Jumat, 05 Agustus 2016

Tidak ada gunanya mengeluh, apalagi mengeluh di sosial media.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba'du,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada gunanya mengeluh, apalagi mengeluh di sosial media.

Mengeluhlah kepada Allah.

Jauhilah sifat malas dan banyak mengeluh.

Sesungguhnya, kedua sifat itu merupakan kunci dari segala keburukan.

Apabila kitanya malas, niscaya kita tidak akan mampu menunaikan kewajiban.

Apabila kitanya banyak mengeluh, niscaya kita-pun tidak akan sabar dalam menunaikan kewajiban.

Tingkatkan rasa syukur kita, agar kita fokus kepada nikmat dan kebaikan, bukan kepada hal yang negatif.

Kemudian, ambil tanggung jawab untuk mengubah kondisi yang tidak menyenangkan itu.

Mengeluh itu tidak ada gunanya, mengeluh hanya memperparah keadaan dan cobaan dan beban yang ditanggung. Dan, mengeluh bisa mengundang sifat jelek lainnya.

Kini, mengeluh sudah menjadi kebiasaan, bahkan diumumkan melalui media sosial sehingga semua teman dan saudara kita menjadi mengetahuinya.

Jika kita mengeluh, kemudian dikatakan dan juga ditulis di sosial media, kita menyebarkan sikap yang negatif.

Juga sebaliknya, kita pun akan mudah terpengaruh oleh sikap negatif jika teman-teman kita banyak yang menjadi pengeluh.

Lebih baik kita bersyukur agar kesusahan kita hilang. Bukankah dengan bersyukur nikmat akan ditambah?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman 
dalam QS An-nahl : 18, artinya :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS:An-Nahl : 18

Syukur akan memperbaiki ruhiyah kita, agar tidak kufur nikmat dan Allah menambah nikmat lagi.

Syukur sebagai ikhtiar kita, ambil tanggung jawab.

Mengambil tanggung jawab dari kondisi yang tidak kita inginkan jauh lebih baik dibandingkan hanya dengan mengeluhkannya.

Ambil tanggung jawab, karena semua yang terjadi adalah tanggung jawab kita.

Kita orang bertanggung jawab untuk mengubahnya senyampang memohon pertolongan pada Allah SWT.

Perlu kita perhatikan Firman Allah SWT berikut dalam surat. Ar Ra’d: 11.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila 

Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. QS:Ar-Ra'd: 11

Apabila kita tidak menyukai kondisi saat ini, maka sebaiknya ambil tanggung jawab untuk mengubahnya.

Bukan dengan mengeluhkannya, tetapi dapat kita lakukan dengan cara-cara.

Berdo’a. Minta petunjuk Allah SWT agar kita bisa keluar dari kondisi yang tidak menyenangkan.
Perbanyak istighfar, renungi kesalahan dan dosa serta mohon ampun kepada Allah SWT.

Tenangkan diri. Terkadang kita sulit berpikir dengan jernih jika perasaan kita diisi dengan perasaan negatif.

Hentikan mengeluh, karena mengeluh menambah perasaan negatif.

Belajar menambah wawasan, salah satunya belajar cara mengatasi masalah.

In syaa Allah, kita akan menemukan cara untuk keluar dari kondisi yang sulit dan membebanii.

Jika belum, teruslah berusaha untuk mencari jalan keluar.

Tapi yakinlah kita pasti bisa, karena Allah tidak akan membebani di luar kesanggupan kita.

Sebaiknya kita mengeluh hanya kepada Allah. Mudah-mudahan Allah segera mengubah kondisi kita.

Sebaiknya keluhan kita tidak berisi menyalahkan Allah dan berburuk sangka kepada Allah SWT.

Dikarenakan “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih).

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnu zhon pada Allah” (HR. Muslim).

Dalam kondisi tertekan tersebut Rasulullah SAW. mengeluh dan mengaduh hanya kepada Allah SWT tatkala kaumnya telah meninggalkan jauh al-Quran, seperti yang terkandung dalam surat Al-Furqon: 30 berikut.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". QS:Al-Furqaan: 30.

Begitu pula dengan Nabi Ya’qub dan Nabi Ayub hanyalah kepada Allah beliau mengadukan kesusahan dan kesedihannya, sebagaimana firman Allah dimana Nabi Ya’qup berkata, yang artinya: 

“Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah,“ (QS. Yusuf : 86).

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya´qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya". QS:Yusuf: 86.

Demikian juga Nabi Ayyub a.s. yang disebutkan Allah dalam firman-Nya, saat ditimpa penyakit dalam surat Al-Anbiyaa’: 83.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". QS:Al-Anbiyaa: 83.

Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga bisa mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi kemungkaran serta mengajarkannya kepada orang lain.

Wallahu a'lam bishshawab,

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar