Kamis, 19 Februari 2015

Apa hikmah di balik musibah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak sekali cobaan yang melanda negeri tercinta kita Indonesia.
Adanya "drama" yang menampilkan pertentangan lembaga penegak hukum. Jika terus dibiarkan, maka akan berdampak sangat serius, bak puncak gunung es yang semakin tinggi.
Kegaduhan situasi politik hukum saat ini menunjukkan kepastian hukum kita masih bermasalah dan berdampak terhadap investor yang membutuhkan kenyamanan berinvestasi.
Kita ketahui bersama, adanya investasi sangatlah penting untuk menumbuhkan pertumbuhan ekonomi dalam stabilitas keamanan.
Dari serangkaian peristiwa ini marilah kita introspeksi diri kita masing
masing dan merenungi dengan hati yang suci.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah bersabda, ”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.
Apa hikmah di balik musibah polemik berkepanjangan yang sedang menerpa negeri kita?
Lalu mengapa Allah SWT menimpakan ujian ini kepada hamba-Nya?
Sudahkah kita mengambil hikmah dibalik semua cobaan yang terjadi?
Kasus tersebut lebih baik cepat diselesaikan, dan memang telah diselesaikan.
"Kita semua warga Indonesia, kita ingin berada di pihak yang benar dari hasil keputusan yang bijaksana.
Setelah kita ikuti sejak dari dulu sampai keluarnya keputusan yang bijaksana menurut ukuran pemimpin bangsa itu, dirasa belumlah akan ada akhir ceritanya juga.
Akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari kemelut yang sedang kita derita. Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.
Namun jika kita mau sedikit merenungkan musibah yang menimpa kita, ternyata banyak hal yang pada mulanya kita anggap sebagai musibah namun pada akhirnya menjadi sebuah berkah bagi yang mengalaminya.
Yang segera tampak adalah perbaikan sistem dan mekanisme pemberantasan korupsi. Pengelolaan institusi penegak hukum mendapat banyak masukan untuk perbaikan, tentunya perlu segera diikuti dengan perbaikan peraturan dan perundangan maupun standart operasional pelaksanaannya.
Sebagian orang lebih mudah untuk bersyukur tatkala menerima anugerah dan kenikmatan dibandingkan bersabar saat sedang diuji dengan musibah.
Maka dari itu sikap yang benar yang harus kita ungkapkan tatkala musibah sedang atau bahkan telah menimpa diri kita ialah berusaha dengan sabar dan mengambil hikmah dibalik musibah tersebut.
Kebanyakan kita orang memandang bahwa musibah sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Sesuatu yang menyedihkan dan lagi menggetamkan.
Ternyata, banyak hikmah yang bisa dipetik di balik musibah, baik bagi yang mengalaminya maupun bagi yang lain, entah itu disadari atau tidak.
Namun yang sangat disayangkan ternyata banyak juga hikmah yang kita lewatkan begitu saja.
Musibah dan anugerah adalah 2 hal yang tidak luput dari kehidupan kita sebagai manusia.
Keduanya datang silih berganti pada diri kita manusia tidak memandang tua ataupun muda.
Ketika mendapat musibah kita harus bersabar, jika mendapat anugerah kita harus menyikapinya dengan bersyukur.
Dengan bersyukur akan menambah tabungan kita untuk bekal kehidupan kelak di akhirat.
Barang siapa yang bersyukur niscaya Allah SWT akan menambah nikmat kepada kita orang, dan barang siapa yang kufur sesungguhnya azab Allah sangat pedih.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". QS:Ibrahim 7.
Drama akankah masih bertambah panjang, tidak lagi boleh diam karena akan semakin membingungkan publik pangkal solusi yang mungkin.
Bukankah sengkarut telah terobati dan tidak lagi tambah kalut?
Keputusan yang bijaksana telah dikeluakan. “Bijaksana” yang ada adalah merupakan keputusan pemimpin kita.
Padahal kita tahu yang mempunyai nilai tertinggi bukan pemimpin itu.
Namun demikian yang di Wisdom Devine in Origin bersifat Universal dan Kudus. Sebagai finalnya yang di turunkan adalah Prinsip Yang Tertinggi, yaitu sebagai Supreme Principle atau Sang Pencipta yaitu Allah SWT seperti yang telah difirmankan.
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". QS:Al-Baqarah 32.
Fungsi ’keputusan yang bijaksana’, karena akan diperoleh inti kajian yang sebenarnya sebagai organisme spiritual yang memberikan kepada manusia petunjuk dan tuntunan terus-menerus ke arah pengetahuan kembali, yaitu mengajak insan untuk selalu ingat kepada Allah SWT.
فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS:Al-Baqarah 209.
Sebagaimana dituturkan, bahwa kalau seandainya tidak ada ujian kegaduhan politik ini, maka tidak akan tampak keutamaan sabar pelakunya dan penduduk negeri ini. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.
Anas, meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”
Apabila kita orang sebagai hamba-Nya bersabar dan iman kita tetap tegar maka akan ditulis nama kita dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka kita akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka kita akan ditulis nama kita bersama-sama orang yang bersyukur.
Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada kita orang sebagai hamba-Nya maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.
Rasulullah bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”
Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman.
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ
Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa. QS:Fushshilat 51.
Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita.
Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ayyub yang berdoa,
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". QS:Al-Anbiyaa 83.
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah maupun ujian yang menyebabkan kita orang sebagai hamba-Nya menjadi istiqamah dalam agama, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.
Amat banyak kita sebagai hamba-Nya yang setelah di timpa sakit kita baru mau memulai bertanya persoalan agama, mulai mengerjakan shalat dan berbuat kebaikan, yang kesemua itu tak pernah kita orang lakukan sebelum mendapat cobaan.
Maka segala cobaan yang dapat memunculkan ketaatan-ketaatan pada hakekatnya merupakan kenikmatan bagi kita yang sesungguhnya.
Hendaknya kita orang sebagai hamba-Nya bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun kita sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah dari kita, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi.
Hendaknya kita melihat musibah yang sedang kita terima dengan keridhaan dan kesabaran serta berserah diri kepada Allah Dzat yang telah mentakdirkan musibah itu untuknya sebagai ujian atas keimanan dan kesabaran kita.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat.” (Al-Jawabul Kafi hal. 118)
Marilah kita orang kembali kepada Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita ataukah termasuk mereka 'wal’iyadzubillah' yang sedang disiksa dan dimurkai oleh Allah karena kita orang tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-Nya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar