Kamis, 11 September 2014

Sakit sudah merupakan sunnatullah dalam kehidupan makhluk-Nya.

Assalamu'alaikum Wr Wb,
ما أصاب من مصيبة إلا بإذن الله ومن يؤمن بالله يهد قلبه والله بكل شيء عليم
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)
Kalau Allah menghendaki hamba-Nya sakit, maka sakitlah hamba itu. Karena sakit sudah merupakan sunnatullah dalam kehidupan makhluk-Nya.
"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. "(QS Al-Anbiya ': 35).
"Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapus setiap dosa darinya". (HR. Al-Hakim 348).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam al-Quran, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". "(QS. Al-Baqarah: 155-156).
Rasulullah SAW bersabda, "Bencana itu akan selalu menghiasi hidup seorang mu'min atau mu'minah, pada jasad, harta dan anaknya sehingga ia bertemu dengan Allah dan dirinya tidak dikotori dosa sedikitpun." (HR Ahmad). Mohon ampun dan bertobat merupakan syarat mutlak, pertebal keimanan dan menambah ibadah sunnah bila yang wajib sudah dikerjakan!
Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan mengujinya. Dan barangsiapa yang rela, maka ia mendapatkan ridha-Nya. Dan barang siapa yang marah, maka ia akan mendapatkan murka-Nya. "(HR Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).
Ketika kita sedang diberi sakit (kena musibah), bukan berarti karena kehinaan di hadapan Allah, namun sebaliknya, justru kita dimuliakan dihadapan-Nya. Melalui sakit (musibah) itu, Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita.
Untuk itu, semakin sadar bahwa usia bertambah, apabila ada kesadaran yang semakin dewasa dan bijaksana orang itu.
Tatkala seseorang yang Allah berikan tes sakit agar ridha terhadap takdir yang Allah putuskan dan bersabar serta berbaik sangka kepada Allah SWT atas sakit yang menimpanya.
Diriwayatkan dari Sahabat Syuhaib, bersabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, "Mengherankan hal seorang mukmin, segala apa yang ada padanya mendatangkan kebaikan. Hal ini tidak akan ada kecuali bagi seorang yang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka ini yang terbaik untuknya . Jika ditimpa sesuatu petaka itu sabar. Ini yang terbaik baginya ". (HR.Muslim).
Bagaimana sabar menghadapi cobaan harus lebih mendekatkan diri pada yang memberi sakit, berdo'a dan mohon ampun segala kesalahan, demikian juga mohon maaf pada manusia yang pernah tersakiti.
Sakit (musibah) tidak akan datang kepada seorang hamba sebagai cobaan, kecuali dengan takdir Allah.
Sakit adalah suatu tes yang tidak perlu untuk ditakuti melainkan kita senantiasa berikhtiar dan bersabar untuk menyembuhkannya. Agar apa yang tes itu berbuah pahala bukan sebaliknya menambah dosa !.
Ketika turun firman Allah, yang artinya, "(pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu (366) yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan ahli kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu. Dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah ", (Qs. An-Nisa ': 123).
Ketika jelas medis penyakitnya, maka langsung obati dengan cara medis, tak perlu alternatif karena akan habis waktu dan biaya.
Cepatlah berobat, cepatlah sembuh dari sakit karena sakit adalah Ujian Allah SWT. Jarang ada sakit dapat sembuh dengan sendirinya tanpa berobat dan berikhtiar. "Berobatlah kalian. Karena setiap Allah menciptakan penyakit, pasti Allah juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit saja. "Para sahabat bertanya," penyakit apakah itu wahai Rasulullah? "Beliau menjawab," Penyakit tua?!. "(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) ..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar