Minggu, 15 Februari 2015

Dalan gawat becik disimpangi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Dalan gawat becik disimpangi”, Jalan berbahaya lebih baik dihindari. Dengan perkataan lain, dalam masyarakat lebih baik kita mencari persaudaraan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan kerusuhan.
Jalan berbahaya lebih baik dihindari, sebagai bintang penuntun ke arah
kehidupan bermasyarakat yang penuh perdamaian dan ketenangan. Karena masing-masing pihak yang terlibat selalu menghindari jalan yang berbahaya atau hal-hal yang dapat menimbulkan pertentangan, supaya dalam kehidupan dapat diminimalisir permusuhan dan sikap saling menjatuhkan.
Saat ini kita orang bagai menunggu sesuatu yang secara hukum tidak tepat. Apakah mungkin kita perlu memberikan waktu terhadap sesuatu yang keliru? Mestinya masihkah ada jalan lain menuju ke roma?
Sudah alamiah, bahwa kita sebagai manusia itu sesungguhnya dalam mengambil tindakan atau keputusan ditakdirkan untuk biasa TERGESA-GESA. Inilah kelemahan kita orang sebagai manusia yang lemah, sukanya mengambil keputusan secara tergesa-gesa.
Lebih baiklah bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa atau terburu-buru dari pada merugikan orang dan banyak pihak. Dikarenakan kita orang memiliki sifat tergesa-gesa itu akan lebih baik, jika keputusan diambil sebijaksana mungkin, agar lebih ditegakkan kepentingan orang banyak dan berbagai pihak. Ketergesaan sifat kita manusia telah difirmankan Allah dalam Al-Israa' berikut ini.
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
"Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa". QS:Al-Israa' 11.
Padahal, perlu diketahui ‘KEBIJAKAN’ sebagai kata benda abstrak, berati ‘keputusan’ .
Sedangkan kebijaksanaan " berasal dari kata Bijak-sanak artinya keputusan yang diambil atas dasar kekeluargaan (sanak/sedulur ) kemudian kata tersebut di dipermudah pengucapannya menjadi "bijaksana" huruf "K" diabaikan, pada kata "kebijaksanaan" terdapat penambahan ke- dan an.
Bijaksana itu mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Apabila kita orang menginginkan putusan yang terbaik, biasanya menghindari jalan yang berbahaya. Baginya lebih baik menempuh jarak yang lebih jauh tetapi aman, daripada menempuh jarak yang pendek tetapi berbahaya.
Drama akan bertambah panjang, tidak lagi boleh diam karena akan semakin membingungkan publik pangkal solusi yang mungkin.
Akankah sengkarut semakin tambah kalut?
“Bijaksana” yang diperlukan adalah merupakan keputusan pemimpin kita. Padahal yang mempunyai nilai tertinggi bukan pemimpin itu. Namun demikian yang di Wisdom Devine in Origin bersifat Universal dan Kudus. Sebagai finalnya yang di turunkan adalah Prinsip Yang Tertinggi, yaitu sebagai Supreme Principle atau Sang Pencipta yaitu Allah SWT seperti yang telah difirmankan.
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". QS:Al-Baqarah 32.
Fungsi ’keputusan yang bijaksana’, karena akan diperoleh inti kajian yang sebenarnya sebagai organisme spiritual yang memberikan kepada manusia petunjuk dan tuntunan terus-menerus ke arah pengetahuan kembali, yaitu mengajak insan untuk selalu ingat kepada Allah SWT.
فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
‘Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS:Al-Baqarah 209.
Padahal, perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif yang telah sangat akut dalam perilaku masyarakat kita dewasa ini. Sehingga bagi sebagian orang yang lemah jiwanya dan ‘murah’ harga dirinya, perbuatan curang telah menjadi kebiasaan yang seolah bukan lagi dianggap perbuatan dosa.
Hampir dalam semua bentuk interaksi yang dilakukan oleh kita orang dengan orang lain, selalu saja dibumbui dengan kecurangan, kebohongan dan khianat. Padahal, jangankan agama, seluruh manusia yang lurus fitrahnya pun, mengatakan bahwa perbuatan itu jelas buruk dan tidak terpuji.
Perbuatan yang curang demikian mendapat ancaman keras dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ma’qil bin Yasar al Muzani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من عبد يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة
“Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati dalam keadaan berbuat curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah akan mengharamkan atasnya surga.” (HR Muslim)
Menurut perhitungannya, jarak jauh memang menuntut beaya yang lebih besar, tetapi keselamatan jauh lebih penting daripada uang.
Akankah didiamkan saja polemik yang terjadi, karena akan menjadikan sengkarut semakin kalut.
Apapun yang terjadi pasti diputuskan yang bijaksana, dan kita hadapi konsekuensinya. Apabila ada kekeliruan hanya akan membuat kita berpikir di saat korban dan kelambatan pengambilan keputusannya berjatuhan.
Itu berarti, bahwa dalam pergaulan lebih baik kita berani mengalah daripada kita suka mencari-cari kemenangan dengan akibat terjadinya permusuhan di antara kita dengan pihak lain.
Kalau sampai sikap kita yang tidak mau mengalah itu menimbulkan permusuhan, berarti kita sendiri mendapat kerugian besar.
“Wani Ngalah Dhuwur Wekasane”, yang berarti “Barang siapa berani mengalah pada akhirnya akan mendapat kemenangan”
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar