Minggu, 12 Oktober 2014

Wastra Lungset ing Sampiran

Assalamualaikum Wr. Wb,
"Tidak ada gunanya, sebenarnya mempunyai kepandaian tetapi sama sekali tidak memanfaatkan kepandaiannya apalagi mengamalkannya"
Tak 'kan ada orang yang hidup bahagia tanpa masyarakat, dan semua orang pasti sudah mendapat banyak jasa dari masyarakat. Untuk itu, kita harus berbuat kebaikan bagi masyarakat, dan ternyata kita tidak bisa hidup sendiri 'homo sapien'. Patut kiranya kita yang telah diberi ilmu hendaknya banyak berbuat baik dengan kepandaian yang telah diberikan. Laku hidup terbaik sebagai langkahnya, kita perlu lebih patuh pada inti ajaran yang telah tersirat dalam firman berikut di Qs:12.Yusuf : 22.
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
"Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik".
Manusia, kita khususnya sebagai mahluk 'Homo Sapiens Economicus' yang pada dasarnya egoistik. Dalam rangka memberi ilmu, menolong, masih berdasarkan perhitungan untung atau rugi, adanya imbalan dan pahala yang berekses menjadikan tidak ikhlas tak barokah perbuatanya. Padahal, datangnya rejeki kita itu sebenarnya telah pula diatur-Nya dengan jatah dan waktunya secara adil dan bijaksana.
Karena itu, melanggar peraturan perundang-undangan yang lebih menguntungkan daripada mematuhinya merupakan insentif untuk bertindak melawan peraturan dan perundangan alias penyalahgunaan wewenang dan kolusi, korupsi serta adanya tindak nepotisme yang semakin membara membabi buta, bukanlah sebagai amalan dengan ilmu kepandaian yang tulus ikhlas.
Padahal, sebanyak apapun ilmu kita berikan, kita curahkan, kita ajarkan, atau kita amalkan kemanfaatannya berekses akan mendapat ganti berlipat karena sesungguhnya ilmu-Nya seluas samudera 'apengawak segoro' dan tiada habisnya. Mari kita cermati dan simak lebih lanjut firman Allah berikut dalam QS:3.Ali-'Imran : 22.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
"Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong".
Siapakah sumber segala sesuatu yang baik bagi kita manusia? Siapakah yang mampu mmenolong manusia? Adanya kekayaan, pangkat, kekuasaan, kepandaian sesungguhnya tak lain adalah pemberian dari Yang Maha Kuasa semata. Karena itu, apabila kita mendapatkan anugerah-Nya wajib bersyukur, dan harus disertai dengan perbuatan yang dikehendaki dan diridhoi untuk kemuliaan-Nya dan untuk sesama manusia berdasar kasih sayang berikut keramahan terhadap lingkungan abiotik, biotik, serta cultural.
Berlakunya hukum keseimbangan lingkungan 'equilibrium' dan adanya hubungan timbal balik sinergis secara alamiah, yang semuanya ekses dari perbuatan amal ibadah dengan pendalaman ilmu yang dianugerahkan sebenarnya telah tersirat jelas dalam firman-Nya di QS:3.Ali-'Imran : 57.
وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
"Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim".
Dalam keadaan yang sedemikian itu ungkapan "Wastra Lungset ing Sampiran" ilmu yang tidak diamalkan itu berperan sebagai penyadar atau pengingat, sehingga kita yang bersangkutan menjadi sadar ingat akan tugas, amanah yang diembannya, yaitu berbuat amal sebanyak-banyaknya dengan ilmu dan kepandaian yang dimilikinya. Semoga Indonesia semakin bersatu jaya sentosa dan sejahtera, karena dipenuhi amalan ilmu yang bermanfaat dan do'a kita. Amien3x.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar