Jumat, 05 Agustus 2016

Falsafah hidup madya memang masih jarang kita bicarakan.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Falsafah hidup madya memang masih jarang kita bicarakan.

Falsafah ini belum banyak disorot, kendati telah lekat dan mewarnai kehidupan spiritual kita.

Falsafah madya itu lahir dari etika moral yang tidak ingin di-'wah' atau disanjung-sanjung.

Lebih suka hidup sa'madya, artinya hidup dalam ukuran cukup.

Kondisi cukup adalah tidak kaya-tidak miskin, tak berlebihan tapi juga tak kurang sekali.

Cukup, bukanlah pas-pasan, tapi tenteram.

Cukuplah, apabila jiwa kita merasa tentram kepada Allah Ta’ala, tenang dengan mengingat-Nya, dan bertaubat kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, dan menghibur diri dengan dekat kepada-Nya, maka itulah nafsu muthma’innah (jiwa yang tenang). Itulah jiwa yang dikatakan kepada kita tatkala wafat (meninggal dunia),

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ, ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي. وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku". QS; al-Fajr: 27-30.

Ketika kita menafsirkan firman Allah Ta’ala, berikut ini.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّة

“Wahai jiwa yang tenang.” QS: al-Fajr: 27.

Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu: “Wahai jiwa yang membenarkan.”

Qatadah berkata, “Ia adalah jiwa yang beriman, jiwanya tenang kepada apa-apa yang dijanjikan Allah Tabaroka Wata’ala.”

al-Hasan berkata, “Jiwanya tenang dengan apa-apa yang difirmankan Allah Tabaroka Wata’ala dan membenarkan dengan apa-apa yang difirmankan-Nya.”

Mujahid berkata, “Ia adalah jiwa yang kembali tunduk, ia adalah jiwa yang yakin bahwasanya Allah adalah Rabbnya, ia merasa tenang dengan perintah-Nya dan dengan mentaati-Nya, serta dia yakin akan perjumpaan dengan-Nya.” (ad-Durrul Mantsur, 8/513-514)

Beriman kepada Allah Ta’ala, itu ialah kita wajib mempunyai I’tikad dan keyakinan, bahwa
sesungguhnya Allah Ta’ala itu wajib bersifat semua sifat-Nya adalah kesempurnaan, ke-Agungan dan ke-Muliaan.

Sehingga dengan begitu sifat Allah :

Wajib Wujud (Ada) mustahil Adam (Tidak ada).Tidak ada yang lain, kecuali hanya Allah itu sendiri.

Dalil Naqlinya:

اللة الذى خلق السمؤا ت ؤالارض

"Allahul ladzii khalaqas-samaawaati wal-ardla” Allah itu menciptakan langit dan bumi.

"Allah itu bersifat qidam (dahulu), dalilnya“

هؤالاؤل ؤالاجر

"Huwall awwalu wal aakhiru” Allah itu Maha Awal (awwal) dan Maha Akhir.
Allah Ta’ala itu wajib Baqa (kekal), mustahil fana (rusak) tidak seperti mahluk, dalil naqlinya :

كل شيىى هالك الاؤجهه

"ulu Syai-in haalikun illa waj-hahuu” =Segala Sesuatu itu rusak, kecuali Dzat Allah.
Kekalnya dzat Allah Ta’ala, difirmankan pada Surat Ar-Rahman:

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. QS:Ar-Rahmaan: 27

Allah Ta’ala itu wajib mukhalafah lil-hawadits (Berbeda dengan barang yang baru atau semua mahluk)

Dalil naqlinya :

لس كمثلة ثيء

"Laisa kamitslihi syai-un" yang berarti “Tidak ada sesuatu apapun yang seperti Allah itu”

Allah wajib Wahdaniyah (Esa) dan mustahilt- Ta’addud (terbilang jumlahnya), Jadi Allah Ta’ala itu Maha Esa dalam Dzat-Nya, Sifat-sifatnya, maupun f’al-Nya,

Dalil naqlinya;

لؤكان فحيماالهة الاالله لفسدتا

"Lau kaana fihimaa alihatuila laahu, lafasadataa", artinya jika dibumi dan langit, (yakni di alam semesta ini), bila ada Tuhan selain Allah Ta’ala, keduanya langit dan bumi akan hancur.

AllahTa’ala itu Esa. (Wa ilaahukum ilahun waahidun) ke-Esaan Allah Ta’ala itu digambarkan dalam untaian asma’ul Husna,

Firman Allah SWT dalam surat, QS: Al-Hasyir ayat 23:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang

Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang

Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. QS:Al-Hasyr: 23.

Allah Ta’ala wajib qudrah (Kuasa) mustahil ajz (lemah), ialah kuasa menciptakan segala sesuatu, memelihara dan menjaga segala yang dijadikan-Nya.

Dalil naqlinya:

ان ا للة عل
كل ثيء قدير

lnnaLaaha’ala kulli syaiin qadiir

"Sesungguhnya Allah itu Kuasa atas segala sesuatu".

Allah itu Iradah (berkehendak) mustahil karahah (terpaksa), jadi segala sesuatu kejadian di alam semesta itu adanya Qadla/Qadar Allah Ta’ala.

Tentang dalil aqli-Nya Allah berfirman :

ؤربك يحلق مايثا ءؤيحتار

"Wa Rabbukayayaa- Yakhluqu maa yasyaa-u wa yakhtaaru"
dan Tuhanmu itu menjadikan apa-apa saja yang dikehendaki dan dipilih oleh-Nya.

Sebagaimana Allah Ta’ala, maha pencipta, dalam Firman-Nya : Qs.Al-Mukminun: (23) ayat 14.

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu

Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. QS:Al-Mu'minuun:14

Firman Allah dalam Surat At-Tin Qs.95, (4-6).

لقد خلقناالاءنسان في احسن ثقؤيم 4 ثم رددنه اسفل سافلين5 الاالذين امنؤا ؤعملؤا اصلحث فلهم اجر غير ممنؤن

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (surat At-Tin 4-6).

Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga bisa mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi kemungkaran serta mengajarkannya kepada orang lain.

Wallahu a'lam bishshawab,

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh,



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar