (HR. Bukhari,, Adab al-mufrod 479).
Dalam banyak firman-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memotivasi manusia agar senantiasa bekerja dalam kehidupannya,
(وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا) [النبأ]
“Kami telah membuat waktu siang untuk mengusahakan kehidupan (bekerja).” An-Naba’: 11.
(وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ )[الأعراف]
“Kami telah menjadikan untukmu semua di dalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan (bekerja). Tetapi sedikit sekali di antaramu yang bersyukur.” l’raf: 10.
(هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ) [الملك: 15]
“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Al-Mulk: 15.
Bekerja merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menjadi kewajiban setiap manusia, semenjak masa Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Daud Alaihissalam tidak makan melainkan dari hasil jerih payah kerja tangan beliau sendiri, Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah seorang pedagang.
Beliau juga pernah bersabda,
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ .
“Tidak seorang Rasul pun diutus Allah kecuali ia bekerja sebagai penggembala domba. Para sahabat bertanya, “bagaimana dengan dirimu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Ya, saya dulu mengembala domba untuk penduduk Makkah.” HR. Bukhari, 8/21.
Dalam Islam bekerja diharapkan dapat memakmurkan bumi. Sedangkan memakmurkan bumi adalah bagian dari maqasidus syari’ah ajaran islam. Apa yang kita kerjakan seyogyanya juga untuk kemanfaatan seluruh makhluk hidup, termasuk hewan. Kita cermati Sabda Nabi SAW,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Siapakah dari kaum Muslimin yang menanam tananam atau tumbuhan lalu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, kecuali baginya sedekah,.” Muttaffaqqun ‘alaih, Bukhari, 2/5 dan Muslim,1552, 1553.
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.
Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya.
Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” HR. Bukhari, 2051 dan Muslim, 1599.
Mudah-mudahan kita semua senantiasa diberikan semangat untuk selalu kerja, bekerja keras dalam menjalani kehidupan ini, semoga kita senantiasa kerja untuk niat beribadah mencari rizki yang halal dan memanfaatkan secara benar. Insya Allah dan semoga diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan Nabi agung Muhammad Shallallahu alaihi wasallam serta keluarga dan para sahabatnya. AAmiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar