Kamis, 04 Desember 2014

Su’udzon, berprasangka negatif

Bismillahhir rahmanir rahim:
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

‘Sedusta-dustanya ucapan’ itu adalah ‘berprasangka buruk’, karena akibatnya yang fatal dapat memutuskan tali-silaturahmi sebagai jalinan hubungan yang baik dengan orang.
Su’udzon, berprasangka negatif, menyangka buruk atau menaruh curiga terhadap seseorang yang belum terbukti orang tersebut melakukan kesalahan.
Prasangka buruk disebabkan oleh kumpulan prasangka, keraguan, kekhawatiran dan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar.
Bermula dari prasangka buruk, lalu berkembang menjadi tuduhan dusta, dilanjutkan dengan upaya mencari-cari kesalahan orang lain, berakhir dengan ghibah, ditutup dengan hujatan, cercaan dan makian. Akibatnya cerai berai menjadi perselisihan dan pertengkaran yang tak berujung. Kembarannya dinamakan ‘Padu, crah, congkrah, kerengan, padudon, sulaya’.
Putusnya tali-silaturahmi akibat prasangka buruk yang dimaksudkan yang berasal dari kata “silaturahmi”, yaitu shilat atau washi, yang berarti “menyambungkan” atau “menghimpun” dan “Arrahiim” yang berarti kasih sayang.
Dalam menjalin tali-silaturahmi seyogyanya kita saling membangun komunikasi dan menjalin hubungan dengan orang yang menjadi keharusan dalam kehidupan seorang. Perhatikan Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini.
"Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara" Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits 6064 dan Muslim hadits 2563.
Bagi yang suka ‘ber-prasangka buruk’ kenalilah jikalau termasuk pemilik sifat dan akhlak buruk yang tercela dan al-Quran memperingatkan manusia agar berhati-hati tidak sampai terkena penyakit ini.
Mari kita cermati perintah-Nya untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan atau kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. QS:49 Al-Hujuraat:12.
Sebagian dari prasangka buruk itu adalah berdosa.
Orang yang bersikap ‘suuzon’ bersangka buruk juga sama dosanya seperti memakan daging saudaranya yang telah mati.
Jauhilah sifat penyakit hati ini, kerana ia juga dapat merugikannya juga.
Kembalilah ke jalan Allah سبحانه وتعالى dengan sebenar taubat dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut.
Barang siapa mempunyai sifat buruk sangka kepada sesamanya, maka ia wajib bertaubat dan beristiqfar kepada Allah سبحانه وتعالى.
Orang yang berburuk sangka adalah melakukan perbuatan jahat dan berdosa besar; Dan setiap perbuatan jahat, Allah سبحانه وتعالى akan mencampakkannya ke dalam neraka Allah.
Usahakan, dan tetapkan hati kita untuk selalu mendahulukan prasangka baik. Tinggalkan upaya
mencari-cari kesalahan orang lain. Sebaiknya kita mencari alasan-alasan positif bagi orang lain saat mereka melakukan kekeliruan. Kecuali dalam hal-hal yang telah jelas keharamannya.
Kita sebaiknya tidak punya sikap ‘suudzon’ berprasangka negatif, karena dengan suudzon, kita menutup pintu hati, tidak mau menerima dan menolak terus apa yang dikatakan saudara kita yang lain.
Bersangka baiklah ‘husnuzon’ kepada semua orang, karena berprasangka baik itu menguntungkan semua pihak dan perbuatan tersebut adalah perbuatan ‘mahmudah’ yang terpuji.
Hubungan harmonis mengharuskan seseorang membersihkan hatinya dari semua penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, hasad dan lainnya. Wajah yang berseri, senyuman yang tulus dan sikap pemaaf sangat berperan besar dalam mengharmoniskan hubungan antar sesama hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga kita orang dijauhkan dari sifat suka berprasangka buruk dan selalu dikumpulkan bersama orang-orang yang menjaga kemurniaan hati (jiwa), untuk selalu ingat kepada Allah disetiap saat, bukan yang selain itu, Aamiin.
Sebaiknya tidak berprasangka jahat kepada orang, karena ia merugikan semua pihak dan dosanya juga besar. Jika ada orang yang mempunyai sifat ini, beristiqfarlah kepada Allah سبحانه وتعالى, kerana Allah سبحانه وتعالى senantiasa menerima taubat hambanya.
.
والله أعلم بالصواب
Wallahu A’lam Bish Shawab
Allah akan memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keimanan, amal shalih, kegiatan saling menasehati agar menegakkan kebenaran kewajiban 'berdakwah' dan saling menasehati agar bersabar, sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia dan di akhirat kelak.
“Wa ‘alaihis salam wa rahmatullah wa barakaatuh"


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar